4 Cara Mudah Melatih Rasa Tanggung Jawab Pada Anak

Suatu hari seorang teman bercerita bahwa dia telah dibuat jengkel oleh anaknya yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Dia minta dibuatkan baling-baling dari plastik mika dan diberi gagang bilah bambu.

Betapa tidak jengkel, karena tugas dari gurunya itu baru disampaikan malam hari menjelang tidur malam. Dengan terpaksa teman saya tadi harus mencarikan bilah bambu dan bahan lainnya sekaligus membantu membuatkan baling-baling tersebut.

Teman lain juga menceritakan kejadian yang serupa. Anaknya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) minta dicarikan  bunga kelapa. Bu guru rupanya memberikan tugas itu secara lisan tanpa menggunakan buku catatan atau buku penghubung.

Wajar jika teman itu merasa dongkol,  karena si anak baru menyampaikan hal itu malam harinya dan terus menangis minta dicarikan. Padahal  untuk memperoleh bunga kelapa itu sangat sulit. Apalagi pencarian itu dilakukan di malam hari. Terpaksa teman saya harus menyusuri parit demi menemukan sebutir bunga kelapa.

Barangkali di antara kita ada yang mempunyai pengalaman serupa. Anak-anak kita meminta mencari sesuatu yang merupakan tugas guru secara dadakan pada malam hari atau bahkan pagi menjelang berangkat sekolah.

Ini sangat menjengkelkan, karena terpaksa orang tua dibuat kelabakan oleh tugas tersebut. Hingga kadang mengacaukan jadwal atau acara yang sudah direncanakan.

Di kebiasaan sehari-hari, mungkin dijumpai pula berbagai kebiasaan anak yang kurang baik. Sepulang sekolah anak meletakkan sepatu dan tasnya sembarangan. Atau si anak belum berganti pakaian sepulang sekolah, terus ngeloyor pergi bermain dengan teman-temannya. Dan lain-lain contoh kebiasaan anak yang kurang baik.

Sikap bertanggung-jawab memang tidak serta merta dimiliki oleh seseorang. Namun karakter itu harus dibentuk dan dilatih sejak dini. Pembentukan sikap  bertanggung-jawab seseorang harus dimulai sejak usia dini, agar kelak ketika dewasa, mereka bertumbuh menjadi manusia dewasa yang bertanggung-jawab. Orang tua perlu sekali memulai menanamkan sikap  bertanggung-jawab kepada anaknya mulai dari hal yang kecil-kecil.

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh orang tua untuk melatih anak kita agar dia memiliki sikap bertanggung-jawab. 

Pertama, cobalah beri anak-anak kita suatu tugas ringan sesuai kemampuannya. Tugas yang kita berikan kepada anak harus disesuaikan dengan kemampuan fisik dan daya pikirnya.

Misal, anak berusia 6 tahun, berilah tugas menyapu lantai atau halaman, memberi makan kucing piaraannya, atau menata sepatu di rak. Bangun rutinitas kegiatan itu untuk membangun sikap bertanggung-jawabnya.

Kedua, biasakan anak kita untuk memberikan laporan atas tugas yang kita berikan. Seringkali kita tidak menerima laporan atau tidak menanyakan kepada anak apakah perintah atau tugas kita sudah dilaksanakan. 

Ini penting, karena dengan laporan itu kita akan mengetahui sudah atau belum perintah kita dilaksanakan dan bahkan mungkin mengetahui bagaimana hasilnya.

Ketiga, ujilah anak tentang sesuatu yang menjadi tanggung-jawabnya. Menguji tanggung-jawabnya bisa menggunakan pertanyaan atau  kalimat lain yang berkaitan dengan tugasnya.

Misal, tanyakanlah apakah dia sudah memberi makan kucingnya, atau sudah rapikah tempat sepatunya, atau pertanyaan lain. Dengan demikian, secara tidak langsung kita telah mengingatkan akan tanggung-jawabnya.

Keempat, berikanlah jadwal tugas yang jelas yang dibuat secara bersama. Jika jadwal dan ketentuan itu dibuat bersama, ini akan lebih baik. Di sana terdapat ketentuan yang disepakati bersama dan bahkan tercantum pula apa sanksi dan penghargaan bagi si anak jika melanggar ataupun melaksanakannya. Berikan aturan itu secara jelas dan lakukan secara konsekuen, agar anak kita belajar bertanggung-jawab.

Jangan lupa fasilitasi semua kebutuhan untuk menjalankan tugas mereka secara lengkap, agar semua tugasnya dapat dilaksanakan dengan baik. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah rutinitasnya. Kontiunitas dalam pelaksanaan dan pengujian harus benar-benar berjalan. Dengan begitu anak akan terus mengingat segala beban tugasnya dan melaksanakannya secara disiplin dan penuh tanggung jawab.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: