4 Kesalahan Ketika Membawakan Bekal Sekolah Anak

Membawakan anak sekotak makanan untuk disantap saat jam istirahat sekolah bisa menjadi ritual yang menyenangkan bagi anak. Selain bertujuan untuk menghemat pengeluaran, membawakan bekal sekolah anak juga mengontrol kemungkinan anak untuk membeli camilan  yang belum terjamin kesehatan dan kebersihannya.

Kadang Anda mungkin pernah mendapati nasi, lauk, atau bahkan sayur dalam kotak makan siang anak yang masih tersisa banyak. Nah, jangan langsung memarahi anak, karena mungkin ada yang kurang tepat dalam sajian makan siang yang Anda berikan.

Kebiasaan tidak menghabiskan bekal sekali atau dua kali masih tidak masalah. Namun, bagaimana kalau kebiasaan ini ternyata sering kali dilakukan anak? Sebelum memarahinya karena hal ini, coba ingat-ingat dulu. Barangkali, beberapa hal ini pernah Anda lakukan saat membawakan bekal sekolah anak.

1. Porsi bekal terlalu banyak

Niatnya orangtua ingin memastikan anak kenyang agar lebih fokus saat belajar di sekolah. Di sisi lain, karena jam istirahat terlalu singkat, terlalu asyik mengobrol atau bermain dengan teman-temannya, atau sudah kenyang kadang membuat anak enggan menghabiskan seluruh bekal makan siangnya.

Kalau hal ini terjadi hampir setiap hari, sebaiknya kurangi takaran porsi bekal sekolah anak lalu sesuaikan dengan seberapa banyak porsi makan siang yang biasanya dapat dihabiskan.

Untuk lebih memastikannya, Anda bisa menanyakan apakah porsi yang Anda berikan sudah cukup atau belum sembari sedikit mengingatkan, “Adik, porsi bekalnya sudah Ibu kurangi, jangan sampai  nggak habis lagi, ya!”

2. Kurang menyeimbangkan sumber makanan

Toby Amidor, MS, RD, seorang ahli gizi sekaligus penulis buku The Healthy Meal Prep Cookbook, menyatakan bahwa satu dari beragam kesalahan orangtua saat mebawakan anak bekal makan siang yakni memperbanyak porsi di salah satu sumber makanan saja.

Ambil contoh, dengan alasan agar anak kenyang maka Anda menambahkan sumber karbohidrat seperti kentang dan nasi; ataupun sumber protein dari buah dan sayur terkadang Anda lebihkan guna memenuhi asupan serat harian anak.

Sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, anak mungkin sudah keburu bosan dan berpikir “Kayaknya sudah dimakan dari tadi, tapi kenapa nggak habis-habis, sih?” Hal inilah yang akhirnya membuat anak memilih untuk tidak menghabiskan beberapa suapan terakhirnya.

3. Menu makan yang itu-itu saja

Melihat teman-temannya dibekali dengan makanan yang berbeda setiap hari, biasanya akan membuat anak jadi minder karena membawa jenis makanan yang tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Padahal mungkin menurut Anda tidak ada yang salah dengan memberikan nasi putih, telur dadar, dan sayur kangkung sebagai bekal sekolah anak kemarin. Dilanjutkan dengan membekalkan nasi putih, telur orak-arik, dan sayur bayam untuk keesokan harinya. Bagi Anda sekilas tampak berbeda, tapi tidak untuk anak.

Secara tidak langsung, membawakan bekal sekolah anak sebenarnya mengasah kreativitas Anda. Ya, karena setiap harinya Anda dituntut untuk berpikir harus menyajikan menu apa yang bisa membangkitkan selera dan nafsu makan anak.

Solusinya jika memang ingin memberikan jenis lauk atau sayur yang sama, sebaiknya selingkan dalam beberapa hari dan ubah cara memasaknya. Misalnya bila hari ini menunya adalah ayam goreng maka dua hari kemudian ganti dengan memberikan anak sup ayam.

4. Tidak melibatkan anak

Pilihan anak untuk tidak menghabiskan sebagian bekal yang telah Anda siapkan bukan selalu karena ia tidak suka. Ketidaktahuan anak mengenai menu makanan yang tersedia di hadapannya kadang jadi faktor lain mengapa Anda masih saja menemukan sisa makanan dalam kotak bekalnya.

Sekarang perhatikan, sudahkah anak tahu jenis makanan apa saja yang dimakannya setiap hari? Jika belum, jadikan ini sebagai ajang mengenalkan anak dengan berbagai lauk, sayur, dan buah.

Anda bisa mengajak anak berbelanja untuk memilih menu bekal sekolah beberapa hari ke depan, lalu libatkan anak memasak bersama di dapur. Langkah ini pun bermanfaat baik untuk mengajarkan berbagai nutrisi sehat yang penting untuk proses tumbuh kembang tubuhnya.

Beri penjelasan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan cara yang menyenangkan, sehingga bisa membangkitkan semangat anak agar mau mencoba berbagai macam makanan.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: