Generasi home service adalah generasi yang memiliki kebiasaan kurang baik, yaitu untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya, mereka akan selalu minta dilayani. Hal ini terjadi pada anak-anak yang selama masa kecilnya sudah terbiasa untuk selalu dilayani oleh orang tuanya atau oleh orang yang diberikan amanah untuk menjaganya, seperti Asisten Rumah Tangga (ART) atau baby sitter yang 24 jam  selalu berada di samping sang anak untuk memenuhi kebutuhannya.

Meminta bantuaan kepada ART atau baby sitter bukanlah suatu hal yang keliru, melainkan akan menjadi keliru apabila orang tua terlalu mengandalkan mereka dalam menjaga anak tanpa mengontrolnya sendiri. Dalam  metode parenting, orang tua tidak boleh terlalu membiasakan anak mendapatkan yang diinginkan dengan mudah. Anak dilatih untuk terbiasa berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu sebab itu akan  membuat mereka kelak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Bagaimana Parenting Mengajarkan Anak agar Mereka Tumbuh Menjadi Anak yang Mandiri dan Jauh dari Generasi Home Service?

1. Biasakan Anak Tumbuh dengan Tantangan

Mengutip dari perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan.” Permasalahannya ialah tak semua orang tua terbiasa memberikan ‘hadiah cantik’ itu kepada anaknya. Dapat dilihat bahwa saat ini begitu banyak orang tua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan justru memberikan tantangan kepada anaknya sebagai cara untuk mendidik mereka.

Memberikan tantangan kepada anak dapat membuatnya mandiri. Sebagai contoh nyata, ketika anak  memakai kaus kaki dan sepatu. Seringkali orang tua tidak sabar melihat si anak mencoba memakai sepatunya sendiri dengan perlahan. Seketika pun orang tua mengambil peran untuk memakaikan itu kepada sang anak, padahal dengan memakai kaus kaki dan sepatu sendiri, anak akan terlatih dan terbiasa melakukan hal tersebut serta menjadikannya mandiri. Sebaliknya, semakin anak dimanjakan dengan dipakaikan kaus kaki dan sepatu oleh orang tua, kelak mereka akan meminta untuk dilayani seperti itu sebab mereka tidak terbiasa melakukannya seorang diri. Hal ini tentu saja tidak dianjurkan dalam parenting.

Contoh lain yang seringkali terjadi ialah ketika anak bertengkar dengan temannya karena persoalan  mainan. Bermain, lalu bertengkar karena berebut mainan merupakan hal biasa bagi anak. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Namun, jika memang sansang anak belum mengerti, cukup jelaskan kepada anak bahwa bertengkar bukanlah  hal yang baik. Bukan justru sebaliknya, seringkali kita melihat banyak orang tua malah memarahi teman anaknya itu dan dengan sengaja membela sang anak. Ada pula yang langsung membawanya pulang dan mengatakan bahwa nanti orang tuanya akan membelikan mainan seperti itu lagi kepada anaknya. Ini merupakan  metode yang salah.

2. Jangan Terlalu Banyak Melarang

Setiap anak yang berada dalam  masa tumbuh  kembang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi akan banyak hal sehingga seringkali membuat mereka ingin mencoba melakukannya secara leluasa. Namun, orang tua tak jarang selalu memiliki ketakutan jika hal-hal buruk akan terjadi pada anaknya jika melakukan ini dan itu. Oleh sebab itu, orang tua memberi larangan atau batasan terhadap suatu hal yang bisa membahayakan anak. Padahal, larangan hanya akan membuat sang anak takut pada banyak hal dan membuaut mereka menjadi sangat bergantung pada orang tuanya.

Sesekali biarkanlah sang anak untuk melakukan yang mereka inginkan selama hal tersebut tidak berbahaya. Biarkan mereka mengetahui dampak atas yang mereka lakukan, seperti jika mereka bermain lari-larian di tempat licin, mereka akan terjatuh sehingga mereka kelak tidak akan melakukan yang sama lagi. Dalam hal ini, orang tua harus berkomunikasi dengan sangat baik kepada anaknya. Ketika anak ingin melakukan berbagai hal, cukup ingatkan mereka tentang risiko yang mungkin terjadi dan mintalah anak untuk berhati-hati. Tak perlu sampai melarang sang anak untuk melakukan hal ini dan itu selama hal itu tidak berbahaya.

3. Latih Anak untuk Bertanggung  Jawab

Ketika anak berumur 7 tahun ke bawah, orang tua dapat mendidik anak sambil bermain. Latih mereka dengan memberikan tanggung  jawab, meskipun orang tua harus tetap mengontrolnya, seperti sang anak harus dapat mandi sendiri, makan sendiri, dan membereskan mainan.

Untuk anak usia 7—14 tahun, orang tua sudah dapat melatihnya untuk belajar disiplin, misalnya menyuruhnya salat tepat waktu, belajar berpuasa, mengerjakan PR, dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Bila anak sudah berusia 7—14 tahun dan tidak melakukan kewajibannya, ingatkan mereka agar mereka terbiasa dan disiplin. Untuk anak usia 14—21 tahun, orang tua harusnya bisa bersikap sebagai sahabat atau teman akrab.

Mungkin, membiasakan anak untuk mandiri dan bertanggung jawab sejak mereka kecil  terlihat  sedikit kejam pada anak, namun bukan demikian, tujuannya adalah membentuk sang anak menjadi pribadi yang tangguh.

About Author

Related posts

Ajak Anak Berenang Saat Puasa? Ada Aturannya

Mengajari anak berpuasa harus dibarengi dengan perubahan kebiasaan sehari-hari. Enggak cuma sebatas mengubah jadwal makan dan tidur, namun ada beberapa kebiasaan lain yang juga harus di tahan saat puasa Ramadhan. Selain itu, Bunda juga harus pintar mencari kegiatan untuk si kecil agar enggak mudah bosan menunggu waktu berbuka puasa....

Read More

Manfaat Membiarkan Anak Bermain Sendirian

Anda memang perlu mengawasi setiap gerak-gerik anak saat ia beraktivitas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Meski begitu, bukan berarti Anda harus menempel lengket setiap detik di samping anak ketika ia bermain. Banyak pakar kesehatan yang menyarankan orangtua untuk membiasakan anak-anak mereka bermain sendirian, tanpa dampingan orangtua, karena akan...

Read More

Konsumsi Gula Mempengaruhi Otak Anak

Siapa sih yang tak suka gula? Terlebih anak-anak, biasanya hobi banget kan, Bun, mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Tapi, sebagai orang tua kita perlu tahu bahwa konsumsi gula punya pengaruh pada otak anak. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kadar gula yang tinggi bisa berefek negatif pada otak anak, mulai dari...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: