Agar manfaat mendongeng bisa diterima anak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua saat sedang mendongeng. Apa saja itu?

Lakukan Perlahan

Saat membacakan dongeng, lakukan secara perlahan, jangan terburu-buru, agar anak bisa mendengar dengan jelas dan fokus pada dongeng yang dibacakan.

Biasanya anak juga tidak hanya mendengarkan, tetapi juga bertanya. Disitulah diharapkan terjadi diskusi antara anak dengan orang tua.

Buat Bunyi Tiruan

Untuk anak usia balita, tirukan bunyi-bunyian sesuai cerita di dongeng. Misalnya, saat orang tua bercerita tentang binatang harimau, maka jangan segan orang tua untuk ikut ‘mengaum’. Dengan demikian, anak juga bisa belajar tentang suara binatang.

Mainkan nada dan tempo bicaranya

Karena dengan seperti itu anak akan lebih mudah menyerap cerita. Tidak perlu sempurna dalam menyampaikan gerak tubuh, ekspresi wajah dan suara, karena bagi anak-anak, bukan kesempurnaannya, tapi siapa yang membawakan dongeng tersebut yakni orang tuanya. 

Perhatikan usia anak

Usia anak menentukan cerita yang akan dibawakan dan juga cara mendongengnya. Semakin bertambahnya usia seorang anak, maka topik yang bisa disampaikan bisa lebih bervariasi dan menyesuaikan usianya. ”Misalnya anak usia 10 tahun, tentu tidak akan tertarik bila mendengar dongeng si kancil,” kata Monica.

Cara menyampaikannya pun berbeda-beda. Anak balita lebih senang mendengarkan cerita sambil dipangku dan di dekap dalam pelukan.

Sampaikan dongeng saat anak dalam kondisi santai

Mendongeng sebenarnya bisa dilakukan kapapun, namun banyak orang tua yang memilih mendongeng sebelum tidur malam. Karena saat akan tidur, kondisi anak sudah relaks, tidak terbebani aktivitas apapun, sehingga diharapkan otak lebih muda menyerap pesan yang disampaikan orang tua melalui dongeng.

Sampaikan cerita yang positif

Orang tua diminta untuk lebih kreatif saat membacakan dongeng untuk anak. Gunakan buku cerita lalu lakukan aktivitas membaca bersama anak.

Kreasikan penyampaian dongeng dengan berbagai cerita dan visualisasi, misalnya dengan boneka tangan atau buku cerita buatan bersama. Jangan lupa jadikan kegiatan ini menyenangkan untuk seluruh anggota keluarga.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: