Seorang ibu bercerita, saat jalan-jalan ke sebuah pertokoan, anaknya memintanya membeli mainan. Masalahnya, mainan sejenis itu sudah ada di rumah, selain itu harganya juga mahal. Lantas ibu itu bertanya, apakah boleh membohongi anak dengan mengatakan, bahwa ibu bapaknya sedang tidak punya uang?

Sebaiknya seorang ibu tidak berbohong pada anaknya sebab bila itu dilakukan terus menerus, dan akhirnya ketahuan sama anaknya, maka si anak itu secara tidak sengaja belajar berbohong. Tegaskan saja pada anak, bahwa harga mainan itu mahal dan cobalah diskusikan dengan anak mengenai  kebutuhannya akan mainan itu, apalagi sebenarnya di rumah sudah punya.

Ada sebuah contoh bagus. Seorang anak dibelikan mainan oleh orang tuanya.  Karena mereka belum tahu nilai uang, jadi oleh orang tuanya diajarkan menghitung harga mainan itu. Orang tuanya mengajarkan, bila hendak membeli mainan jumlah angka yang tertera setelah huruf Rp (rupiah), tidak boleh lewat dari 5 angka. Hasilnya, setiap anak itu melihat mainan yang disukainya, mereka hitung dulu, jika angkanya setelah Rp itu ada 6, langsung dikatakan  “mahal”.

Cara itu boleh coba, daripada berbohong dengan mengatakan tidak ada uang, namun  setelah itu, ibunya malah beli baju, beli makanan yang mahal, dan sebagainya, itu kan mengajarkan anak, bahwa berbohong itu boleh.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: