Ingin Anak Anda Percaya Diri dan Mandiri?

Usia 7-12 tahun, saat seorang anak memasuki jenjang sekolah dasar adalah masa yang sensitif. Pada usia itu, anak sudah mulai mudah mencerna dan mempelajari apa yang ada di sekitarnya dan juga senang berimajinasi serta berkreasi sesuka hati. Mereka sudah mulai punya keinginan untuk bebas memilih. Mereka juga sudah punya kemandirian dan mulai berani memilih apa yang mereka suka, apa yang mereka mau, dan mereka bisa melontarkan alasan mengapa mereka menyukai hal tersebut.

Ini adalah fase transisi, mulai dari bayi ke anak-anak, dan anak-anak ke remaja. Pada umumnya memasuki fase transisi orangtua banyak mengalami kesulitan pada perubahan pola perilaku anaknya.

Bagaimana cara orangtua menanamkan sifat dan percaya diri pada anak usia SD agar mereka mampu mengatasi segala masalah?

Ada 14 cara mendidik kemandirian dan percaya diri pada anak:

  1. Berikan senyuman yang tulus dan pelukan hangat. Katakan kepada mereka bahwa Anda akan mencintai mereka setiap saat dalam berbagai situasi.
  • Berikan penghargaan, pujian untuk meningkatkan kepercayaan diri anak. Jangan pelit untuk mengatakan “Wow hebat ya”, “Bagus sekali”, “Terima kasih, karena telah membantu,”bila anak anda menunjukkan prestasi.
  • Dengarkan suara hati anak terutama ketika dia dalam masalah. Cobalah mendengarkan dengan penuh minat sekecil apapun masalahnya. Hal ini akan menjadikannya lebih siap dan lebih tegar.
  • Berikan kepercayaan agar belajar bertanggungjawab dan mandiri. Cobalah untuk memberikan kebebasan kepada anak. Namun, katakana juga, jika kebebasan itu ada batasannya serta ada tanggungjawab yang menyertainya.
  • Katakanlah kepada anak hal-hal yang membuat Anda mengagumi dan menghargainya. Katakan lagi apa yang ia katakan kepada Anda agar dia yakin bahwa Anda memahaminya dengan benar: “Oh jadi kamu ingin aku menemanimu pada acara malam nanti, begitu?”
  • Jika memiliki anak lebih dari satu, jadwalkan waktu yang sesuai untuk melayani perbedaan individu dengan membagi waktu secara berkualitas untuk anak, dan memahami keunikan dan kekhasan masing-masing.
  • Anak dapat diberi beberapa pilihan mengenai apa dan berapa banyak ia ingin beli keperluannya, atau kapan ia mengerjakan PR dan kapan ia harus main.
  • Dampingi anak pada saat-saat penting dalam hidupnya. Contohnya mendampingi anak di hari pertama masuk sekolah pada jenjang baru, mendoakan untuk keberhasilan bila mereka sedang ikut kompetisi atau lomba atau sedang ujian.
  • Ajak dan doronglah anak untuk mengelola uang saku atau transport yang telah diberikan, atau meminta anaknya untuk dapat mengurus pakaian dan merapikan tempat tidur atau sepatunya atau alat-alat sekolah miliknya sendiri.
  1.  Jaga dan lindungi anak-anak dari bahaya yang terdapat dalam rumah dan di luar rumah. Orangtua dapat memastikan tidak ada alat-alat yang membahayakan bagi anak ketika main di dalam rumah atau ketika sedang di luar rumah, dan melindungi mereka dari pornografi, pelecehan, kecelakaan dan lainnya.
  1. Perhatikan dan ketahuilah keadaan anaknya di sekolah atau saat belajar kelompok, jalinlah komunikasi dengan kepala sekolah dan guru, dan berusahalah menghadiri undangan di sekolah.
  1. Jika anak anda main atau belajar  di luar rumah, sepakati agar dia pulang tepat waktu  atau menelepon jika terlambat atau ada urusan yang lainnya. Perhatikan siapa teman-temanya dan kenali mereka. Secara rutin periksa kamarnya untuk memastikan bahwa dia tidak menyimpan barang-barang terlarang.
  1. Tunjukkan bahwa anda tertarik dengan apa yang ia kerjakan, lalu tanyakan apa yang terjadi setelah ia berusaha. Berilah bantuan dan antarkan dia ke tempat kegiatan yang ia sedang lakukan dengan teman-temannya.
  1. Berikan contoh, bahwa anda adalah orang yang berdisiplin, bertanggungjawab dan jujur setiap saat, baik ketika bersama anak anda atupun ketika sendirian. Karakter anda ini akan menjadi panutan dan contoh yang hidup dan berharga bagi anak anda.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: