Konsumsi Gula Mempengaruhi Otak Anak

Siapa sih yang tak suka gula? Terlebih anak-anak, biasanya hobi banget kan, Bun, mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Tapi, sebagai orang tua kita perlu tahu bahwa konsumsi gula punya pengaruh pada otak anak.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa kadar gula yang tinggi bisa berefek negatif pada otak anak, mulai dari masalah psikologis hingga fungsi kognitifnya. Apa saja ya?

1. Mengganggu fungsi memori

Sebuah penelitian yang dilakukan di University of Southern California menemukan hubungan negatif fungsi memori anak dengan konsumsi minuman manis.

“Minuman dengan kadar karbohidrat tinggi dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan metabolisme. Selain itu, peningkatan asupan gula mengganggu kemampuan otak untuk berfungsi secara normal. Bahkan, kemampuan anak mengingat sesuatu dengan detail bisa terganggu sebelum mereka dewasa gara-gara terlalu banyak konsumsi gula,” papar peneliti, mengutip AOA Family.

2. Gangguan pada neurotransmitter

Kadar gula berlebih pada anak-anak juga bisa menyebabkan gangguan pada neurotransmitter, yang bertanggung jawab menjaga mood tetap stabil. Terganggunya neurotransmitter sering menyebabkan depresi dan kecemasan pada anak-anak.

3. Peradangan di alah satu area otak

Enggak hanya itu, Bun, kadar gula tinggi dapat menyebabkan peradangan sel di area otak yang dikenal sebagai hippocampus. Area ini berperan penting dalam proses penyimpanan ingatan serta menghubungkan indra dan emosi dengan ingatan tersebut.

4. Menimbulkan efek adiktif

Ada lagi efek gula yang masih kontroversial, yakni efek adiktif baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Sama seperti obat-obatan tertentu, gula disebut bisa membanjiri otak dengan dopamin, bahan kimia yang membuat perasaan nyaman, sehingga fungsi normal otak dapat terganggu.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Yale menemukan milkshake mengaktifkan pusat-pusat penghargaan yang sama di otak seperti halnya kokain yang dikonsumsi pecandu. Bahkan, penelitian lain yang dilakukan pada 2007 menemukan bahwa subjek penelitian (tikus) lebih suka air gula daripada kokain.

Berapa takaran gula untuk anak?

Lantas berapa takaran gula yang dianggap terlalu banyak? Umumnya, rata-rata orang dewasa mengonsumsi sekitar 22 sendok teh gula tambahan setiap hari. Pada anak-anak, jumlah gula tambahan lebih dari 4 sendok makan sudah dianggap tidak sehat.

Dokter anak Edward Gaydos, DO, dan Svetlana Pomeranets, MD, mengatakan jika melihat rekomendasi American Heart Association (AHA), anak-anak usia 2 hingga 18 tahun membutuhkan kurang dari 25 gram (6 sendok teh) gula per hari.

“Gula terburuk adalah dalam makanan olahan, minuman olahraga, makanan penutup, dan jus buah,” kata Pomeranets, dilansir situs Cleveland Clinic.

Berbicara tentang konsumsi gula bisa membuat anak lebih aktif, nutrisionis Jansen Ongko, MSc, RD, mengatakan, terlalu banyak mengonsumsi makanan manis atau bergula dapat meningkatkan asupan energi anak.

Ia menjelaskan, satu sendok makan gula mengandung sekitar 50 kalori sehingga akan meningkatkan aktivitas anak, karena gula dapat memasuki aliran darah dengan cepat dan menciptakan peningkatan kadar gula darah yang signifikan.

“Tubuh anak akan merespons kenaikan gula darah dengan mengirimkan hormon adrenalin yang mempromosikan aktivitas. Oleh karena itu anak menjadi lebih aktif. Akan tetapi, gula rafinasi bukanlah satu-satunya makanan yang dapat meningkatkan tingkat aktivitas anak secara signifikan.

Makanan yang mengandung karbohidrat sederhana juga bisa memiliki efek yang sama pada tingkat aktivitas anak,” kata Jansen mengutip dari detikcom.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: