Mendidik anak menjadi pribadi yang berakhlak mulia bukanlah hal yang mudah, sebab diperlukan pengetahuan, cara yang tepat serta proses panjang untuk mendidik anak sesuai dengan karakternya, khususnya saat anak sudah remaja.

Rentang Waktu Usia Remaja

Fase remaja dimulai sejak usia balig. Laki-laki umumnya terjadi saat memasuki usia 13—22 tahun, sedangkan perempuan antara 12—21 tahun. Nah, fase remaja ini akan berakhir antara umur 18—20-an. Saat memasuki fase remaja ini, terjadi perubahan secara fisik dan psikolologis, khususnya perubahan hormon. Perubahan hormon ini menyebabkan perubahan mood. Kadang-kadang anak bersemangat terhadap sesuatu hal, tapi lain waktu ia tidak bersemangat dan menyukai hal lain. Selain itu, anak pun menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.

Perubahan psikologis yang paling mencolok adalah rasa ingin tahu, berpikir egosentris, dan melakukan tindakan untuk mencari perhatian orang lain. Remaja pun tidak suka dianggap atau diperlakukan seperti anak kecil. Tidak jarang remaja menentang aturan atau nasihat yang diberikan.

Sebagai orang tua seringkali kita merasa was-was dengan pergaulan dan lingkungan di luar rumah. Terlebih lagi, tidak sedikit remaja yang terjerumus pergaulan bebas, memakai narkoba, atau melakukan hal negatif lainnya. Lalu, bagaimana agar anak tidak melakukan semua hal itu? Bagaimana cara mendidiknya?

1. Beri Pendidikan Agama

Pendidikan agama yang paling efektif adalah dilingkup keluarga, dengan memberikan pemahaman yang baik dan menjadi suri tauladan bagi anak. Dengan memberikan pendidikan agama yang konsisten, kita bukan hanya menjadikan anak pintar dan terampil, melainkan juga memiliki akhlak, sopan, jujur, serta memiliki rasa empati yang baik.

2. Bina Hubungan Dekat dengan Anak

Hubungan yang baik dengan anak akan membuat anak merasa senang dan betah tinggal di rumah. Jika mengalami suatu masalah atau kesulitan, anak akan meminta pendapat kepada kita sebagai orang tuanya. Ada banyak cara untuk membangun hubungan dekat antara orang tua dan anak remaja. Contohnya, kita sebagai orang tua secara aktif mendengarkan hal yang diceritakan oleh anak. Selainkan itu, kita juga harus menempatkan diri bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai sahabat. Sesibuk apa pun, kita harus meluangkan waktu mengobrol dan diskusi bersama anak.

3. Berikan Kesempatan Bersosialisasi dengan Lingkungan

Kebutuhan anak remaja adalah memiliki kedekatan dengan orang lain, seperti teman sekolah, memiliki sahabat, dan hidup bertetangga. Tak perlu terlalu khawatir anak terlalu bebas bergaul atau terjerumus melakukan penyimpangan, cukup berikan pengawasan seperlunya dengan mengetahui siapa kawan-kawannya, apa kegiatannya, dan pastikan anak berteman dengan teman dan lingkungan yang baik.

4. Berikan Kepercayaan dan Tanggung Jawab

Anak remaja akan lebih menghargai bila diberi kepercayaan oleh orang tuanya. Jadi, biarkan mereka memilih hobi atau kegiatan yang mereka sukai selagi kegiatan tersebut positif. Tapi, mendidik anak dengan memberikan kepercayaan harus sertai pula dengan menanamkan tanggung jawab.

5. Larangan dan Perintah

Saat masih kanak-kanak, anak cenderung mengikuti arahan orang tua. Namun, saat memasuki usia remaja, anak kadang akan membantah. Tak perlu langsung panik saat hal itu terjadi, cukup pahami terlebih dahulu kondisi atau suasana hati anak. Jika ia tidak siap, ciptakanlah kondisi tertentu yang menumbuhkan kemampuan menerima dalam dirinya.

6. Hargai Minat dan Pemikiran

Anak remaja memiliki kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Hargai hal yang menjadi minat atau hobi dan pemikirannya. Ajaklah ia untuk bercerita tentang hal yang menjadi minat dan pikirannya. Saat ia sedang memberikan pendapatnya, jangan memotong pembicaraan.

7. Berikan Contoh yang Baik

Anak-anak cenderung meniru cara komunikasi orang tua dalam keluarga. Orang tua menjadi suri teladan dalam menyampaikan sesuatu, menyelesaikan suatu masalah, dan hal lainnya. Contoh yang paling sederhana, yaitu orang tua akan kesulitan mendidik anak untuk tidak bicara dengan nada keras jika orang tuanya sendiri sering bicara dengan nada yang keras.

About Author

Related posts

Perlukah Mengajarkan Anak Dua Bahasa?

Beberapa orang tua hanya mengajarkan satu bahasa pada anaknya sampai masa di mana para guru di prasekolah atau kelompok bermainlah yang melakukannya. Anak-anak yang dari awal hanya mengenal satu bahasa jadi kebingungan dan butuh waktu penyesuaian yang lama saat harus menggunakan bahasa lain selain yang biasa mereka gunakan di...

Read More

Anak Anda Mudah Akrab Dengan Orang Baru?

Atta, 2 tahun, mudah sekali akrab dengan orang-orang baru. Ia tidak ragu digendong oleh teman-teman ibunya. Ketika diajak ke taman, ia juga mudah akrab dengan anak-anak seusianya. Waktu itu, hari sedang hujan deras, ibunya tak bisa mengajak Atta pergi ke taman. Lalu, ia pun tampak kesal dan marah. Normalkah?...

Read More

Alasan Harus Mengikuti Kelas Parenting

Di sebagian besar waktu dalam hidup kita, kita tidak akan berani melakukan sesuatu yang besar atau penting tanpa persiapan. Kita akan meminta saran, belajar dan menemukan strategi untuk performa yang lebih baik, dan berlatih, berlatih, berlatih. Namun untuk beberapa alasan, kita sebagai orangtua sering merasa ragu untuk mengambil pendekatan...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: