Kali ini kita akan belajar memahami lebih jauh tentang pola asuh Ibu Macan atau sering disebut sebagai “Tiger Mom”.

“Tiger Mom” ini pertama kali diperkenalkan oleh Amy Chua, seorang profesor hukum dari Universitas Yale, yang juga merupakan penulis buku berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother”. Berdasarkan buku tersebut, “Tiger Mom” adalah gaya mengasuh anak dengan menerapkan aturan yang cukup ketat dan keras pada anak-anak.

Menurut Amy Chua, gaya parenting jenis ini melarang anak melihat TV dan bermain games, serta mewajibkan anak hanya memperoleh nilai “A” pada setiap pelajaran di sekolah. Sebagai penulis buku dan juga orang tua dari dua anak, Amy Chua meyakini bahwa dengan menerapkan “Tiger Mom” inilah, anak-anaknya mampu meraih kesuksesan di sekolah dan kehidupan bermusiknya.

Banyak orang yang menganggap “Tiger Mom” sama seperti dengan Authoritarian Parenting yang menerapkan pola asuh keras pada anak. Namun, anggapan ini dibantah oleh sebuah penelitian yang terbit di Asian American Journal of Psychology tahun 2013 lalu. Menurut penelitian yang menggunakan keluarga Hmong, China dan Korea Amerika sebagai sampelnya tersebut, mengungkapkan bahwa, “Tiger Parenting” adalah gabungan dari penerapan gaya asertif parenting dan suportif parenting.

Dengan kata lain “Tiger Parenting” adalah gaya parenting yang menggabungkan antara  pola asuh lembut dan keras secara bersamaan.  Temuan berbeda dengan “Tiger Mom” yang selama ini dipahami melalui buku Amy Chua tersebut.

Lalu, pola asuh seperti apa yang terbaik bagi anak-anak agar anak-anak mampu menghadapi tantangan saat dewasa kelak? Peneliti mengemukakan bahwa untuk mengetahui pola asuh terbaik bagi anak-anak, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam jangka waktu yang panjang untuk menemukan formula terbaik bagi anak-anak.

Namun demikian, banyak peneliti kurang setuju dengan anggapan bahwa dengan menerapkan “Tiger Parenting” maka anak-anak akan sukses dalam hal pendidikan dan karir. Menurut sebuah penelitian, anak yang hidup dari pola asuh “Tiger Parenting” justru memperoleh nilai GPA lebih rendah daripada anak yang hidup dengan pola asuh “suportif parenting”.

Hal ini menunjukkan bahwa, “Tiger Parenting” tidak selalu menghasilkan anak-anak yang sukses di dalam kehidupannya. Perbedaan persepsi tersebut sebenarnya masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.

Namun, di luar perbedaan yang ada, sebagai orang tua memang perlu menerapkan pola asuh yang sesuai dengan anak. Jangan sampai pola asuh yang terlalu lunak justru membuat anak manja dan tidak mampu melakukan apapun dalam kehidupannya kelak. Hindari juga pola asuh pada anak yang terlalu keras sehingga mengakibatkan anak stress dan depresi.

Jika masih cukup bingung mengenai pola asuh seperti apa yang harus diterapkan pada anak, mungkin bisa mencoba menerapkan pola asuh sesuai dengan temperamen anak. Menerapkan pola asuh sesuai dengan temperamen anak, dipercaya bisa menjadi salah satu referensi pengasuhan cukup baik bagi anak-anak.

About Author

Related posts

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Orangtua Wajib Pahami Kondisi Psikologis Anak (Bag I)

Perkembangan dan karakter setiap anak tentu berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan begitu saja. Seringkali anak memperlihatkan perilaku unik dan berbeda dari anak lain. Mungkin Mama sebagai orangtua seringkali merasakan kalau anak-anak di rumah lebih mudah menangis, tidak bisa diam, sering berbicara, terlalu aktif atau menggigit barang tertentu. Kondisi inilah...

Read More

Balita Paling Ogah Melakukan 7 Hal Ini

Saat sudah bisa bicara dan berpikir dengan logis, anak akan lebih menantang. Mereka sudah bisa menolak untuk melakukan sesuatu. Ada masanya dimana para balita selalu mengatakan tidak untuk semua hal. Tenang, itu hal wajar, Ma. Sudah jadi tugas orangtua untuk mengarahkannya agar tidak keluar jalur. Dari seluruh hal yang...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: