Membantu Remaja Memilih Teman Baik

Masa remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Menurut Seifert dan Hoffnung (1987), masa remaja umumnya dimulai sekitar usia 12 tahun hingga akhir masa pertumbuhan fisik, yaitu sekitar usia 20 tahun.

Dalam masa transisi tersebut, seorang remaja mulai senang bergaul. Bahkan, saking senangnya bergaul,teman mendapat porsi lebih besar dalam kehidupan seorang remaja.Sebagian remaja mengalami perubahan perilaku drastis dan tiba-tiba hanya ingin meluangkan waktu bersama teman, dan tidak bersama orang tua.

Kebutuhan remaja untuk lebih dekat dengan teman  ketimbang orang tua adalah hal yang waja rmenuju masa dewasa yang mandiri. Pada masa ini, remaja diharapkan dapat membuat pilihan sendiri yang sesuai baginya tanpa tergantung pada orangtuanya. Pada masa ini orangtua hanya perlu mengarahkan dan membimbing anak untuk mempersiapkan diri dalam meniti perjalanan menuju masa depan. Termasuk dalam hal ini, membimbing memilih teman yang dapat mendukung cita-citanya.

Orang tua dapat mengarahkan anak remaja mencari teman dan menghindari teman-teman yang kurang baik dan juga bagaimana menjadi teman yang baik. Katakan, bahwa tidak ada teman yang sempurna. Remaja pun tidak perlu mencari teman yang sempurna, tapi bila seorang teman menyebabkan remaja merasa tidak nyaman misalnya mengajak  melakukan hal-hal yang tidak baik bahkan melanggar hukum, mengancam, memaksakan kehendak atau berusaha menjauhkan dari teman-teman lain, sebaiknya remaja menjauhi teman itu

Orang tua juga perlu memahami, remaja sering tidak mau kehilangan teman, walaupun teman itu bukan teman yang baik. Remaja takut dimusuhi bila meninggalkan temannya, sedangkan ia sendiri merasa tidak sejalan lagi dengan teman itu.

Beberapa tips berikut dapat membantu orang tua mengarahkan anak remaja memilih teman yang baik.

  1. Berikan kriteria teman yang baik tanpa memaksa atau menggurui
  2. Hindari mengkritik teman-teman anak Anda yang kurang baik
  3. Ungkapkan bahwa Anda tidak suka anak bergaul dengan anak-anak yang suka terlibat   dalam masalah, karena Anda tidak mau anak Anda juga terlibat dalam masalah.
  4. Tegaskan nilai-nilai keluarga sedini mungkin
  5. Tetapkan aturan yang berlaku dalam keluarga seperti minta ijin sebelum pergi dengan teman, pulang sebelum waktu yang ditetapkan, memberi tahu bila harus pulang terlambat. Libatkan anak ketika membuat aturan dan konsekuensi bila aturan dilanggar.

Orang tua juga perlu mengenali perubahan penampilan dan perilaku anak. Kenalilah perubahan yang wajar dan sehat seperti perubahan selera dalam berpakaian, musik dan berbagai hal lain, termasuk pilihan teman-temannya. Waspadai perubahan perilaku yang tidak wajar seperti sering pulang larut malam, pengeluaran besar yang tidak dapat dijelaskan, melanggar aturan rumah, tanda-tanda anak menkonsumsi rokok, minuman keras atau narkoba.

Anak sedang berusaha mengidentifikasi diri pada masa remaja. Perubahan perilaku terjadi seiring proses perkembangan mencari jati diri. Bahkan “pemberontakan kecil” remaja merupakan bagian dari proses perkembangan itu.

About Author

Related posts

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Orangtua Wajib Pahami Kondisi Psikologis Anak (Bag I)

Perkembangan dan karakter setiap anak tentu berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan begitu saja. Seringkali anak memperlihatkan perilaku unik dan berbeda dari anak lain. Mungkin Mama sebagai orangtua seringkali merasakan kalau anak-anak di rumah lebih mudah menangis, tidak bisa diam, sering berbicara, terlalu aktif atau menggigit barang tertentu. Kondisi inilah...

Read More

Balita Paling Ogah Melakukan 7 Hal Ini

Saat sudah bisa bicara dan berpikir dengan logis, anak akan lebih menantang. Mereka sudah bisa menolak untuk melakukan sesuatu. Ada masanya dimana para balita selalu mengatakan tidak untuk semua hal. Tenang, itu hal wajar, Ma. Sudah jadi tugas orangtua untuk mengarahkannya agar tidak keluar jalur. Dari seluruh hal yang...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: