Memotivasi Anak Sekolah Dasar Untuk Belajar

Motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna suatu pencapaian tujuan. Sesungguhnya semua manusia mempunyai motivasi untuk mendapatkan hasil tertentu. Hanya saja untuk anak-anak kadang motivasi harus dibangkitkan terlebih dahulu, terutama untukmotivasi belajar.

Mengapa? Karena pada hakekatnya pada usia tertentu anak masih mempunyai kecenderungan bermain lebih banyak dari pada belajar. Tapi, tentu saja kita sebagai orang tua juga tidak boleh berleha-leha dan akhirnya menjadi lengah dalam memotivasi anak.

Memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di tingkat SD, ada pengelompokkan dalam dua kategori, yaitu:

1.    Kelas rendah (kelas 1-3 SD)

2.    Kelas atas (kelas 4-6 SD)

masing masing kelompok memiliki karakter dan cirri-ciri yang berbeda.

Klas 1-3 SD

Anak-anak di kelas bawah masih memasuki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang lebih formal. Kondisi ini ,menuntut mereka  untuk banyak berada dalam dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

Tapi tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayang seribu sayang dengan alasan tuntutan masa sekarang dalam meraih prestai,  banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini.

Anak kelas 1-3   belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15-25 menit saja untuk kemudian beralih ke lain topik. Jadi sebetulnya bila dikelas ada anak yang kerjanya mengunjungi bangku kawannya sebetulnya mereka bukan nakal,  tapi itu sudah menjadi kecenderungan mereka.

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, orang tua mesti peka. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat anak merasa takut. Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

Belajar sambil bermain

Pada prinsipnya hampir sama dengan  cara belajar anak TK. Namun untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih membangun. “Tolong ambilkan Ayah 5 kue, dong. Nah, di tangan adek sudah ada 1 kue. Jadi,ayah sekarang punya berapa kue?? Suasana belajar pun tak harus serius, jadi belajar bisa dilakukan sambil duduk di karpet bersama orang tua.

Manfaatkan PR

Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Namun selama tidak berlebihan, sebenarnya PR sangat banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah juga membuat orang tua tahu sampai dimana anak menerima pelajaran.

Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang sering menjadi beban bagi anak. Kalau pun kejadiannya seperti ini, maka kita perlu terlibat untuk membantu dan mengarahkannya.

Memberi Dukungan

Dukungan  sangat  diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, tapi harus manis. Misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak marah yang berkepanjangan dan memvonis anak kita sebagai anak bodoh,  tolol dan lainnya

Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak. Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 30, misalkan. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 30 itu berarti kurang. Lalu tetaplah beri dukungan dengan kalimat yang baik untuk membesarkan hatinya dan semangat mendapat nilai yang lebih baik.

Jadilah model 

Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. “Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?” Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak belajar, seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

Tetapkan jam belajar

Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk berisitirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain.

About Author

Related posts

Tips Menghadapi Anak yang Suka Pura-pura Sakit

Di balik kepolosan dan keluguannya, anak punya cara-cara kreatif yang seringkali tak terbayangkan oleh orangtua. Ada sisi kreatif yang positif, tetapi juga ada sisi kreatif yang negatif. Salah satunya adalah kecerdikan anak untuk menghindar dari kegiatan yang tak disukainya dengan berpura-pura sakit. Problem ini bukanlah hal yang baru. Trik...

Read More

Si Adik dan Si Kakak Sering Bertengkar?

Meski namanya saudara, anak-anak cenderung memiliki rasa bersaing yang memicu pertengkaran. Pertengkaran antara si Adik dan si Kakak terkadang dipicu oleh hal sepele, seperti berebut mainan, makanan, saling meledek, berebut perhatian orangtua, atau sekedar berselisih paham. Jika pertengkaran itu tidak terjadi setiap hari, maka hal tersebut bukanlah masalah. Anggap...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: