Mengajarkan Sikap Empati Pada Anak

Pernahkah kita mendengar anak-anak kita mengucapkan kata-kata seperti “Emang gue pikirin” atau “ itukan kamu, saya kan lain” atau “kamu ya kamu, gua ya gua”. Ucapan-ucapan itu merujuk pada sikap hidup yang saling tidak peduli satu sama lain atau sikap tidak punya empati. Anak yang tidak terlatih bersikap empati sedari dini kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak peka pada lingkungan terdekatnya, maupun sekitarnya.

Semua bermula dari pengajaran karakter yang bernama: Empati. Namun, pengenalan karakter empati bukan sekedar dengan cara memberikan penjelasan tentang karakter empati, namun melatih anak untuk memahami apa dan bagaimana karakter itu.

Empati adalah pintu gerbang dari jiwa peduli dan senang menolong. Tak mungkin anak menjadi pribadi yang spontan menolong dan refleks bertindak membantu masalah orang lain, jika tak punya kemampuan empati yang baik. Untuk itulah, kita sebagai orangtua perlu melatih sikap ini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan bermanfaat bagi orang lain.

Dikutip dari Kumpulan Lembar Kiat Orang Tua Hebat : Orang Tua Bintang Anak Bintang, Panduan dan Tips Praktis Pengasuhan di Era Modern. Salah satu bentuk CSR PT Mitra Adi Perkasa, ada beberapa langkah yang bisa ibu dan bapak coba untuk melatih anak-anak memiliki sikap simpati.

Pertama. Seringlah ayah dan bunda bercerita tentang pengalaman yang ditemui sepanjang hari baik di manapun berada. Bisa memulai dengan kalimat “Tadi bunda sedih, nak. Ada teman bunda yang uangnya kemalingan waktu naik kereta. Kasihan ya?”. Atau pengalaman ayah dan bunda sendiri sepanjang hari. Hal ini dimaksudkan agar anak terlatih untuk bercerita tentang pengalaman dan perasaannya guna mampu mengenali emosi dan perasaan sendiri.

Kedua.Siapkan media khusus bagi anak dalam penyaluran perasaannya selain verbal. Bisa berupa buku tulis atau kertas gambar. Hal ini ditujukan khususnya bagi anak yang belum terbiasa menyalurkan perasaanya secara spontan lewat lisan.

Ketiga.Latih anak untuk ungkapkan perasaannya lewat kalimat seperti “Aku kesal”, “Aku bahagia”, “Aku kecewa” dan lain-lain serta ajarkan anak untuk sebutkan alasan kenapa muncul perasaan tersebut.

Keempat.Bacakan anak tentang kisah-kisah yang menyentuh hati, yang banyak tersebar di dalam berbagai buku dan bahaslah hal tersebut bersama anak mengenai isi dari buku tersebut.

Kelima.Manfaatkan golden moment bersama anak. Banyak peristiwa di sekitar kita yang dapat menjadi pelajaran berharga dalam menumbuhkan rasa empatinya. Bisa muncul pada saat menonton TV, atau kedatangan tamu yang tidak diduga. Maka pandai-pandailah orangtua melihat situasi ini. Jika hal ini kita temui, bahaslah bersama anak, dimulai dengan pertanyaan: “Apa yang kamu rasakan nak, pada saat kejadian tadi?”. Perlahan, anak akan belajar untuk selalu peka terhadap kejadian sekitar.

Keenam. Sertakan anak dalam berbagai program service learning, misalnya kerja bakti di lingkungan rumah, berkunjung ke panti asuhan, dan sejenisnya. Berikan porsi keterlibatan yang cukup kepada anak agar ia merasakan kepuasan batin melakoni hal tersebut.

Ketujuh. Berikan apresiasi ketika anak mampu mengungkapkan perasaannya secara baik ataupun melakukan kegiatan yang menunjukkan kepdulian. Apresiasi yang diterima anak akan menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat empatinya untuk terus berkobar.

About Author

Related posts

Perlukah Mengajarkan Anak Dua Bahasa?

Beberapa orang tua hanya mengajarkan satu bahasa pada anaknya sampai masa di mana para guru di prasekolah atau kelompok bermainlah yang melakukannya. Anak-anak yang dari awal hanya mengenal satu bahasa jadi kebingungan dan butuh waktu penyesuaian yang lama saat harus menggunakan bahasa lain selain yang biasa mereka gunakan di...

Read More

Anak Anda Mudah Akrab Dengan Orang Baru?

Atta, 2 tahun, mudah sekali akrab dengan orang-orang baru. Ia tidak ragu digendong oleh teman-teman ibunya. Ketika diajak ke taman, ia juga mudah akrab dengan anak-anak seusianya. Waktu itu, hari sedang hujan deras, ibunya tak bisa mengajak Atta pergi ke taman. Lalu, ia pun tampak kesal dan marah. Normalkah?...

Read More

Alasan Harus Mengikuti Kelas Parenting

Di sebagian besar waktu dalam hidup kita, kita tidak akan berani melakukan sesuatu yang besar atau penting tanpa persiapan. Kita akan meminta saran, belajar dan menemukan strategi untuk performa yang lebih baik, dan berlatih, berlatih, berlatih. Namun untuk beberapa alasan, kita sebagai orangtua sering merasa ragu untuk mengambil pendekatan...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: