Mengenalkan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja

Sebuah data yang diperoleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada Agustus 2014 menunjukkan, 46%  remaja berusia 15-19 tahun di beberapa wilayah Indonesia pernah melakukan hubungan seksual. Data lain, lebih dari 50% wanita hamil adalah remaja.

Data BKKBN juga menunjukkan, setiap tahun, sedikitnya terjadi 2,4 juta kasus aborsi, 800 ribu diantaranya dilakukan remaja. Padahal, hubungan sex di luar nikah membawa dampak negatif bagi diri pelaku maupun lingkungan sekitar, mulai dari kemungkinan tertular penyakit, hingga kehamilan di luar nikah. Sedangkan tindakan aborsi yang dilakukan remaja juga memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan dari perempuan itu sendiri, mulai dari munculnya kanker rahim, dan berbagai kerusakan pada organ rahim sampai kematian.

Apa penyebab dari fenomena yang mengejutkan dan membuat miris hampir semua orang tua tersebut? Salah satunya adalah minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi,  yakni keadaan sehat seluruh organ reproduksi serta proses reproduksi yang normal.

Karena itu, sudah saatnya orang tua secara dini mengedukasi anak-anaknya, terutama anak remaja perempuan, soal kesehatan reproduksi.

Lantas, apa yang perlu dilakukan orang tua?

  1. Perkenalkan perkembangan fisik dan psikis yang akan terjadi pada anak-anak.

Sejak kecil hingga dewasa. Hal ini akan membantu anak-anak kita memahami dirinya, menerima dirinya dan memajukan dirinya sesuai dengan perkembangan usianya

  • Perlunya menjaga kesehatan  sejak dini, termasuk kesehatan reproduksi
  • Orang tua juga perlu mendidik anak-anak soal bagaimana memilih teman dan bagaimana bergaul
  • Memperkenalkan secara dini tentang perbedaan fisik dan psikis antara wanita dan laki-laki
  • Memperkenalkan dan mengajarkan tentang hak dan kewajiban anak-anak, mulai dari saat kecil hingga dewasa,
  • Saat anak memasuki masa remaja, orang tua juga seharusnya memperkenalkan pengertian seksualitas dan cinta yang sehat, aman dan bertanggung jawab
  • Secara dini diperkenalkan tentang kehamilan yang sehat, aman dan bertanggungjawab, resiko kehamilan di usia muda. Namun harus dilakukan secara hati-hati agar anak tidak salah mengartikan.
  • Perlu juga diperkenalkan cara terhindar dari infeksi menular seksual, bahaya HIV/AIDS

Bila di lingkungan kita ada penderita HIV/AIDS, ajaklah anak kita untuk tidak mengucilkan, tapi mengajaknya tetap optimis menjalani hidup. Katakan pada anak, bahwa HIV/AIDS hanya ditularkan lewat hubungan seksual, pemakaian jarum suntik bersama, transfusi darah, dan air susu ibu. HIV/AIDS tidak ditularkan melalui udara atau berdekatan dengan penderita.

  • Ada baiknya juga diperkenalkan mengenai jenis-jenis narkoba, dan bahayanya bila disalahgunakan serta bagaimana terhindar dari penyalahgunaan narkoba dan minuman keras.

Untuk menghindarkan anak-anak dari penyalahgunaan narkoba dan minuman keras serta pergaulan bebas, ada baiknya orang tua mendorong anak-anak untuk aktif dalam kegiatan yang positif dan merangsang kreatifitas, seperti kesenian, olahraga atau kewirausahaan.

About Author

Related posts

Perlukah Mengajarkan Anak Dua Bahasa?

Beberapa orang tua hanya mengajarkan satu bahasa pada anaknya sampai masa di mana para guru di prasekolah atau kelompok bermainlah yang melakukannya. Anak-anak yang dari awal hanya mengenal satu bahasa jadi kebingungan dan butuh waktu penyesuaian yang lama saat harus menggunakan bahasa lain selain yang biasa mereka gunakan di...

Read More

Anak Anda Mudah Akrab Dengan Orang Baru?

Atta, 2 tahun, mudah sekali akrab dengan orang-orang baru. Ia tidak ragu digendong oleh teman-teman ibunya. Ketika diajak ke taman, ia juga mudah akrab dengan anak-anak seusianya. Waktu itu, hari sedang hujan deras, ibunya tak bisa mengajak Atta pergi ke taman. Lalu, ia pun tampak kesal dan marah. Normalkah?...

Read More

Alasan Harus Mengikuti Kelas Parenting

Di sebagian besar waktu dalam hidup kita, kita tidak akan berani melakukan sesuatu yang besar atau penting tanpa persiapan. Kita akan meminta saran, belajar dan menemukan strategi untuk performa yang lebih baik, dan berlatih, berlatih, berlatih. Namun untuk beberapa alasan, kita sebagai orangtua sering merasa ragu untuk mengambil pendekatan...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: