Menghadapi Perlawanan Anak Dengan Bijak

Kita mungkin merasa kerepotan bila si kecil seringkali tidak menuruti apa yang kita katakan. Padahal, kita sudah mengajaknya bicara dengan cara yang paling lembut, dan saat kita terpancing menggunakan nada agak tinggi, si kecil malah semakin keras menolak.

Misalnya, saat kita mengajaknya untuk selalu menggosok gigi sebelum tidur, ia membantah dan justru berkelit, “Aku nggak habis makan apa-apa, kok. Jadi nggak perlu gosok gigi. Aku sudah ngantuk, Ma.” Belum lagi kalau kita memintanya untuk berhenti bermain gadget dan si kecil tidak berhenti bermain gadget, mungkin kita akan mengatakan kepada si kecil bahwa terlalu lama bermain gadget bisa berdampak buruk pada kesehatan matanya. Namun ia justru menjawab dengan mencontohkan teman-temannya yang lain, “Si Boni, Adam, Danu juga baik-baik aja, kok, matanya. Padahal mereka lebih sering main gadget daripada aku. Mereka sampai sekarang nggak harus pakai kacamata.”

Dr. Deborah MacNamara, Ph.D., seorang konselor klinis dari Neufeld Institute mengatakan bahwa manusia secara alamiah dipersiapkan untuk menjadi oposisi. Menurutnya, itu adalah hal yang lumrah. Ia menjelaskan, setiap orang memiliki sisi kontra yang membuat mereka menolak, melawan, dan menentang kapan pun mereka merasa dikendalikan.

Bagi Deborah, hal tersebut bukanlah kesalahan dalam sifat manusia, melainkan sebuah naluri yang berfungsi penting. Deborah mengingatkan bahwa tantangan bagi orang tua adalah bersikap bijak untuk menghadapi bantahan dari anak-anak agar mereka tidak rentan terhadap ekspresi perlawanan.

Untuk menghadapi anak yang selalu membantah, ada beberapa tip yang bisa membantu Anda:

1. Ciptakan Keinginan, Bukan Keharusan

Anak-anak tidak suka berada pada pihak yang diharuskan. Sebab, hal itu membuat mereka merasa dikendalikan dan mudah bagi mereka untuk menentang. Ketimbang memberitahunya bahwa ia harus menggosok gigi, sebaiknya ciptakanlah keinginannya untuk menggosok gigi sebelum tidur. Ajak ia untuk menggosok gigi bersama-sama. Katakan padanya, “Kamu ingin gigi kamu bersih dan putih seperti idola kamu, kan? Pasti gigi kamu kelihatan bagus sekali dan banyak yang suka nantinya.” Atau bisa juga dengan mengatakan, “Giginya digosok ya, biar tetap bisa makan yang enak-enak. Kalau giginya sudah berlubang pasti nggak enak kalau dipakai makan.”

2. Wujudkan Kooperatif, Bukan Patuh

Biasakan untuk membuat aturan dengan persetujuan si kecil. Misalnya saja tentang aturan bermain gadget, belajar, dan tidur malam. Buka kesempatan baginya untuk memberikan pendapat pada aturan tersebut. Jika sudah sama-sama setuju, maka aturan berlaku. Dengan adanya peraturan, si kecil akan selalu ingat bahwa ia harus melakukan apa di jam berapa, dan sebagainya. Sehingga ketika si kecil tidak melaksanakannya, Anda tinggal mengingatkan kembali aturannya. Hal yang berbeda mungkin terjadi ketika aturan belum dibentuk. Anda mungkin akan berkali-kali menyuruhnya belajar dan ia juga berkali-kali membantah Anda. Kalaupun ia akhirnya menuruti Anda, itu karena kepatuhan, bukan karena kooperatif.

3. Sepakati Konsekuensi Bersama

Saat mengajukan aturan pada si kecil, libatkan ia juga untuk menyepakati konsekuensinya. Dengan begitu, ia tak dapat mengelak lagi saat ia melanggar aturan yang sudah dibuat. Anda tinggal katakan padanya, “Ini bukan keputusan Mama sepihak. Kamu sudah sepakat dengan konsekuensi itu.”

4. Berikan Opsi

Alih-alih memberikan ancaman kosong, berikan opsi padanya. Misalnya saja, Anda bisa mengatakan, “Kamu mau mengerjakan PR sekarang atau terus bermain? Kalau mau melanjutkan bermain, silahkan saja. Tapi, itu artinya besok kamu perlu bangun lebih pagi dan harus menyelesaikan PR terburu-buru karena Mama akan sibuk menyiapkan sarapan dan tidak bisa membantu kamu.” Dengan memberikan opsi ini, ia akan segera tergerak untuk memilih mana yang penting.

5. Buka Jendela tentang Dunia

Anda bisa bercerita tentang masa depan di dunia nyata pada anak-anak. Beritahu padanya bahwa bos atau atasannya di masa depan nanti tidak akan mau berdebat kusir dengannya. Bos tidak akan mengingatkan berkali-kali agar mereka menyelesaikan tugasnya. Bahkan, mereka mungkin akan menerima konsekuensi yang tidak diharapkan.

About Author

Related posts

Perlukah Mengajarkan Anak Dua Bahasa?

Beberapa orang tua hanya mengajarkan satu bahasa pada anaknya sampai masa di mana para guru di prasekolah atau kelompok bermainlah yang melakukannya. Anak-anak yang dari awal hanya mengenal satu bahasa jadi kebingungan dan butuh waktu penyesuaian yang lama saat harus menggunakan bahasa lain selain yang biasa mereka gunakan di...

Read More

Anak Anda Mudah Akrab Dengan Orang Baru?

Atta, 2 tahun, mudah sekali akrab dengan orang-orang baru. Ia tidak ragu digendong oleh teman-teman ibunya. Ketika diajak ke taman, ia juga mudah akrab dengan anak-anak seusianya. Waktu itu, hari sedang hujan deras, ibunya tak bisa mengajak Atta pergi ke taman. Lalu, ia pun tampak kesal dan marah. Normalkah?...

Read More

Alasan Harus Mengikuti Kelas Parenting

Di sebagian besar waktu dalam hidup kita, kita tidak akan berani melakukan sesuatu yang besar atau penting tanpa persiapan. Kita akan meminta saran, belajar dan menemukan strategi untuk performa yang lebih baik, dan berlatih, berlatih, berlatih. Namun untuk beberapa alasan, kita sebagai orangtua sering merasa ragu untuk mengambil pendekatan...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: