Orangtua pun Harus Menghargai Privasi Anak

Ingatkah Mama saat bertahun-tahun silam, si Kesayangan sangat bergantung pada Mama? Mencari keberadaan Mama di mana pun, dan bercerita tanpa henti dari pagi hingga malam kepada Mama? Hingga semuanya berubah saat anak semakin bertambah besar. Ia menolak menunjukkan apa yang sedang ditulisnya di bukunya, bahkan menutup pintu kamar rapat-rapat seolah menyembunyikan sesuatu.

Pelajaran Pertama Menghadapi Anak Jelang Remaja: Privasi

Apa yang dialami oleh anak Mama bukanlah hal yang aneh, atau pun berbahaya. Perubahan sikap ini membuat sebagian besar orangtua mengaku khawatir, jikalau anak melakukan hal-hal yang berbahaya tanpa sepengetahuan orangtua. Sesungguhnya yang terjadi adalah anak sedang membangun batas-batas privasinya.

Dilansir dari parents.com, Allison Kawa, Psy.D., seorang psikolog anak dari Los Angeles mengatakan, “Teman sebaya merupakan bagian yang penting dalam kehidupan anak di usia-usia ini. Hal ini turut mengubah keinginan memiliki privasinya sendiri, misalnya urusan berganti pakaian, ganti baju, mengungkapkan perasaan terpendam melalui buku harian.”

Sulit untuk tidak terlibat dalam fase ini, tetapi tantangan bagi orangtua adalah membiarkan anak memiliki waktu sendirian sembari tetap memantaunya.

  • Izinkan anak punya zona privat

Sangat penting bagi anak-anak di usia ini untuk memiliki ruang di mana mereka dapat sepenuhnya menjadi diri sendiri. Bisa bernyanyi keras-keras tanpa malu, menari sebebasnya, melihat ke cermin tanpa ada orang lain yang mengintip.

Izinkan anak memiliki waktunya sendirian di kamarnya dengan pintu tertutup, tetapi tidak dikunci. Hormati privasinya dengan mengetuk sebelum masuk dan tunggulah sejenak sebelum memasuki ruangan.

Jika anak membawa temannya ke kamar, beritahu mereka bahwa mereka boleh punya waktu privat sendiri, tetapi tidak dalam keadaan pintu terkunci. Ingatkan jika ada keadaan darurat sewaktu-waktu dan orangtua harus segera masuk ke sana.

  • Terapkan batasan soal privasi

Sebebas apapun orangtua ingin memberikan zona privat untuk anak, tetaplah ingat bahwa anak belum memiliki kebijaksanaan yang matang dalam menentukan mana yang boleh dan tidak. Apalagi yang berkaitan dengan penggunaan internet.

Jangan biarkan anak online tanpa pengawasan orang dewasa. Untuk itu, selalu tempatkan laptop atau komputer di area keluarga, seperti meja makan atau ruang keluarga. Pertimbangkan memasang filter khusus pencarian untuk anak yang aman, terutama untuk situs berbasis video dan game.

Anak-anak seusia ini cenderung ingin tahu tentang aktivitas non-game, seperti chatting. Bantu ia memahami bahwa Anda tidak membatasi akses internetnya untuk mengendalikan privasinya. Melainkan agar ia tetap aman, karena di internet kita bertemu manusia yang bisa saja penuh tipu muslihat.

  • Menghormati keputusannya

Pada usia tujuh atau delapan tahun, banyak anak yang mulai terganggu bahkan tersinggung ketika orang melihat mereka dalam keadaan telanjang. Kebanyakan orangtua tak bisa menerima hal ini karena anggapan, “Saya ‘kan sudah melihatnya telanjang sejak masih bayi.”

No, no, no, Ma. Hargailah kebutuhannya akan privasi. Anak sudah mengerti bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri, dan hal ini adalah manusiawi sebagai sebuah perjalanannya menjadi orang yang mandiri.

  • Perbanyak waktu diskusi

Sering-seringlah mengajak anak mengobrol. Tetapi jangan berharap, apalagi menuntut, bahwa ia memberi tahu Anda segalanya. Hal ini normal, karena anak ingin menjaga sebagian dari harinya dan pikirannya, untuknya pribadi.

Jika Mama mengkhawatirkan hal yang mencemaskan atau tampak mengganggu pikirannya, tetapi anak bersikeras semuanya baik-baik saja, ajukan pertanyaan terbuka dengan lembut. Katakan, “Sepertinya Kakak mengalami hari yang buruk, apa yang terjadi di sekolah?”

Jadilah pendengar yang baik, sekaligus guru yang dapat menawarkan informasi dan perspektif berbeda. Tumbuhkan keterbukaan yang tetap menjunjung nilai-nilai privasi sejak dini, karena komunikasi yang sehat ini sangat penting untuk menjaga anak dari perilaku yang merusak diri di masa depan.

About Author

Related posts

Ketika Anak Perempuan Malu dengan Bentuk Tubuhnya

Sebuah survei menunjukkan, usia rata-rata di mana anak perempuan pertama kali sadar mengenai tubuhnya semakin muda yaitu pada umur 9-10 tahun. Di umur ini, anak perempuan mulai berbicara tentang fakta bahwa beberapa anak di kelasnya “memiliki perut” dan beberapa tidak. Dan walaupun kedengarannya masih muda untuk mengkhawatirkan soal perut...

Read More

Mom, Kenali Penyebab Sariawan pada Si Kecil !

Sariawan tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja karena penyakit ini juga bisa menyerang anak-anak. Sariawan sendiri akan muncul di area lidah, bibir, atau di berbagai area bagian dalam mulut. Secara umum, area mulut yang terkena sariawan akan dikelilingi guratan merah dan menimbulkan rasa sakit. Anak-anak yang sariawan, umumnya...

Read More

Kapan Suara Si Jagoan Kecil Berubah?

Masa pubertas adalah masa penting dalam kehidupan seseorang karena di masa ini, seorang anak mengalami begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Tak terkecuali perubahan fisik. Masa pubertas datangnya tak dapat diprediksi, baik itu pada anak lelaki maupun perempuan. Tetapi, sesungguhnya tanda-tandanya bisa terlihat. Pada anak lelaki, salah satunya adalah lewat...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: