Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

  • Sensory Processing Disorder

“Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella.

Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak hingga sering menyentuh atau menggigit sebuah barang. Beberapa gejala sensory processing disorder yang harus diketahui seperti:

  • Adanya masalah pada respon penerimaan panca indera kita. Hiposensitif ditunjukkan dengan kurangnya kepekaan terhadap rasa sakit, suara, indera pengecap. Bahkan si Kecil terkesan hipersensitif, sehingga terlalu sensitif terhadap rasa panas, teksture tertentu, suara tertentu bahkan keramaian.
  • Koordinasi motorik kasar yang tidak seimbang, sehingga dirinya harus berpegangan setiap menaiki tangga atau tidak dapat berjalan lurus tanpa pegangan.
  • Sering menabrak suatu benda di sekitarnya secara sengaja atau tidak sengaja.
  • Sulit bertahan lama dalam sebuah permainan atau pembicaraan.
  • Merasa gelisah, sehingga dirinya berusaha memperlihatkan kekesalannya dengan sebuah teriakan.

Perlu diketahui bahwa diagnosa perilaku sensory processing disorder yang terjadi pada anak-anak ini tergantung pada tingkat keparahan gejalanya.

  • Separation Anxiety Disorder (SAD)

Separation anxiety disorder adalah sebuah gangguan kecemasan yang dapat terjadi saat si Kecil merasakan kecemasan secara berlebih.

“SAD muncul dengan memperlihatkan perilaku marah serta rasa gelisah melalui sebuah teriakan atau berlari-lari. Anak-anak dengan perilaku ini dapat terjadi ketika dirinya mengalami rasa cemas ketika berpisah dari orang-orang terdekatnya, seperti orangtua atau pengasuh,” kata Alexandra Gabriella.

Rasa kecemasan dengan memperlihatkan sebuah tangisan inilah yang dapat membuat orangtua sering melabeli anaknya memiliki karakter nakal. Berikut beberapa gejala dari SAD yang perlu diketahui, seperti: 

Sering sekali gelisah secara berlebihan ketika berada di tempat baru atau ketika terpisah dari orang-orang yang terdekat.

Menunjukkan perilaku yang terlalu melekat kepada orang-orang terdekatnya, bahkan seperti harus selalu dekat. Kondisi anak yang seperti ini seringkali membuat orangtua atau pengaruh menjadi sulit melakukan kegiatan lain.

Menunjukkan ekspresi emosi yang sangat ekstrim ketika terpisah dari orang terdekatnya, seperti ketakutan, menangis, mengamuk atau sering berteriak-teriak.

Mengalami beberapa gejala fisik setiap kali dirinya ingin berpisah dengan orang terdekat antara lain sakit kepala, sakit perut atau asma yang tiba-tiba kambuh secara mendadak.

  • Gifted Child (GC)

Gifted child seringkali dijuluki sebagai anak yang jenius dan mampu merujuk dari pendapat para ahli. “Anak-anak yang tergolong gifted seringkali pula menunjukkan perilaku yang mirip dengan ADHD. Namun, ini dapat dibedakan dengan skor IQ anak-anak GC yang lebih dari 130 ke atas,” ucap kata Alexandra Gabriella.

Perlu Mama ketahui bahwa beberapa gejala dari gifted child perlu diketahui sedari dini, seperti:

  • Mudah bosan karena selalu cepat mengerti pelajaran. Anak-anak pun dapat menolak untuk mengulang pelajaran yang diberikan, sehingga terkesan tidak terlalu menyukai kegiatan yang monoton.
  • Selalu banyak bertanya, kritis bahkan membantah bila ada informasi yang dikatakan tidak sesuai dengan penalarannya.
  • Memilih tugas yang dirasa menarik untuk dikerjakan. Bahkan dirinya bisa mengembangkan cara serta pemikirannya sendiri dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut di luar teori atau contoh yang diberikan.
  • Mampu belajar dengan caranya sendiri dengan memiliki pemikiran yang orisinil, sehingga si Kecil cukup mampu menjelaskan pemikirannya dengan bahasa serta kosakata yang lebih dari anak-anak seusianya.
  • Sensitif dan mudah terdistraksi. Dirinya sering kurang fokus, sehingga mudah marah ketika merasa lingkungannya berisik atau mudah terganggu oleh kegiatan teman-temannya. -Berani mengungkapkan pendapat dan pemikirannya bahkan cenderung menjadi sulit mengontrol emosinya ketika ada hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya.
  • Penentuan anak Gifted dilakukan dengan pengukuran IQ serta kemampuan kognitif anak.

Itulah beberapa kondisi psikologis yang perlu dipahami oleh para orangtua, sehingga tidak langsung melabeli anak sebagai pribadi yang nakal. Bila kondisi ini sulit ditangani dengan baik di rumah, ada baiknya untuk meminta tolong ke profesional seperti bantuan psikolog anak.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Kondisi Psikologis Anak (Bag I)

Perkembangan dan karakter setiap anak tentu berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan begitu saja. Seringkali anak memperlihatkan perilaku unik dan berbeda dari anak lain. Mungkin Mama sebagai orangtua seringkali merasakan kalau anak-anak di rumah lebih mudah menangis, tidak bisa diam, sering berbicara, terlalu aktif atau menggigit barang tertentu. Kondisi inilah...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: