Sebagian anak menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sangat sulit.  Dan biasanya pelajaran ini menjadi ukuran untuk menilai seorang anak pintar atau bodoh. Cap bodoh ini yang kemudian membuat siswa yang sulit memahami pelajaran matematika akan semakin merasa tidak bisa menguasainya.

Di masa 1980-an, nilai rapor sekolah ditulis dengan tinta merah,jika di bawah angka 6. Anak yang trauma, ada rasa takut pada saat mengikuti pelajaran matematika. Dan karena cap tersebut, pada akhirnya anak mengafirmasi dirinya sendiri bahwa dia memang tidak bisa matematika.

Pertanyaan pentingnya apakah memang, ketika seorang anak saat awal belajar matematika mengalami kesulitan, maka seterusnya akan begitu? Atau tergantung metode pembelajarannya? Lantas sebagai orang tua, apa yang masih bisa kita upayakan untuk mengatasi anak yang mengalami trauma angka? 

Mungkin sebagian besar dari kita akan bingung dan sedih. Malu juga karena kemampuan berhitung anak kita di bawah kemampuan yang dimiliki oleh teman-temannya. Perkembangan dunia pendidikan melahirkan beragam pandangan dan teknis pendekatan baru. Satu di antaranya berkaitan dengan pembelajaran matematika ini. Kesulitan yang dialami oleh siswa dalam pelajaran matematika bisa diatasi dengan mencoba memberikan pelajaran berhitung dengan cara yang asyik dan lebih nyata.  

Pertama, ciptakan suasana yang menyenangkan saat belajar. Caranya bisa dengan memilih tempat belajar yang sesuai dengan keinginan anak, bisa di meja makan, di dapur, di teras depan, atau serambi belakang rumah. Pilih waktu yang sesuai dengan kondisi fisik anak. Misal, setelah mereka mandi sore, saat tubuh merasa segar.  

Kedua, gunakan alat bantu berupa sedotan warna warni, stik es krim, lidi atau apapun yang nyata. Sejauh pengalaman saya di lapangan, anak yang memiliki kesulitan berhitung adalah karena belum mampu berpikir abstrak. Jadi, kita perlu media untuk mengkonkritkan yang abstrak tersebut. 

Ketiga, biarkan anak kita menggunakan jari tangan dan kakinya, bahkan meminjam jari tangan dan kaki adik atau kakaknya, papa dan mamanya. Pendek kata biarkan ia menikmati permainan angka.

Keempat, gunakan pendekatan kehidupan sehari-hari sebagai contoh penghitungan. Misal, di rumah jumlah anggota keluarganya ada berapa orang? Sehari satu orang membutuhkan beras berapa gram? Jadi sehari total membutuhkan beras berapa gram? Cara ini akan membuat anak sadar bahwa matematika sangat dekat dengan  kehidupan sehari-hari. Dan tanpa disadari setiap hari, mulai dari tidur hingga tidur lagi, sesungguhnya kita menggunakan matematika.

About Author

Related posts

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Orangtua Wajib Pahami Kondisi Psikologis Anak (Bag I)

Perkembangan dan karakter setiap anak tentu berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan begitu saja. Seringkali anak memperlihatkan perilaku unik dan berbeda dari anak lain. Mungkin Mama sebagai orangtua seringkali merasakan kalau anak-anak di rumah lebih mudah menangis, tidak bisa diam, sering berbicara, terlalu aktif atau menggigit barang tertentu. Kondisi inilah...

Read More

Balita Paling Ogah Melakukan 7 Hal Ini

Saat sudah bisa bicara dan berpikir dengan logis, anak akan lebih menantang. Mereka sudah bisa menolak untuk melakukan sesuatu. Ada masanya dimana para balita selalu mengatakan tidak untuk semua hal. Tenang, itu hal wajar, Ma. Sudah jadi tugas orangtua untuk mengarahkannya agar tidak keluar jalur. Dari seluruh hal yang...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: