Anak Sulit Fokus Saat Belajar? Coba Atur Sesi Belajar Jadi Lebih Ringan
Saat baru beberapa menit belajar, anak sudah melihat ke arah mainan, berdiri mengambil minum, atau mulai mengajak bicara hal lain. Ayah/Bunda mungkin merasa kegiatan belajar jadi sulit selesai.
Namun, sebelum menyimpulkan anak tidak mau belajar, coba lihat kembali suasana dan cara belajarnya. Bisa jadi tugas terasa terlalu panjang, instruksinya belum jelas, atau anak membutuhkan jeda.
Tujuan pendampingan di rumah tidak harus membuat anak duduk lama. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami apa yang perlu dilakukan, mencoba satu langkah, lalu melanjutkan secara bertahap.
1. Buat target belajar yang terlihat jelas
Daripada mengatakan, “Ayo belajar dulu,” berikan target yang lebih konkret.
Misalnya:
“Kita kerjakan tiga soal dulu, setelah itu istirahat.”
Untuk anak TK, target bisa berupa satu aktivitas sederhana seperti menulis beberapa huruf, membaca satu halaman pendek, atau menghitung benda di sekitar rumah.
Untuk anak SD, Ayah/Bunda dapat membagi tugas menjadi beberapa bagian kecil. Anak jadi lebih mudah mengetahui kapan satu tahap sudah selesai.
Jika tugas sekolah cukup banyak, tidak harus langsung menunjukkan semuanya sekaligus. Pilih bagian pertama yang perlu diselesaikan.
2. Kurangi gangguan yang tidak diperlukan
Perhatikan meja belajar anak. Apakah terlalu banyak mainan, suara televisi, atau benda lain yang membuat perhatian mudah berpindah?
Tidak perlu membuat ruang belajar yang sempurna. Cukup rapikan beberapa benda yang tidak digunakan dan siapkan perlengkapan belajar sebelum mulai.
Ayah/Bunda juga bisa bertanya:
“Kamu lebih nyaman belajar di meja ini atau di meja dekat ruang tengah?”
Memberi pilihan sederhana dapat membantu anak ikut terlibat dalam menyiapkan suasana belajar.
3. Gunakan sesi pendek dan beri jeda
Beberapa anak lebih nyaman belajar dalam waktu singkat tetapi terarah. Misalnya, belajar selama 10–15 menit, lalu berhenti sebentar untuk minum atau bergerak.
Jeda tidak harus lama. Dua sampai lima menit bisa digunakan untuk berdiri, meregangkan badan, atau berjalan sebentar.
Setelah itu, sampaikan langkah berikutnya dengan jelas:
“Sekarang kita lanjut dua soal lagi, ya.”
Jika anak sudah terlihat sangat lelah atau mulai frustrasi, Ayah/Bunda boleh mempertimbangkan untuk mengakhiri sesi dan melanjutkannya nanti.
4. Dampingi tanpa terus-menerus mengambil alih
Saat anak berhenti mengerjakan, coba tanyakan bagian mana yang membuatnya terhenti.
“Yang bikin bingung bagian mana?”
Jika perlu, berikan satu contoh lalu kembalikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sendiri.
Misalnya, saat anak kesulitan membaca instruksi, Ayah/Bunda bisa membacakan satu kalimat pertama, kemudian mengajak anak melanjutkan bagian berikutnya.
Tujuannya bukan membuat tugas selesai secepat mungkin, tetapi membantu anak mengetahui cara memulai kembali ketika ia merasa buntu.
5. Beri perhatian pada usaha yang terlihat
Daripada hanya mengatakan “pintar”, sebutkan usaha yang memang dilakukan anak.
Contohnya:
“Tadi kamu sempat terdistraksi, tapi kamu bisa kembali menyelesaikan dua soal.”
Atau:
“Kamu sudah mencoba membaca petunjuknya lagi sebelum bertanya.”
Kalimat seperti ini membantu anak memahami tindakan apa yang sudah ia lakukan dengan baik.
Tidak perlu memaksakan sesi belajar panjang
Kemampuan fokus setiap anak berbeda dan dapat berubah tergantung kondisi, aktivitas sebelumnya, serta tingkat kesulitan tugas. Karena itu, Ayah/Bunda dapat mencoba beberapa pola sampai menemukan ritme yang paling sesuai.
Mulailah dari satu perubahan kecil hari ini: target yang lebih jelas, suasana lebih rapi, atau sesi belajar yang lebih pendek.
Jika Ayah/Bunda ingin berdiskusi tentang kebutuhan belajar ananda, tim Ayo Cerdas Indonesia siap membantu mengenalkan kegiatan belajar yang sesuai melalui program Fingermathic, English Right Brain (ERB), maupun Calistung.
