“Hari ini di sekolah gimana?”

“Nggak tahu.”

Jawaban singkat seperti ini sering membuat Ayah/Bunda bingung harus melanjutkan percakapan dari mana. Kita mungkin ingin segera bertanya lagi: belajar apa, bermain dengan siapa, atau ada masalah apa. Namun, banyak pertanyaan sekaligus justru dapat membuat obrolan terasa seperti pemeriksaan.

Percakapan sepulang sekolah bisa dibuat lebih ringan. Anak tidak harus langsung menceritakan semua kegiatannya. Ayah/Bunda dapat memberi waktu, memilih pertanyaan yang lebih konkret, dan ikut berbagi cerita sederhana.

Tujuannya adalah membuka ruang agar anak nyaman bercerita, sedikit demi sedikit.

1. Beri waktu untuk berpindah suasana

Sepulang sekolah, anak mungkin ingin minum, mengganti pakaian, makan, atau beristirahat. Tidak perlu langsung meminta laporan harian ketika ia baru masuk rumah.

Ayah/Bunda bisa menyambut dengan kalimat sederhana:

“Selamat datang. Tasnya kita taruh dulu, lalu kamu mau minum atau ganti baju?”

Setelah suasana lebih tenang, tawarkan percakapan. Pilih waktu yang alami, misalnya ketika makan camilan, dalam perjalanan, atau saat merapikan perlengkapan sekolah.

Jika anak belum ingin bicara, sampaikan bahwa Ayah/Bunda siap mendengarkan nanti. Cara ini memberi pilihan tanpa menutup percakapan.

2. Ganti pertanyaan umum dengan pertanyaan konkret

Pertanyaan “Sekolahnya bagaimana?” sangat luas. Anak mungkin kesulitan memilih bagian mana yang perlu diceritakan. Coba gunakan pertanyaan yang lebih spesifik dan mudah dijawab.

Misalnya:

“Tadi waktu istirahat kamu memilih main apa?”

“Ada kegiatan yang membuatmu tertawa hari ini?”

“Pelajaran mana yang paling banyak memakai pensil?”

Ajukan satu pertanyaan dahulu. Dengarkan jawabannya sebelum berpindah ke hal lain. Jika anak hanya menjawab satu atau dua kata, Ayah/Bunda boleh menanggapi bagian tersebut tanpa langsung menambah banyak pertanyaan.

3. Ikut berbagi cerita singkat

Percakapan terasa lebih seimbang ketika orang tua juga berbagi. Ceritanya tidak harus panjang atau berat.

“Hari ini Bunda sempat mencari kunci cukup lama, ternyata ada di dalam tas.”

Kemudian beri kesempatan anak merespons. Bisa jadi ia tertawa, bertanya, atau menghubungkannya dengan pengalamannya sendiri.

Hindari menjadikan cerita orang tua sebagai pembanding, seperti “Bunda saja bisa, masa kamu tidak?” Gunakan cerita untuk membuka obrolan, bukan untuk menilai pengalaman anak.

4. Dengarkan dulu sebelum memberi solusi

Ketika anak mulai bercerita tentang kejadian yang tidak menyenangkan, tahan keinginan untuk segera menyimpulkan atau memberi nasihat.

Anak: “Tadi gambarku dibilang aneh.”

Bunda: “Kamu dengar temanmu bilang begitu. Waktu itu kamu merasa bagaimana?”

Anak: “Aku jadi nggak mau lanjut.”

Bunda: “Kamu mau Bunda dengarkan dulu, atau kita pikirkan bersama apa yang bisa dilakukan besok?”

Pilihan tersebut membantu Ayah/Bunda mengetahui bantuan yang sedang dibutuhkan. Jika cerita menyangkut keselamatan, perundungan, atau kejadian yang perlu ditangani sekolah, catat informasi penting dan komunikasikan dengan pihak terkait secara tenang.

5. Gunakan kegiatan bersama sebagai jembatan

Sebagian anak lebih mudah bercerita ketika tangannya sedang melakukan sesuatu. Ayah/Bunda dapat mengobrol sambil menyusun bekal, menggambar, berjalan santai, atau merapikan buku.

Tidak perlu meminta anak menatap langsung sepanjang percakapan. Biarkan obrolan muncul di sela kegiatan.

Ayah/Bunda juga dapat menggunakan benda sebagai pemantik:

“Ada tugas di buku ini yang ingin kamu tunjukkan?”

Jika anak berkata tidak ada, terima jawabannya. Kesempatan berbicara masih bisa hadir pada waktu lain.

Tutup percakapan dengan hangat

Saat anak selesai bercerita, berikan tanggapan yang menunjukkan bahwa ceritanya didengar.

“Terima kasih sudah cerita tentang waktu istirahatmu.”

Ayah/Bunda tidak harus selalu mendapatkan cerita lengkap setiap hari. Satu kejadian kecil, satu perasaan, atau satu hal lucu sudah dapat menjadi percakapan yang berarti.

Coba pilih satu pertanyaan konkret sore ini dan dengarkan jawabannya sampai selesai. Bila Ayah/Bunda ingin mendiskusikan kebutuhan belajar dan komunikasi ananda, tim Ayo Cerdas Indonesia siap menjadi teman berdiskusi melalui program yang sesuai dengan usia serta kebutuhannya.