“Aku nggak mau main lagi. Bunda menang terus!”

Papan permainan digeser, pion ditinggalkan, lalu anak menjauh. Ayah/Bunda mungkin ingin segera berkata, “Cuma permainan, kok.” Namun, kita bisa memilih respons yang mengakui rasa kecewanya sambil tetap menjaga aturan bermain.

Permainan keluarga tidak harus selalu berakhir dengan anak tersenyum. Ada kalanya ia senang, kesal, atau belum ingin melanjutkan. Tujuan pendampingan kali ini bukan membuat anak langsung menerima kekalahan, melainkan memberi contoh cara menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan.

Berikut beberapa langkah yang dapat dicoba saat bermain ular tangga, kartu pasangan, atau permainan sederhana lainnya.

1. Sepakati aturan sebelum mulai

Pilih permainan yang cara bermainnya sudah dimengerti anak. Jelaskan aturan utama dengan contoh, kemudian sepakati bagaimana permainan berakhir.

“Kita bergiliran melempar dadu. Yang sampai kotak terakhir lebih dulu menjadi pemenang.”

Untuk anak yang belum mengenal permainan, lakukan satu putaran percobaan tanpa menentukan pemenang. Jika menggunakan aturan yang disederhanakan, sampaikan sejak awal dan terapkan kepada semua pemain.

Ayah/Bunda juga dapat membuat kesepakatan tentang jeda:

“Kalau ingin berhenti sebentar, bilang, ‘Aku mau jeda.’ Pionnya kita biarkan di tempat.”

Hindari mengubah aturan diam-diam ketika anak hampir kalah. Jika aturan perlu diganti, bicarakan untuk putaran berikutnya.

2. Sebutkan yang terjadi, bukan memberi label

Saat anak kecewa, dekati dan gunakan kalimat singkat yang sesuai dengan kejadian.

Anak: “Nggak adil! Aku kalah!”

Bunda: “Kamu ingin menang, tetapi kali ini Bunda yang sampai duluan. Kamu kecewa, ya?”

Beri ruang untuk jawabannya. Anak tidak harus langsung mengangguk, tersenyum, atau mengucapkan selamat.

Kalau ia melempar benda, pisahkan perasaan dari tindakannya:

“Kamu boleh kesal. Pion tidak boleh dilempar ke orang. Bunda taruh dulu di meja.”

Hindari menyebut anak cengeng, lebay, atau membandingkannya dengan saudara. Percakapan cukup membahas situasi saat itu dan batas tindakan yang aman.

3. Tawarkan jeda tanpa memaksakan putaran baru

Setelah permainan selesai, tanyakan apakah anak ingin beristirahat atau melanjutkan. Tidak perlu langsung menawarkan pertandingan ulang sebagai cara menghapus kekalahannya.

“Mau minum dulu atau selesai bermain untuk hari ini?”

Jika anak memilih berhenti, terima pilihannya. Ajak membereskan permainan ketika suasana memungkinkan, tanpa menjadikan kegiatan merapikan sebagai hukuman karena ia kecewa.

Untuk anak TK, Ayah/Bunda dapat menawarkan dua pilihan sederhana. Anak SD bisa diajak menyampaikan pilihannya sendiri. Tetap sesuaikan percakapan dengan respons anak, bukan hanya jenjang sekolahnya.

Berhenti sejenak tidak mengubah hasil permainan, tetapi memberi kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya.

4. Beri contoh ketika Ayah/Bunda kalah

Pada kesempatan lain, saat Ayah/Bunda benar-benar kalah, tunjukkan respons yang wajar. Tidak perlu berpura-pura selalu gembira.

“Ayah tadi berharap menang. Ternyata kamu sampai duluan. Ayah kecewa sedikit, tetapi permainannya sudah selesai sesuai aturan.”

Lalu lakukan tindakan sederhana: meletakkan kartu, merapikan pion, atau bertanya apakah semua ingin bermain lagi.

Jika Ayah/Bunda sendiri sempat berbicara terlalu keras, boleh memperbaiki ucapan:

“Tadi suara Bunda keras. Maaf, ya. Bunda akan bicara lebih pelan.”

Contoh ini dapat menjadi bahan percakapan tanpa harus dilanjutkan dengan ceramah tentang sikap yang baik.

5. Bahas satu hal setelah suasana tenang

Saat anak sudah bersedia berbicara, tanyakan satu hal yang konkret.

“Tadi bagian mana yang paling membuatmu kesal?”

Dengarkan jawabannya sebelum menawarkan ide. Jika ia ingin mencoba lagi, sepakati kalimat yang bisa dipakai ketika mulai kesal:

  • “Aku ingin jeda sebentar.”
  • “Boleh jelaskan aturannya lagi?”
  • “Aku belum ingin bermain lagi.”

Sebutkan tindakan yang memang terlihat, misalnya, “Tadi kamu meminta jeda dan meletakkan pion di meja.” Hindari menuntut anak menunjukkan sikap sempurna pada permainan berikutnya.

Mulai dari satu permainan keluarga

Ayah/Bunda tidak perlu menyiapkan latihan khusus tentang menang dan kalah. Pilih satu permainan, buat aturan yang jelas, lalu dampingi respons yang muncul. Jika hari ini belum berjalan nyaman, catat bagian yang perlu disederhanakan untuk kesempatan berikutnya.

Ingin berbagi tentang pengalaman ananda menghadapi tantangan saat belajar? Ayah/Bunda dapat berdiskusi dengan tim Ayo Cerdas Indonesia. Ceritakan situasi yang sering muncul dan bantuan yang sudah dicoba agar percakapan dimulai dari kebutuhan keluarga.