Bukan Sekadar Membaca Kata, tetapi Menggunakannya
“Bun, habis ini diapakan?” tanya anak sambil memegang kertas untuk membuat pembatas buku. Biasanya kita langsung memberikan instruksi. Kali ini, bagaimana kalau petunjuknya ditulis singkat, lalu dibaca dan dicoba bersama?
Ayah/Bunda bisa mengenalkan membaca petunjuk melalui kegiatan membuat sesuatu. Anak tidak harus membaca seluruh kalimat sendiri. Ada yang baru mengenali kata, ada yang sudah lancar membaca tetapi masih perlu ditemani memahami urutannya. Pilih kegiatan sesuai kemampuan anak, bukan berdasarkan seberapa cepat ia menyelesaikannya.
1. Pilih Kegiatan yang Benar-Benar Ingin Dicoba
Mulailah dari pilihan sederhana, misalnya membuat pembatas buku atau kartu nama untuk kotak mainan. Hindari kegiatan dengan terlalu banyak bahan agar perhatian tidak habis untuk mencari perlengkapan.
Tawarkan dua pilihan: “Mau membuat pembatas buku atau kartu nama?” Setelah anak memilih, siapkan kertas, pensil, dan krayon bersama. Jika memerlukan potongan kertas, Ayah/Bunda boleh menyiapkannya lebih dahulu. Penggunaan gunting tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan anak dan didampingi.
Tidak harus menghasilkan karya seperti contoh. Yang sedang kita coba adalah mengikuti petunjuk tertulis untuk membuat karya milik anak sendiri.
2. Tulis Satu Tindakan dalam Satu Baris
Untuk membuat pembatas buku, siapkan potongan kertas berbentuk persegi panjang. Lalu tulis petunjuk berikut pada lembar terpisah:
1. Tulis namamu di bagian atas.
2. Gambar satu benda kesukaanmu.
3. Warnai gambarnya.
4. Letakkan pembatas di dalam buku.
Gunakan kalimat pendek dan tindakan yang jelas. Bila anak belum bisa membaca kata “pembatas”, bacakan tanpa menjadikannya ujian. Ayah/Bunda dapat menunjuk kata yang sedang dibaca, kemudian mengajak anak mencoba tindakannya.
Untuk anak yang sudah lebih lancar, biarkan ia membaca satu baris sendiri sebelum menawarkan bantuan. Tidak perlu langsung menambahkan banyak langkah hanya karena petunjuk pertama terasa mudah.
3. Baca, Lakukan, Lalu Kembali ke Petunjuk
Ajak anak membaca satu langkah, melakukan tindakannya, kemudian melihat lembar petunjuk lagi. Ia boleh memberi tanda centang pada langkah yang selesai.
Misalnya, setelah menulis nama, tanyakan, “Kita sudah melakukan bagian mana? Sesudah ini apa?” Jika anak langsung mewarnai kertas, tidak perlu buru-buru menyebutnya ceroboh. Coba lihat bersama apakah ada langkah menggambar yang terlewat.
Gunakan kalimat netral: “Di sini tertulis gambar dulu, lalu warnai. Kamu mau menggambar di bagian yang masih kosong?” Bila urutan terlanjur berbeda, cari penyesuaian yang masuk akal. Kertas tidak harus dibuang dan pekerjaan tidak harus diulang seluruhnya.
4. Saat Petunjuknya Membingungkan, Bicarakan
Kadang masalahnya bukan pada anak, melainkan pada kalimat yang kita tulis. Petunjuk “buat yang bagus” tidak menjelaskan tindakan tertentu. Begitu juga “taruh di sana” jika tempatnya tidak disebutkan.
Ayah/Bunda bisa mengakui, “Kalimat Bunda kurang jelas. Kita ubah menjadi ‘letakkan di dalam buku’, ya.” Anak juga boleh bertanya tentang kata yang belum dikenalnya.
Coba ajak ia menunjukkan bagian yang membingungkan: “Kata yang mana yang ingin kamu tanyakan?” Membaca petunjuk bukan berarti harus menebak maksud orang dewasa. Jika perlu, tambahkan gambar kecil sebagai penjelas, bukan sebagai hiasan wajib.
5. Bergantian Menjadi Pembuat Petunjuk
Setelah selesai, tawarkan permainan kebalikan: anak memberi petunjuk, Ayah/Bunda yang mencoba. Untuk anak yang belum menulis mandiri, ia boleh mendiktekan kalimat dan orang tua menuliskannya.
Misalnya, “Gambar lingkaran. Tambahkan dua mata. Buat mulut tersenyum.” Baca kembali tulisannya sebelum mulai menggambar. Jika hasilnya berbeda dari bayangan anak, tanyakan bagian mana yang ingin diperjelas.
Tidak perlu sengaja salah untuk membuat anak kesal. Ikuti petunjuk dengan sungguh-sungguh, lalu nikmati kesempatan berganti peran.
Tutup dengan Memakai Hasil Karyanya
Gunakan pembatas buku itu saat membaca berikutnya. Ajak anak memilih halaman tempat ia ingin menyimpannya. Kegiatan pun punya penutup yang nyata, bukan hanya lembar yang selesai dikerjakan.
Bila Ayah/Bunda ingin menyesuaikan tingkat bacaan dengan kegiatan belajar anak, diskusikan contoh petunjuk sederhana ini dengan pengajar ACI. Mulai dari satu karya dan beberapa kalimat saja. Hari ini, tulisan menjadi teman untuk melakukan sesuatu bersama.
