“Masing-Masing Dapat Berapa?”

Saat anak menyiapkan tempat untuk boneka-bonekanya, Ayah/Bunda bisa menyelipkan tantangan kecil: “Ada enam balok dan dua boneka. Bagaimana supaya setiap boneka mendapat jumlah yang sama?”

Tidak perlu langsung menuliskan soal pembagian. Kali ini, kita mengajak anak membagi benda ke beberapa kelompok sama banyak melalui permainan. Gunakan balok berukuran besar atau kartu kertas yang aman, bukan benda kecil yang mudah tertelan. Dampingi anak dan pilih jumlah yang nyaman untuk dihitung bersama.

Mulai dari Dua Kelompok

Siapkan dua alas kertas sebagai tempat menaruh benda. Letakkan enam balok di tengah, lalu sepakati bahwa setiap alas mewakili satu boneka.

Ajak anak memberikan balok satu per satu secara bergiliran: satu ke alas pertama, satu ke alas kedua, lalu ulangi sampai balok di tengah habis. Setelah itu, hitung isi masing-masing alas.

“Di sini ada tiga. Di sana juga tiga. Berarti keduanya mendapat sama banyak.”

Jika anak menaruh empat di satu alas dan dua di alas lainnya, jangan langsung merapikannya sendiri. Tanyakan, “Apakah jumlahnya sudah sama? Bagaimana kalau kita pindahkan satu?” Biarkan anak mencoba dan menghitung ulang hasilnya.

Bedakan Jumlah Benda dan Jumlah Kelompok

Kadang anak menyebut angka enam ketika ditanya isi setiap kelompok. Daripada mengatakan “Bukan begitu,” tunjukkan kembali bagian yang sedang dibicarakan.

“Enam itu semua balok kita. Sekarang Bunda bertanya tentang balok di alas yang ini saja.”

Gunakan tiga pertanyaan secara bergantian, tidak harus sekaligus:

  • Ada berapa benda seluruhnya?
  • Ada berapa kelompok?
  • Setiap kelompok berisi berapa benda?

Anak boleh menjawab sambil menunjuk atau menghitung dengan suara pelan. Untuk anak TK, kegiatan memindahkan dan menghitung benda sudah bisa menjadi isi permainan. Anak SD yang sudah mengenal simbol dapat menuliskan 6 ÷ 2 = 3 setelah memahami contoh bendanya.

Coba Jumlah Kelompok yang Berbeda

Pada putaran berikutnya, tetap gunakan enam balok, tetapi siapkan tiga alas. Tanyakan, “Sekarang ada tiga boneka. Kalau dibagi sama banyak, masing-masing mendapat berapa?”

Bagikan kembali satu per satu. Hasilnya, setiap alas berisi dua balok. Bandingkan dengan putaran sebelumnya: bendanya tetap enam, tetapi jumlah kelompoknya berubah.

Tidak perlu buru-buru menjelaskan aturan panjang. Cukup bicarakan yang terlihat: “Tadi dua kelompok, masing-masing tiga. Sekarang tiga kelompok, masing-masing dua.”

Jika anak masih ingin mengulang pembagian ke dua kelompok, ikuti dulu. Variasi adalah pilihan, bukan target yang harus dituntaskan dalam satu sesi.

Kalau Ada Sisa, Tidak Perlu Dipaksakan Habis

Sekarang coba tujuh balok untuk dua kelompok. Setelah setiap alas mendapat tiga, akan tersisa satu balok di tengah.

Katakan, “Masing-masing sudah mendapat tiga, dan masih ada satu yang belum dibagikan.” Untuk aturan permainan ini, balok tetap utuh dan kedua kelompok harus sama banyak. Jadi, balok terakhir boleh tetap di tengah.

Sisa bukan tanda anak salah menghitung. Ajak anak melihat kembali jumlah awal dan hasil pembagiannya. Jika ia ingin memberikan balok terakhir kepada salah satu boneka, jelaskan bahwa jumlah kedua kelompok akan berbeda.

Hindari memaksa anak membahas pecahan jika ia belum mempelajarinya. Kita cukup menyebut hasil yang benar-benar terlihat: tiga di setiap kelompok, sisa satu.

Hubungkan dengan Kegiatan Sehari-Hari

Permainan ini bisa dilanjutkan ketika menyiapkan alat gambar. Misalnya, ada delapan krayon untuk dua wadah kegiatan. Ajak anak membagikannya sehingga setiap wadah berisi empat krayon.

Namun, jelaskan bahwa sama banyak tidak selalu menjadi aturan untuk semua situasi. Porsi makan anggota keluarga, misalnya, tidak harus sama karena kebutuhannya dapat berbeda. Dalam permainan tadi, kita memang sengaja memilih aturan jumlah yang sama.

Akhiri saat anak masih nyaman, lalu rapikan benda bersama. Ayah/Bunda dapat menceritakan cara anak membagi dan menghitung kepada pengajar ACI untuk mendiskusikan latihan numerasi berikutnya. Mulai dari beberapa benda saja: yang kita cari adalah kesempatan memahami prosesnya, bukan kecepatan menyebut jawaban.