Dahsyatnya Jam Istirahat Sekolah

Dahsyatnya Jam Istirahat Sekolah

Dahsyatnya Jam Istirahat Sekolah

Jam istirahat sekolah yang dalam bahasa Inggris disebut dengan school recess atau school break ini merupakan istilah umum untuk menyebut periode waktu tertentu di mana para siswa berhenti sejenak dari tugas-tugasnya. Pengadaan jam istirahat seperti ini dicetuskan pertama kali oleh Amos Bronson Alcott, seorang pendidik berkebangsaan Amerika kelahiran tahun 1799, yang menginginkan para muridnya memiliki waktu untuk permainan fisik yang aktif dan waktu untuk mengobrol.

Namun, disamping membuat siswa rileks dari jam belajar, sebenarnya ada juga banyak pelajaran hidup yang dipelajari di tempat bermain saat jam istirahat. Orang tua semestinya mulai memahami betapa pentingnya istirahat untuk perkembangan anak. Dalam sebuah pernyataan, The American Academy of Pediatrics mengatakan, “Jam istirahat merupakan hal penting karena memberi waktu untuk beristirahat, bermain, berimajinasi. berpikir, bergerak dan bersosialisasi. “

Dan, mungkin poin yang lebih penting,” Siswa lebih perhatian dan lebih baik kognitifnya setelah reses.” Di Jepang, banyak sekolah mengharuskan mahasiswa untuk mengambil istirahat setelah SETIAP 60 menit ? Dalam peringkat “Learning Curve” pendidikan global tahun ini, Jepang adalah yang kedua. Mungkin jam istirahat sekolah bukan satu-satunya rahasia sukses Jepang, tapi bukannya tidak masuk akal untuk menyarankan bahwa “istirahat yang sering” layak mendapat tempat penting.

Pemotongan Jam Istirahat

Menurut jajak pendapat Gallup yang dipelopori oleh Robert Wood Johnson Foundation, 77 persen kepala sekolah melaporkan bahwa mereka memotong/meniadakan jam istirahat sebagai hukuman. Dalam laporan yang sama, delapan dari sepuluh kepala sekolah mengakui bermain memiliki “dampak positif pada prestasi,” dan dua-pertiga dari kepala sekolah menyatakan, “Siswa mendengarkan lebih baik setelah istirahat dan lebih fokus dalam kelas.”.  Ini adalah praktek yang perlu untuk menyelaraskan ‘apa yang kita tahu’ dengan ‘apa yang kita lakukan’.

Manfaat kesehatan dari Jam Istirahat

Aktivitas fisik adalah latihan tubuh yang meningkatkan atau mempertahankan kebugaran fisik dan kesehatan secara keseluruhan. Aktivitas fisik sebagai cara pembakaran energi atau kalori. Aktivitas fisik secara teratur penting bagi anak-anak untuk berbagai alasan, tidak sedikit yang memberi manfaat kesehatan jangka panjang. Aktivitas fisik juga membantu dalam menjaga berat badan yang sehat bagi anak-anak sekolah.

Selain manfaat kesehatan jangka panjang, anak-anak juga mendapat manfaat dari tetap aktif dalam beberapa cara lain.

Beberapa manfaat tambahan adalah:

Penurunan kemungkinan depresi

Membantu untuk tidur nyenyak di malam hari

Penguatan tulang dan otot

Membantu menjaga berat badan yang sehat

Menikmati kemampuan untuk bergerak dengan mudah.

Hubungan Antara Aktivitas Fisik Pada Recess dan Prestasi Akademis

Dalam sebuah bagian yang muncul dari penelitian menunjuk ke hubungan antara aktivitas fisik dan akademis. Kebiasaan baik adalah kunci untuk kesehatan yang baik; siswa yang sehat tampil lebih baik secara akademis, memiliki tingkat kehadiran (absensi) yang lebih baik, dan berperilaku baik di kelas,data ini diambil dari American Heart Association.

Tiga ulasan studi berikut menyimpulkan bahwa program aktivitas fisik berbasis sekolah dapat memberi manfaat kognitif jangka pendek (Taras, 2005), meningkatkan fungsi kognitif pada anak-anak (Sibley & Etnier, 2003), dan tidak menghambat prestasi akademik (Trudeau & Shepard, 2008). Kegiatan istirahat fisik seperti waktu reses telah terbukti mengurangi rasa gelisah, meningkatkan kemampuan anak untuk fokus, dan memerangi depresi serta kecemasan.

Mungkin sekarang Kita bisa setuju, jam istirahat di sekolah memang lebih dari sekadar “waktu bermain anak”.

Waspadai Anak Suka Memukul

Waspadai Anak Suka Memukul

Kebanyakan orang tua yang merasa malu saat anaknya marah hingga memukul anak lain di lingkungannya bahkan di sekolahan. Walaupun sebenarnya sebagai orang tua kita tahu benar apa yang sedang dialami atau dirasakan oleh anak-anak ketika mereka memukul orang lain. Namun, kondisi seperti ini tentu membuat Parents merasa khawatir.

Ya, khawatir karena sering melihat anak dianggap musuh oleh teman-temannya, guru-guru dan orangtua lain di sekolah sering memberi label sebagai anak nakal. Tentunya, Parents tidak ingin anak-anak dijauhi oleh teman dan diberi label negatif itu ,bukan?

Nah, untuk itu, mari kita pahami apa saja sih alasan anak memukul atau melukai anak-anak lain:

Berhubungan dengan Masalah Inderawi

Setiap anak memiliki tingkat sensitivitas inderawi (sensorik) yang berbeda-beda. Hal ini berarti apa yang anak rasakan mungkin berbeda dengan apa yang dirasakan oleh anak-anak lainnya. Misalnya ada anak-anak yang sangat sensitif dan memiliki kepekaan terhadap panca inderanya. Sehingga saat anak disentuh atau dikerumuni anak-anak lain, anak merasa sangat tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman akibat masalah inderawi yang cukup sensitif inilah yang membuat anak-anak memukul, mendorong atau melakukan hal lain yang bisa melukai temannya.

Jika Anak memang cukup sensitif, maka kita bisa menanganinya dengan menghargai kebutuhan ruang bagi anak. Misalnya bantu anak terhindar dari kerumunan anak-anak lainnya, atau mengeluarkan anak-anak dari situasi yang terlalu merangsang sensoriknya.

Sebaliknya, ada juga anak yang justru membutuhkan lebih banyak input sensorik. Sehingga anak tersebut akan memukul atau atau melukai sebagai cara untuk mengeksplorasi sensasi “sentuhan”. Beberapa contoh tindakan yang dilakukan oleh anak yang butuh lebih banyak input sensorik adalah anak yang suka mencubit, bergulat dan meremas. Nah, jika anak memang mengalami hal ini, Kita bisa segera berkonsultasi dengan ahli medis untuk dilakukan penanganan atau terapi khusus.

Penasaran

Beberapa anak mungkin penasaran terhadap sesuatu, termasuk penasaran terhadap teman yang memiliki reaksi cukup besar. Misalnya jika teman anak seringkali menangis bahkan karena hal yang sepele. Lalu anak merasa penasaran dengan reaksi temannya tersebut dan mulai melakukan berbagai hal termasuk perilaku yang bisa melukai temannya.

Mungkin di dalam hati, anak bertanya-tanya, kira-kira apa saja ya yang bisa membuat dia menangis? Apa yang terjadi jika saya menggunakan satu jari untuk mendorong dia? Lalu, apakah dia juga akan menangis jika saja menggunakan seluruh kekuatan saya untuk mendorongnya?

Sebagai orang tua, kita perlu sadar bahwa rasa penasaran anak memang sangat wajar terjadi. Kondisi ini akibat dari perkembangannya mengeksplorasi hal-hal yang ada di sekitarnya. Untuk itu, keluarkan anak dari situasi tersebut dan ajak anak melakukan aktivitas lainnya, sehingga rasa penasaran anak bisa disalurkan pada hal yang lebih bermanfaat.

Penuh Energi

Adakalanya anak penuh dengan energi, sehingga bisa membuat mereka melakukan hal yang bisa merusak atau melukai orang lain. Kita perlu memahami, kapan saja anak memiliki banyak energi.

Beberapa anak mungkin memiliki banyak energi setelah seharian berada di dalam rumah. Untuk itu, salurkan energi anak dengan aktivitas yang lebih positif, misalnya berolahraga. Kita bisa membawa anak berlarian di taman atau bersepeda santai di sekitar lingkungan rumah. Kita juga bisa mengajak anak melakukan hal lain yang disukainya, misalnya bernyanyi atau sekedar melompat-lompat.

Komunikasi

Perilaku suka memukul atau melukai orang lain bisa juga disebabkan karena kendala komunikasi. Mungkin anak masih berusia terlalu dini, sehingga belum memiliki kemampuan bahasa yang baik. Hal inilah yang membuat anak kadang tidak mampu menyampaikan apa yang diinginkan.

Akibatnya, anak menyampaikan pendapatnya dengan cara lain, misalnya memukul atau melukai orang lain. Langkah ini dilakukan anak untuk mendapat perhatian dari orang lain, misalnya orangtua, guru, maupun orang-orang disekitarnya. Anak-anak yang suka memukul dan menyakiti orang lain memang membuat orang tua sangat khawatir. Untuk itu, kita harus memahami alasan anak-anak melukai orang lain.

Mimpi Buruk, Anak Sekolah Terlalu Dini

Mimpi Buruk, Anak Sekolah Terlalu Dini

Beberapa anak usia dini mungkin tidak menunjukkan reaksi tertentu saat sekolah. Beberapa yang lain bisa saja menunjukkan reaksi tertentu. Misalnya sering ngompol walaupun sudah tidak pernah mengompol selama beberapa bulan, sulit tidur di malam hari, dan lebih melekat pada orangtua di siang hari. 

Banyak studi yang menemukan fakta bahwa, anak-anak yang berusia terlalu dini bisa saja stres. Beberapa stres tersebut disebabkan karena anak berada di lingkungan asing. Misalnya, penitipan anak (children daycare) atau setingkat TK dan KB (kelompok belajar).

Studi dari Norwegian University of Science, menemukan fakta bahwa anak-anak yang berada di daycare memiliki hormon kortisol lebih tinggi sekitar 25% di pagi hari. Sedangkan saat mereka kembali ke rumah di sore hari, hormon tersebut menurun.

Hormon kortisol juga disebut “hormon stres”. Semakin banyak hormon ini diproduksi oleh tubuh. Maka semakin tinggi stres seseorang. Menurut penelitian tersebut, anak-anak yang berada di lingkungan asing lebih dari 8 jam, mengalami lebih banyak stres.

Banyak diantara orangtua yang bertanya, kenapa anak bisa stres? Padahal di sekolah anak bertemu dengan teman sebayanya. Anak bahkan bisa bermain-main dengan teman-temannya.

Prof May Britt Drugli dari Norwegian University of Science menjelaskan alasan dibaliknya. Menurut Prof. Drugli, anak-anak yang masih sangat kecil belum memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan bersosialisasi dengan banyak orang, termasuk dengan teman-teman sebayanya. Ia menegaskan, hal inilah yang menyebabkan mereka stres, karena mereka merindukan orang tua.

Hal yang sama juga dikatakan oleh dosen PG Paud UKSW, Melita Rahardjo, M. Teach (EC) pada School of Parenting. Menurut Melita, anak yang berusia 3 tahun akan sulit membangun kelekatan dengan teman-teman sebayanya. Hal ini karena perkembangan sosial, emosi dan bahasa anak tersebut dan teman-teman sebayanya belum ‘mumpuni’. Sehingga anak merasa kurang nyaman dan aman. 

Melita menambahkan, bahwa tahapan bermain anak berusia dini yaitu “parallel play” (bermain sendiri) dan belum masuk ke tahap bermain “sosial play” (bermain bersama teman). Sehingga anak bisa saja mengalami kesulitan saat bermain dengan teman sebayanya.

Ciri Anak yang Mengalami Stres di Usia Dini

Anak yang mengalami stres memiliki perilaku yang berubah diluar kebiasaan. Misalnya anak mengompol, perubahan pola tidur, mimpi buruk, mengisap jempol, dan memutar-mutar rambut. Selain itu, anak yang mengalami stres juga bisa menunjukkan gejala fisik, seperti sakit perut dan sakit kepala.

Perubahan pun bisa terjadi saat anak berada di sekolah. Misalnya anak jadi menyendiri dan tidak mau bermain dengan teman-teman sebaya. Beberapa anak lain juga menjadi sulit berkonsentrasi dan tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah dengan baik.

Cara Mengatasi

Pilih Waktu Yang Tepat Anak Bersekolah

Pemilihan waktu yang tepat untuk memasukkan anak ke sekolah formal sangat penting. Sebaiknya Parents melihat kesiapan anak masuk sekolah. Kesiapan anak untuk masuk ke sekolah formal bukan hanya dilihat dari usia anak tersebut. Namun yang lebih penting adalah perkembangan sosial emosional anak. Termasuk kemampuannya dalam berbahasa.

Observasi Respon Anak Pada Lingkungan Baru

Sebaiknya, orangtua mulai mengobservasi respon anak pada lingkungan baru. Cara nya dengan menanyakan pada anak tentang lingkungan barunya. Misalnya, “Tadi adek main apa ya di TK? Mama mau tau dong?” Saat anak merespon pertanyaan tersebut dengan menceritakan secara positif. Maka anak boleh dikatakan sudah siap berada dilingkungan yang baru.

Kurangi Waktu Sekolah atau Penitipan Anak

Jika anak masih menunjukkan gejala stres selama 3 minggu. Sebaiknya Parents mengurangi waktu sekolahnya atau mengurangi waktu anak di penitipan anak. Menurut psikolog anak, Emma Citron, dari citronpsychology.co.uk beberapa anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk berada di lingkungan baru.

Cobalah untuk memasukkan anak di TK/KB/Children Daycare pada hari-hari tertentu saja. Selebihnya, biarkan anak berada di rumah dekat dengan orangtua atau anggota keluarga lain yang memang sudah terbiasa dengan anak.

Percayalah Pada Intuisi Orangtua

Sebaiknya mulai percaya pada intuisi Anda. Jika Parents mulai melihat anak mengalami perubahan perilaku ke arah yang cenderung negatif dan Parents merasa ia tertekan atau tidak nyaman setelah jangka waktu tertentu masuk TK/KB/Children Daycare, sebaiknya anda pikirkan kembali keputusan untuk menempatkan anak di lingkungan baru. 

Beri Lebih Banyak Pelukan dan Ciuman Pada Anak

Pelukan dan ciuman pada anak bisa membantu anak mengurangi stres dan membantu anak menghadapi hari-harinya. Sebaiknya sering-sering lah memeluk anak dan menciumnya. Hal ini juga bermanfaat untuk membuat anak rileks dan tenang.

Setiap anak memang memiliki kesiapan yang berbeda dalam menghadapi lingkungan yang baru. Termasuk kesiapannya untuk masuk TK, KB atau penitipan anak. Sebaiknya gunakan waktu Parents untuk mengobservasi kesiapan anak. Usahakan tidak memasukkan anak di TK, KB atau penitipan anak hanya karena ikut-ikutan orangtua lain atau sekedar tekanan lingkungan. Ingat, kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kesehatan fisiknya.

Anak Generasi Home Service?

Anak Generasi Home Service?

Generasi home service adalah generasi yang memiliki kebiasaan kurang baik, yaitu untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya, mereka akan selalu minta dilayani. Hal ini terjadi pada anak-anak yang selama masa kecilnya sudah terbiasa untuk selalu dilayani oleh orang tuanya atau oleh orang yang diberikan amanah untuk menjaganya, seperti Asisten Rumah Tangga (ART) atau baby sitter yang 24 jam  selalu berada di samping sang anak untuk memenuhi kebutuhannya.

Meminta bantuaan kepada ART atau baby sitter bukanlah suatu hal yang keliru, melainkan akan menjadi keliru apabila orang tua terlalu mengandalkan mereka dalam menjaga anak tanpa mengontrolnya sendiri. Dalam  metode parenting, orang tua tidak boleh terlalu membiasakan anak mendapatkan yang diinginkan dengan mudah. Anak dilatih untuk terbiasa berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu sebab itu akan  membuat mereka kelak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Bagaimana Parenting Mengajarkan Anak agar Mereka Tumbuh Menjadi Anak yang Mandiri dan Jauh dari Generasi Home Service?

1. Biasakan Anak Tumbuh dengan Tantangan

Mengutip dari perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan.” Permasalahannya ialah tak semua orang tua terbiasa memberikan ‘hadiah cantik’ itu kepada anaknya. Dapat dilihat bahwa saat ini begitu banyak orang tua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan justru memberikan tantangan kepada anaknya sebagai cara untuk mendidik mereka.

Memberikan tantangan kepada anak dapat membuatnya mandiri. Sebagai contoh nyata, ketika anak  memakai kaus kaki dan sepatu. Seringkali orang tua tidak sabar melihat si anak mencoba memakai sepatunya sendiri dengan perlahan. Seketika pun orang tua mengambil peran untuk memakaikan itu kepada sang anak, padahal dengan memakai kaus kaki dan sepatu sendiri, anak akan terlatih dan terbiasa melakukan hal tersebut serta menjadikannya mandiri. Sebaliknya, semakin anak dimanjakan dengan dipakaikan kaus kaki dan sepatu oleh orang tua, kelak mereka akan meminta untuk dilayani seperti itu sebab mereka tidak terbiasa melakukannya seorang diri. Hal ini tentu saja tidak dianjurkan dalam parenting.

Contoh lain yang seringkali terjadi ialah ketika anak bertengkar dengan temannya karena persoalan  mainan. Bermain, lalu bertengkar karena berebut mainan merupakan hal biasa bagi anak. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Namun, jika memang sansang anak belum mengerti, cukup jelaskan kepada anak bahwa bertengkar bukanlah  hal yang baik. Bukan justru sebaliknya, seringkali kita melihat banyak orang tua malah memarahi teman anaknya itu dan dengan sengaja membela sang anak. Ada pula yang langsung membawanya pulang dan mengatakan bahwa nanti orang tuanya akan membelikan mainan seperti itu lagi kepada anaknya. Ini merupakan  metode yang salah.

2. Jangan Terlalu Banyak Melarang

Setiap anak yang berada dalam  masa tumbuh  kembang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi akan banyak hal sehingga seringkali membuat mereka ingin mencoba melakukannya secara leluasa. Namun, orang tua tak jarang selalu memiliki ketakutan jika hal-hal buruk akan terjadi pada anaknya jika melakukan ini dan itu. Oleh sebab itu, orang tua memberi larangan atau batasan terhadap suatu hal yang bisa membahayakan anak. Padahal, larangan hanya akan membuat sang anak takut pada banyak hal dan membuaut mereka menjadi sangat bergantung pada orang tuanya.

Sesekali biarkanlah sang anak untuk melakukan yang mereka inginkan selama hal tersebut tidak berbahaya. Biarkan mereka mengetahui dampak atas yang mereka lakukan, seperti jika mereka bermain lari-larian di tempat licin, mereka akan terjatuh sehingga mereka kelak tidak akan melakukan yang sama lagi. Dalam hal ini, orang tua harus berkomunikasi dengan sangat baik kepada anaknya. Ketika anak ingin melakukan berbagai hal, cukup ingatkan mereka tentang risiko yang mungkin terjadi dan mintalah anak untuk berhati-hati. Tak perlu sampai melarang sang anak untuk melakukan hal ini dan itu selama hal itu tidak berbahaya.

3. Latih Anak untuk Bertanggung  Jawab

Ketika anak berumur 7 tahun ke bawah, orang tua dapat mendidik anak sambil bermain. Latih mereka dengan memberikan tanggung  jawab, meskipun orang tua harus tetap mengontrolnya, seperti sang anak harus dapat mandi sendiri, makan sendiri, dan membereskan mainan.

Untuk anak usia 7—14 tahun, orang tua sudah dapat melatihnya untuk belajar disiplin, misalnya menyuruhnya salat tepat waktu, belajar berpuasa, mengerjakan PR, dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Bila anak sudah berusia 7—14 tahun dan tidak melakukan kewajibannya, ingatkan mereka agar mereka terbiasa dan disiplin. Untuk anak usia 14—21 tahun, orang tua harusnya bisa bersikap sebagai sahabat atau teman akrab.

Mungkin, membiasakan anak untuk mandiri dan bertanggung jawab sejak mereka kecil  terlihat  sedikit kejam pada anak, namun bukan demikian, tujuannya adalah membentuk sang anak menjadi pribadi yang tangguh.

Membangun IQ dan EQ Sejak Dini

Membangun IQ dan EQ Sejak Dini

Kecerdasan tidak diukur IQ saja, EQ atau kecerdasan emosional juga penting bagi kesuksesan anak di masa mendatang. Membesarkan anak yang cerdas penting bagi para orangtua era sekarang. Tapi apa sebenarnya arti dari anak yang cerdas dan apa pentingnya EQ?

Sebagian besar dari kita mengasosiasikan “kecerdasan” dengan IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan kognitif, yang mengukur kemampuan anak seperti pemecahan masalah, penalaran, berpikir abstrak, dan memahami ide-ide baru. Dalam banyak kasus, skor IQ anak dapat memprediksi tingkat kompleksitas kognitif yang bisa ia tangani. Namun, skor numerik pada kertas tes tentu tidak mewakili kecerdasannya secara keseluruhan.

Apa itu kecerdasan emosional (EQ)?

“Bagaimanapun tingginya IQ, EQ adalah yang menentukan seberapa baik kita menggunakan kecerdasan,” kata Daniel Goleman, PhD, seorang psikolog Harvard yang mempopulerkan gagasan EQ dengan buku best seller-nya, ‘Emotional Intelligence’.

Anak yang memiliki empati, kesadaran diri, mudah berbaur dengan lingkungannya, secara alami akan memiliki kemampuan belajar yang baik di masa mendatang. Dan sebaliknya, anak yang kurang matang secara emosional, yang katakanlah tidak dapat mengendalikan dorongan impulsifnya, lebih cenderung memiliki masalah akademik.

Seperti IQ, EQ juga setidaknya sebagian merupakan bawaan, atau genetis. Tapi hanya melalui stimulasi dan nutrisi yang baik selama masa kanak-kanak lah, kecerdasan emosional dapat dibentuk. Nutrisi yang tepat, dapat membentuk anak hebat yang cepat tanggap dan juga punya rasa peduli dengan kemampuan sosial yang tinggi. Untuk itu, memastikan anak tetap mendapatkan nutrisi yang baik setelah masa menyusui, adalah pilihan yang penting.

Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan emosional anak, orangtua harus bisa menyadari perasaan anak, mampu berempati, menghibur, dan membimbing anak dalam keseharian mereka. Dengan peran aktif orangtua, anak dapat memiliki kemampuan untuk mengendalikan dorongan hati, menunda pemuasan sesaat, memberi motivasi diri mereka sendiri, membaca isyarat sosial orang lain, dan menangani kondisi naik-turunnya kehidupan.

Langkah-langkah untuk meningkatkan EQ anak

Memupuk EQ anak sejak dini berarti mengajari anak untuk mengerti dirinya, bertanggung jawab serta menghargai orang lain. Selain itu, juga mendukung anak menjadi lebih percaya diri dan memiliki tingkah laku yang baik.

Anak yang memiliki EQ tinggi cenderung memiliki hubungan yang lebih baik terhadap anggota keluarga, teman sekolah, ataupun orang lain yang ia temui dalam kehidupannya sehari-hari. Berikut langkah-langkah yang bisa Parents lakukan untuk mengasah kecerdasan emosional anak.

1. Ajak anak mengenali dirinya

Bertanyalah pada diri Anda sendiri, “Siapakah aku?” Dapatkah Anda menjawabnya dengan mudah? Begitu pula dengan anak Anda, ajaklah ia untuk mengenal siapa dirinya, apa saja kelebihan dan kelemahan yang ia miliki, termasuk bakat dan minatnya. Semakin ia tahu kemampuan dirinya, semakin tinggi rasa percaya dirinya. “Kamu bisa,” adalah ucapan yang memberikan dukungan moral pada saat anak ragu akan kemampuan dirinya.

2. Ajari anak agar menerima kelemahan diri

Setelah mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ia miliki, ajarlah agar ia menerimanya. Hal ini juga akan mengajarinya untuk dapat menerima kekurangan orang lain. Tidak ada salahnya Anda berkata “Maaf,” saat Anda tidak dapat menepati janji kepadanya. Anak Anda akan belajar menerima kekurangan orang lain dan ia akan terbiasa meminta maaf pula bila melakukan kesalahan.

3. Ajari anak agar ia menghargai diri sendiri

Mulailah dengan cara paling sederhana, misalnya memberikan kebebasan meminta menu sarapan yang ia inginkan, atau memilih baju yang ia ingin gunakan. Berikan tugas kecil kepadanya agar ia merasa bangga dan puas bila berhasil menyelesaikannya tanpa bantuan Anda.

4. Bangun konsep diri yang positif pada anak

Caranya, hargai setiap keberhasilan yang dilakukan anak. Ucapkan “Terima kasih,”, “Bagus”, “Pertahankan,” adalah salah satu contoh penghargaan Anda terhadap usahanya. Dengan cara ini anak akan merasa percaya diri akan kemampuannya. Ia tahu apa yang dapat ia lakukan. Dan ia pun akan menjadi anak yang mandiri dan tidak selalu merengek minta bantuan.

Dampak Buruk  Balita Nonton Film Horor

Dampak Buruk Balita Nonton Film Horor

Ternyata adajuga balita yang suka menonton film horor. Menurut pakar psikoanalisis, fenomena balita suka menonton film horor sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kesukaan sebagian orang pada sensasi menegangkan saat naik roller coaster atau bungee jumping. Meski masih bisa dibilang normal, kebiasaan balita menonton adegan menyeramkan tetap harus dibatasi dan diawasi.

Mengingat pola pikir dan kepribadiannya masih dalam tahap perkembangan awal, ada beberapa akibat balita menonton film horor yang tidak boleh disepelekan oleh orang tua. Apa saja, ya?

Gangguan Kecemasan

Walau tidak pernah terlihat ketakutan atau diganggu mimpi buruk, bukan berarti Si Kecil tidak dihinggapi rasa takut dan cemas lho. Hasil studi yang dilansir oleh jurnal Media Psychology mengungkap bahwa balita yang suka menonton film horor ternyata sering dihinggapi rasa takut kehilangan kendali, takut mati, dan perasaan seolah hidup di dunia lain.

Selain karena masih kesulitan membedakan antara fiksi dan kenyataan, hal ini juga disebabkan karena balita belum memiliki cukup pengalaman hidup untuk memahami dunia dalam film horor.

Gangguan Tidur

Kita biasanya jadi mudah merasa takut setelah menonton film horror. Bayangan benda atau hembusan angin dari jendela saja bisa membuat kita kesulitan memejamkan mata. Hal yang sama juga bisa dirasakan oleh balita yang suka menonton film horor, sehingga dia jadi sulit terlelap dan tidurnya tidak berkualitas dalam jangka panjang.

Padahal kurang tidur di usia balita dapat menimbulkan berbagai efek negatif, seperti mood swing, mudah stres, kesulitan belajar, resiko depresi, serta berbagai masalah kesehatan lainnya di masa depan.

Kecenderungan Sikap Agresif

Banyak hasil penelitian menunjukkan kalau terjadi peningkatan perilaku agresif sebagai akibat balita suka menonton film horor. Itulah kenapa Association for Youth, Children, and Natural Psychology menganjurkan orang tua untuk mendampingi dan memberikan pengertian akan konsekuensi dari perilaku agresif yang sering muncul dalam film horor.

Gangguan Empati

Yang tak disangka, kecenderungan sikap welas asih dan empati balita ternyata bisa terkikis bila terlalu sering menonton film horor. Menurut Dr. Brad Brushman dari University of Ohio, Moms perlu segera melakukan intervensi bila balita mulai tertawa ketika ada orang yang ketakutan atau malah cuek saat melihat orang mengalami kesulitan.

Film horor memang sebaiknya tidak ditonton oleh anak berusia di bawah 10 tahun, karena kapasitas mental dan kemampuan kognitifnya belum mencukupi. Itulah kenapa orang tua tetap perlu memegang kendali atas tayangan dan hiburan buah hatinya.

Mengenal Sekolah Parenting

Mengenal Sekolah Parenting

Problem tak hanya dihadapi orang tua baru yang tak punya pengalaman mengurus anak, tapi juga orang tua dengan buah hati yang sudah besar. Dulu, cara merawat dan mendidik anak diwariskan dari generasi ke generasi. Kini, zaman sudah berubah dan terkadang wejangan lama tak lagi relevan.

Saat ini orang tua harus bisa menyesuaikan cara mendidik anak sesuai zamannya. Orang tua tidak bisa selalu bergantung pada tradisi yang diwarisi dari orang tua sebelumnya untuk mendidik dan merawat anak. Untuk itu banyak sekali program pengasuhan agar orang tua mampu memahami bagaimana kehidupan anak saat ini dan cara mendidiknya. Saat ini, informasi tentang modern parenting pun bisa dengan mudah didapatkan lewat berbagai media. Contohnya lewat buku, Internet, seminar parenting, sampai sekolah parenting.

Apa Itu Sekolah Parenting?

Seminar parenting umumnya berlangsung singkat, misalnya dua jam, dan peserta cenderung pasif mendengarkan penuturan para pakar. Karena bersifat massal, tips yang diberikan cenderung general.

Hal ini berbeda dengan sekolah parenting atau kelas parenting (parenting class). Dengan jumlah peserta yang dibatasi, pembelajaran intensif, dan ragam topik yang bisa dipilih, sekolah parenting dapat memberikan efek yang lebih besar pada orang tua.

Program yang Ditawarkan

Sekolah parenting memang tak banyak di Indonesia, salah satunya adalah Auladi Parenting School yang bermarkas di Bandung, menawarkan empat macam program. Program dasar pendidikan anak di rumah disebut Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) dan berlangsung selama dua hari.

Selanjutnya, ada Program Disiplin Anak (PDA) yang berlangsung seharian untuk orang tua dengan anak usia 0-12 tahun. Bagi kita yang memiliki anak berusia di atas 12 tahun, kita  bisa mengikuti Karunia Cinta Remaja (KCR) yang juga berlangsung satu hari. Selain itu ada Parents as Teacher yang lebih seperti seminar singkat.

Di Jakarta, ada Grow Parenting yang memiliki dua macam kelas. Kelas Parenting 101 berisi modul untuk mengenali peran tugas kita sebagai orang tua, mendalami perkembangan anak secara holistik, kemudian menemukan simfoni agar terjadi keseimbangan di dalam hubungan orang tua dengan anak. Durasi kelas tersebut 2×2 jam per modul.

Ada pula kelas Coaching, yakni sang founder Grow Parenting  akan berkunjung ke rumah kita untuk mengobservasi kegiatan anak, kemudian bekerja sama dengan orang tua mencari solusi dari permasalahan yang ada.

Keuntungan Ikut Sekolah Parenting

Dengan mengikuti sekolah parenting, orang tua akan mendapatkan informasi mengenai teknik parenting terbaru dan paling efektif yang bisa diterapkan di rumah. Sekolah parenting juga bisa membantu mengatasi masalah cara mendidik anak yang dihadapi. Selain itu, kita juga bisa terhubung dengan para orang tua lain yang mungkin memiliki pengalaman sama.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Ikut Sekolah Parenting

Selain kelas aktif seperti yang tadi dipaparkan, ada pula online parenting class. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di kelas aktif, orang tua harus berkomitmen mengikuti jadwal kelas yang sudah ditetapkan dan meluangkan waktu di sela kesibukan.

Namun, karena bertemu langsung dengan instruktur dan orang tua lain, kita bisa saling berbagi cerita. Sebaliknya, kelas online memang terasa kurang personal, namun kita bisa mengatur waktu sendiri. Pastikan kita mengikuti kelas parenting bersama pasangan sebagai satu tim.

Smart Parenting

Smart Parenting

Pada dasarnya kehadiran seorang anak sangat dinanti – nanti oleh hampir sebagian besar pasangan yang sudah menikah. Kehadiran buah melengkapi kebahagiaan keluarga. Setiap orang tua pastilah menginginkan anak yang cerdas dan cemerlang serta mempunyai kepribadian yang bagus. Hal tersebut tentu saja bisa diwujudkan tergantung bagaimana cara mendidik anak yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya sejak  usia kecil dalam kehidupan sehari – hari.

Salah satu teknik yang bisa digunakan dalam mendidik anak adalah dengan menggunakan metode smart parenting dimana pada teknik ini sangat diperlukan pengawasan oleh orang tua dan sekitarnya untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan si anak.

Fase pertumbuhan pada anak

Anak usia 0- 2 tahun. Pada usia ini, anak akan mengalami berbagai macam perubahan misalnya saja anak sudah bisa berguling, merangkak, berjalan, dan lainya. Selain itu, dari segi ketrampilan pun akan juga ikut berkembang dimana anak mulai terampil dalam memegang benda dan indera penciumanya semakin meningkat

Anak usia 2 -3 tahun. Pada usia ini, anak akan sudah bisa mulai berjalan dengan lancar, berlari, melompat, memanjat, dan lain – lain. Selain itu, indera penglihatan si anak juga akan semakin tajam dimana anak sudah mulai bisa mengidentifikasi berbagai macam benda yang ada disekitarnya

Anak usia 3 – 4 tahun. Anak yang memasuki usia ini akan mengalami perkembangan yang pesat pada kemampuan motorik , sosial ,dan berpikirnya. Anak juga akan muali bisa mengotrol emosinya

Anak usia 4 – 6 tahun. Yang sangat nampak menonjol pada anak usia ini adalah dimana mulai munculnya jiwa petualangannya. Pada usia ini, anak akan lincah dan melakukan berbagai macam hal yang buat mereka adalah sesuatu baru dan menarik

Hal yang harus dihindari dalam mendidik anak

Pada dasarnya dalam mendidik seorang itu merupakan sesuatu yang pada kenyataanya tidak mudah. Banyak orang yang masih melakukan berbagai macam hal yang pada dasarnya sangat dilarang untuk dilakukan pada saat mendidik buah hati anda yaitu sebagai berikut ini :

Selalu menuntut anak untuk terlihat selalu dalam keadaan sempurna dibatas kemampuan si anak. Misalnya saja, orang tua yang selalu menuntut anaknya untuk bisa menguasai berbagai macam hal yang mana tidak disukai atau tidak dikuasai oleh si anak sendiri

Salalu mengancam anak . Pada dasarnya ketika menghadapi anak yang sedikit bandel memang terkadang membuat orang tua sedikit kesulitan. Terkadang orang tua mengancam anak mereka pada saat anak mereka bandel. Hal tersebut tidak baik untuk dilakukan karena dapat menimbulkan tekanan atau stress pada anak

Selalu memarahi dan menyalahkan si anak pada saat melakukan kesalahan. Hal ini dapat membuat down mental si anak

Tidak memperbolehkan anak melakukan berbagai aktivitas . Denagn kata lain, orang tua terlalu membatasi aktivitas anak

Teknik mendidik anak dengan smart parenting

Berikan makanan terbaik bagi para buah hati. Kita harus memperhatikan asupan makanan apa saja yang dikonsumsi oleh buah hati anda. Sebisa mungkin seorang tua harus senantiasa memberikan asupan makanan dan minuman yang mengandung banyak gizi, vitamin, dan nutrisi yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan si anak.

Selalu memperhatikan tumbuh kembang anak Selalu perhatikan berat badan dan tinggi badan si anak terutama pada lingkar kepala dan pertumbuhan gigi. Anda bisa membuat catatan mengenai grafik tumbuh kembang si anak. Anda harus mencatat setiap perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi pada anak anda misalnya saja kapan mulai bisa berjalan, berbicara. dan sebagainya

Berikanlah ASI Eksklusif. ASI memang salah satu makanan dan minuman yang terbaik bagi anak – anak. Para ibu sangat disarankan sekali untuk selalu memberikan asupan ASI yang cukup bagi buah

Berikanlah ASI Eksklusif. ASI memang salah satu makanan dan minuman yang terbaik bagi anak – anak. Para ibu sangat disarankan sekali untuk selalu memberikan asupan ASI yang cukup bagi buah hatinya hingga usia mencapai 2 tahun. Air susu ibu ini akan membawa bakteri – bakteri baik ke dalam tubuh manusia dan juga bisa digunakan sebagai antibody atau daya tahan tubuh.

Latilah anak beberapa ketrampilan misalnya saja fasilitasilah anak dengan buku tulis dan pensil warna. Biarkan mereka menggambar aau sekedar coret – coret di dalam buku tersebut. Anda juga bisa memberikan mereka buku – buku mewarnai.

Perkenalkan beberapa benda, hewan atau berbagai macam benda yang berada di sekitar anda

Ajaklah buah hati anda untuk sholat bareng. Biasakan untuk mengajak buah hati anda untuk sholat berjamaah. Setidaknya dengan begitu anda mengajak mereka untuk beribadah bersama maka anda secara tidak langsung memperkenalkan dan mengajarkan mengenai agama dan kepercayaan anda

Selalu berikan contoh berbuat baik misalnya saja berkata baik dan melakukan perilaku baik. Pada dasarnya seorang anak kecil akan cenderung menirukan apa yang dilakukan dan dilihat. Oleh karena itu sebaga orang tia, sebaiknya selalu berlaku baik agar bisa dicontoh oleh anaknya. Jika suatu saat anak melakukan perbuatan yang salah, orang tua harus memberikan pengertian kepada anak jika apa yang dilakukan tersebut adalah perbuatan salah dan tidak boleh diulangi untuk dilakukan.