Tips Mudik Dengan Si Kecil Tanpa Panik

Tips Mudik Dengan Si Kecil Tanpa Panik

Salah satu hal yang menyenangkan dari momen lebaran adalah kesempatan mudik ke kampung halaman. Bertemu dan berkumpul bersama keluarga, akan membuat lebaran kamu semakin semarak. Namun situasi akan berbeda jika tahun ini kamu harus mudik dengan si kecil. Perjalanan akan penuh kekhawatiran, takut jika si kecil tiba-tiba rewel. Apalagi jika kamu melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum.

Berikut adalah tips untuk membuat perjalanan mudik bersama si kecil berjalan menyenangkan. Check this out!

Amati Kebiasaannya

Meskipun kamu terbiasa bersama si kecil setiap hari, tapi akan lebih baik jika kamu mengamati kebiasaan detail si kecil. Perhatikan kapan si kecil harus tidur, makan, dan minum susu. Pelajari juga situasi apa yang membuat si kecil tenang.

Menjaga Kesehatan

Pastikan kesehatan si kecil saat akan mudik terjaga. Pastikan si kecil fit dan bugar selama perjalanan. Agar si kecil dapat menikmati suasana perjalanan, dan tetap nyaman meskipun harus melakukan perjalanan yang cukup lama.

Siapkan Semua Peralatan untuk Si Kecil

Siapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan si kecil, seperti termos air hangat, susu, makanan dan camilan si kecil. Jangan lupa untuk menyiapkan baju ganti, agar si kecil tetap nyaman selama perjalanan. Dan jangan mengenalkan makanan baru selama perjalanan mudik, bisa jadi si kecil tidak cocol dengan makanan tersebut.

Tenang

Tidak perlu panik, cobalah untuk selalu tenang saat menghadapi ‘kejutan’ selama perjalanan dari si kecil. Sikap tenang kamu akan membuat si kecil merasa nyaman selama perjalanan.

Sesuaikan Jadwal

Sesuaikan jadwal perjalanan mudik dengan pola si kecil. Untuk melakukan perjalanan bersama si kecil pilih malam hari, karena jam biologisnya waktu tidur sehingga dia akan merasa lebih nyaman dalam perjalanan.

Jadikan momen mudik ini sebagai perkenalan bagi si kecil untuk perjalanan menyenangkan bertemu dengan keluarga. Selamat mencoba.

Pahami Pentingnya Istirahat Sekolah bagi Anak

Pahami Pentingnya Istirahat Sekolah bagi Anak

Pahami Pentingnya Istirahat Sekolah bagi Anak – Waktu istirahat saat ini tidak banyak mendapat perhatian baik dari pihak sekolah maupun orangtua siswa. Waktu istirahat cenderung dipahami hanya untuk melepas penat belajar, waktu untuk membeli jajan dan sekedar memberi kesempatan anak untuk bermain-main sejenak. Padahal, dalam studi para ahli menyimpulkan, waktu istirahat sekolah dapat meningkatkan kemampuan anak daalam berbagai hal.

Waktu istirahat yang berkualitas bisa menjadi bisa menjadi bagian penting dalam keberhasilan pendidikan anak. Waktu istirahat yang cukup akan membantu anak lebih sukses saat anak kembali ke dalam kelas. Namun banyak sekolah tidak memberikan waktu istirahat yang berkualitas.

Para peneliti Stanford University memperingatkan, hal itu dapat memiliki konsekuensi negatif yang tidak diinginkan. “Waktu istirahat biasanya tidak dianggap sebagai bagian dari iklim sekolah, dan sering dipendekkan. Tapi penelitian kami menunjukkan bahwa waktu istirahat dapat berperan penting untuk iklim sekolah yang positif di sekolah dasar berpenghasilan rendah,” papar direktur pendiri Stanford John W. Gardner Center, Milbrey McLaughlin.

Penelitian menunjukkan, apabila direncanakan dengan baik, waktu istirahat dapat meningkatkan kehadiran serta prestasi akademik. Hal ini juga dapat membantu anak-anak berteman dan belajar cara mengatasi konflik. Selain itu anak bisa mendapatkan pandangan yang lebih positif tentang belajar.

Untuk menguji dampak waktu istirahat pada siswa, para peneliti menganalisis informasi tentang sekolah dasar yang telah melaksanakan program berbasis waktu istirahat dari organisasi non-profit yang dirancang untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan inklusif.

Pelatih dikirim ke sekolah-sekolah ini untuk meningkatkan kualitas waktu istirahat anak, membangun permainan terorganisasi dengan aturan, menawarkan alat resolusi konflik, mendorong bahasa positif, dan memastikan tidak ada siswa yang ditinggalkan. Semua sekolah memiliki dua periode waktu istirahat harian.

Pelatih, guru, dan kepala sekolah dari masing-masing sekolah diwawancarai. Para peneliti juga membuat kelompok siswa dan mengamati periode istirahat. Mereka membandingkan dengan sekolah lain yang memiliki berbagai program waktu istirahat dari yang buruk hingga sangat baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu istirahat yang baik bergantung pada pengawasan dan bimbingan orang dewasa. Konflik dapat timbul ketika anak-anak tidak setuju pada permainan dan aturan.

Selain itu, 89 persen guru yang disurvei melihat perbaikan dalam organisasi waktu istirahat setelah pelatih dikirim untuk memberikan dukungan. Perbaikan waktu istirahat juga tampak mengarah pada lingkungan yang lebih positif. Hampir setengah dari guru yang disurvei mengatakan, siswa menjadi lebih saling mendukung satu sama lain dan menggunakan bahasa lebih baik. “Ada lebih banyak pertemanan antara anak-anak,” ujar guru lain yang juga disurvei.

Secara umum, efek positif yang dirasakan siswa antara lain anak-anak lebih sering memulai permainan, merasa lebih baik dan lebih aman, anak perempuan menjadi lebih terlibat. Pentingnya bermain atau waktu istirahat bagi anak-anak sudah diakui oleh Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memandang hal ini penting untuk kesejahteraan anak-anak di sekolah.

10 Kiat Membantu Anak Sukses (Bag. 1)

10 Kiat Membantu Anak Sukses (Bag. 1)

1. Kenali Guru

Anak-anak dapat berprestasi dengan baik bila orangtua turut terlibat dalam proses pendidikannya. Seperti menghadiri acara sekolah, bertemu dengan orangtua siswa yang lain, juga mengenal gurunya. Orantua anak juga dapat bertemu dengan wali kelasnya untuk membahas program dan aturan sekolah, perkembangan anak-anak, serta berbagai pilihan yang perlu diketahui orangtua dan wali murid.

Menghadiri pertemuan guru dan murid adalah cara yang bagus untuk tetap mengetahui informasi dari sekolah. Di banyak sekolah, guru biasanya hanya akan memanggil orangtua saat ada masalah tingkah laku anak atau jika nilai anjlok, tapi jangan sungkan untuk membuat janji dengan gurunya dan bertemu untuk membahas perkembangan akademis anak atau kebutuhan khususnya.

2. Kunjungi sekolah

Mengetahui lay out dan tata letak gedung sekolah dapat membantu terhubung dengan anak-anak saat sedang berbicara tentang kegiatan anak-anak di sekolah. Cari tahu di mana lokasi kelasnya, UKS, kantin, tempat olahraga, lapangan, taman bermain, aula, dan ruang guru, sehingga bisa membayangkan dunia anak saat ia sedang bercerita.

3. Ciptakan suasana dan tempat yang mendukung

Pekerjaan rumah atau PR akan membuat anak mengingat pelajaran di kelas dan melatih kemampuan belajar yang penting. Ini juga membantu anak untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dan etos kerja yang akan bermanfaat di luar kelas.

Kita dapat membantu anak dengan membuat lingkungan belajar yang efektif. Sediakan ruang belajar yang rapi, nyaman, tenang, dan lengkap dengan semua hal yang ia butuhkan untuk mengerjakan PR. Hindari hal-hal yang dapat mengganggu seperti TV dan buatlah jadwal kapan ia harus mulai dan kapan ia harus selesai.

Aturan yang bagus untuk PR dan waktu belajar yang efektif adalah sekitar 10 menit per tingkat sekolah dasar. Misalnya, murid kelas 3 SD,  harusnya menghabiskan waktu 30 menit untuk mengerjakan PR atau belajar di malam hari. Kelas 4 SD perlu menghabiskan waktu 40 menit. Jika mendapati bahwa waktu pengerjaan PR anak lebih lama daripada ini, bicaralah dengan guru anak.

Saat anak mengerjakan PR, selalu siaplah untuk mengartikan instruksi tugas, menawarkan bimbingan, menjawab pertanyaan, dan mengulas tugasnya yang sudah selesai. Tapi jangan langsung menyediakan jawaban atau mengerjakan PR anak sendiri. Belajar dari kesalahan adalah bagian dari proses dan orangtua tidak boleh merebut ini dari anak.

4. Pastikan anak berangkat sekolah dalam kondisi siap

Sarapan yang bernutrisi membantu anak untuk siap belajar seharian. Umumnya, anak yang rajin sarapan memiliki energi yang lebih dan akan beraktivitas lebih baik di sekolah. Anak-anak yang menyantap sarapan juga jarang absen dan jarang masuk UKS dengan masalah perut yang berkaitan dengan rasa lapar.

Kita dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat anak dengan menyediakan sarapan yang kaya akan kacang-kacangan, serat, protein, dan rendah gula. Jika anak tak ada waktu untuk sarapan di rumah, bawakan ia bekal berupa susu, kacang, yogurt, dan roti dengan selai kacang atau roti isi pisang.

Remaja memerlukan waktu tidur sekitar 8,5 hingga 9,5 jam setiap malamnya sementara pra-remaja (usia 12-14) bahkan rata-rata butuh minimal 10 jam tidur setiap malam agar ia siaga dan siap belajar seharian. Namun, jam masuk sekolah yang sangat pagi, ditambah PR, aktivitas ekstrakurikuler, dan nongkrong dengan teman-temannya membuat banyak remaja mengalami masalah kurang tidur. Efeknya, ia akan sulit berkonsentrasi, memori jangka pendeknya menurun, dan responnya lambat.

5. Tanamkan kemampuan membagi waktu

Jika anak terorganisir, ia akan mampu untuk fokus pada pelajaran dibandingkan menghabiskan waktunya pada hal-hal lain yang kurang penting. Apa artinya terorganisir bagi anak-anak usia sekolah dasar? Di sekolah, ini berarti memiliki buku khusus untuk mencatat tugas dan PR. Beberapa sekolah biasanya sudah menyediakan hal ini. Periksa buku tugas anak setiap malam sehingga kita tahu apa saja yang harus dikerjakan dan apakah dia sudah mengerjakannya.

Bicarakan dengan anak tentang cara menjaga mejanya tetap rapi sehingga kertas-kertas tugasnya yang harus ia bawa pulang tidak berserakan dan hilang. Ajari anak cara bagaimana cara menggunakan kalender dan jadwal agar tetap terorganisir. Ajari juga anak untuk selalu membuat to-do list alias daftar hal yang harus dikerjakan, sesuai dengan prioritasnya. Tidak ada orang yang terlahir dengan kemampuan manajemen waktu. Ini adalah skill  yang harus dipelajari dan dipraktikkan, dan anak akan mempelajarinya dari orangtua.

Memahami Tiger Parenting

Memahami Tiger Parenting

Kali ini kita akan belajar memahami lebih jauh tentang pola asuh Ibu Macan atau sering disebut sebagai “Tiger Mom”.

“Tiger Mom” ini pertama kali diperkenalkan oleh Amy Chua, seorang profesor hukum dari Universitas Yale, yang juga merupakan penulis buku berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother”. Berdasarkan buku tersebut, “Tiger Mom” adalah gaya mengasuh anak dengan menerapkan aturan yang cukup ketat dan keras pada anak-anak.

Menurut Amy Chua, gaya parenting jenis ini melarang anak melihat TV dan bermain games, serta mewajibkan anak hanya memperoleh nilai “A” pada setiap pelajaran di sekolah. Sebagai penulis buku dan juga orang tua dari dua anak, Amy Chua meyakini bahwa dengan menerapkan “Tiger Mom” inilah, anak-anaknya mampu meraih kesuksesan di sekolah dan kehidupan bermusiknya.

Banyak orang yang menganggap “Tiger Mom” sama seperti dengan Authoritarian Parenting yang menerapkan pola asuh keras pada anak. Namun, anggapan ini dibantah oleh sebuah penelitian yang terbit di Asian American Journal of Psychology tahun 2013 lalu. Menurut penelitian yang menggunakan keluarga Hmong, China dan Korea Amerika sebagai sampelnya tersebut, mengungkapkan bahwa, “Tiger Parenting” adalah gabungan dari penerapan gaya asertif parenting dan suportif parenting.

Dengan kata lain “Tiger Parenting” adalah gaya parenting yang menggabungkan antara  pola asuh lembut dan keras secara bersamaan.  Temuan berbeda dengan “Tiger Mom” yang selama ini dipahami melalui buku Amy Chua tersebut.

Lalu, pola asuh seperti apa yang terbaik bagi anak-anak agar anak-anak mampu menghadapi tantangan saat dewasa kelak? Peneliti mengemukakan bahwa untuk mengetahui pola asuh terbaik bagi anak-anak, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam jangka waktu yang panjang untuk menemukan formula terbaik bagi anak-anak.

Namun demikian, banyak peneliti kurang setuju dengan anggapan bahwa dengan menerapkan “Tiger Parenting” maka anak-anak akan sukses dalam hal pendidikan dan karir. Menurut sebuah penelitian, anak yang hidup dari pola asuh “Tiger Parenting” justru memperoleh nilai GPA lebih rendah daripada anak yang hidup dengan pola asuh “suportif parenting”.

Hal ini menunjukkan bahwa, “Tiger Parenting” tidak selalu menghasilkan anak-anak yang sukses di dalam kehidupannya. Perbedaan persepsi tersebut sebenarnya masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.

Namun, di luar perbedaan yang ada, sebagai orang tua memang perlu menerapkan pola asuh yang sesuai dengan anak. Jangan sampai pola asuh yang terlalu lunak justru membuat anak manja dan tidak mampu melakukan apapun dalam kehidupannya kelak. Hindari juga pola asuh pada anak yang terlalu keras sehingga mengakibatkan anak stress dan depresi.

Jika masih cukup bingung mengenai pola asuh seperti apa yang harus diterapkan pada anak, mungkin bisa mencoba menerapkan pola asuh sesuai dengan temperamen anak. Menerapkan pola asuh sesuai dengan temperamen anak, dipercaya bisa menjadi salah satu referensi pengasuhan cukup baik bagi anak-anak.

10 Kiat Membantu Anak Sukses (Bag. 2)

10 Kiat Membantu Anak Sukses (Bag. 2)

1. Ajarkan Anak kemampuan belajar

Bersiap-siap untuk ujian dapat menjadi hal yang menakutkan untuk anak kecil dan banyak guru berasumsi bahwa orangtua akan membantu belajar untuk menghadapi ujian. Mengenalkan anak cara belajar yang baik sejak dini akan menghasilkan kebiasaan belajar yang bagus di kehidupannya di masa depan.

Di sekolah dasar, anak-anak biasanya harus menghadapi ujian maematika, membaca, ilmu pengetahuan alam, pengetahuan sosial, dan sebagainya. Pastikan kita tahu kapan saja jadwal ujian sehingga dapat membantu anak belajar dari jauh-jauh hari dan tidak mendadak di malam sebelumnya. Kita juga perlu mengingatkan anak untuk mencatat hal-hal penting yang ia pelajari di sekolah, supaya ia bisa mengulasnya kembali di rumah.

Ajarkan anak bagaimana cara membagi tugas yang besar menjadi sejumlah tugas-tugas kecil supaya lebih mudah dikerjakan. Ingatlah untuk beristirahat setelah belajar selama 45 menit. Ini penting untuk membantu proses anak dalam mengingat informasi.

2. Pelajari aturan sekolah

Semua sekolah mempunyai aturan dan konsekuensi mengenai perilaku siswanya. Sekolah biasanya mencantumkan kebijakan kedisiplinannya (terkadang disebut kode etik sekolah) di buku pegangan siswa. Aturan ini mencakup tata krama siswa, cara berpakaian, penggunaan alat elektronik, dan konsekuensi yang harus dihadapi jika melanggar aturan.

Kebijakan ini juga dapat mencakup aturan dan sanksi untuk kehadiran/absensi, vandalisme, mencontek, berkelahi, dan membawa senjata. Banyak sekolah yang memiliki peraturan khusus tentang bullying. Ada baiknya jika orantua mengetahui definisi sekolah tentang bullying, konsekuensinya, dukungan korban, dan prosedur pelaporan tindak bullying.

Sangat penting bagi anak untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sekolah, sehingga kita harus mendukung konsekuensi yang diberikan sekolah saat anak melakukan pelanggaran. Akan lebih mudah bagi para siswa jika aturan di sekolah tidak jauh berbeda dengan aturan yang diterapkan di rumah. Penting untuk dicatat bahwa pendidik dapat memanggil aparat penegak hukum ke sekolah untuk pelanggaran berat dan konsekensinya tergantung dari umur siswa tersebut.

3. Ikut terlibat dalam kegiatan sekolah

Menjadi sukarelawan dalam acara sekolah anak adalah cara yang tepat untuk menunjukkan bahwa kita sebagai orangtua tertarik dengan pendidikannya.

Tapi ingat, sebagian anak SMP mungkin akan senang saat orangtua mereka hadir ke sekolah atau pada acara sekolah, dan sebagian lainnya mungkin merasa malu. Pahami isyarat mereka untuk menentukan seberapa besar interaksi tersebut berguna bagi orangtua dan anak, dan apakah kita akan bersukarela mengikuti kegiatan sekolah atau tidak. Jelaskan bahwa kita tidak bermaksud memata-matainya, kita hanya berusaha untuk membantunya di sekolah.

4. Awasi absensi anak di sekolah

Anak remaja sebaiknya beristirahat di rumah saat ia mengalami demam, mual, muntah, diare, atau penyakit lain yang membuatnya tak memungkinkan untuk beraktivitas. Namun selain itu, sangatlah penting untuk mereka datang ke sekolah setiap harinya, karena mengejar ketinggalan tugas kelas, proyek, ujian, dan PR adalah hal yang lebih sulit dan akan mempengaruhi proses belajarnya.

Jika anak terlihat sering beralasan untuk tidak masuk sekolah, mungkin ada alasan lain yang tidak ia beri tahukan, misalnya bullying, tugas yang susah, nilai rendah, masalah sosial, masalah dengan teman, atau masalah dengan guru. Bicarakan hal ini dengannya untuk mencari tahu penyebabnya dan mencari solusinya.

Anak yang sering telat ke sekolah juga mungkin memiliki masalah kurang tidur. Menjaga anak remaja memiliki jadwal tidur yang teratur dapat membantunya menghindari ngantuk di sekolah dan mengurangi keterlambatannya.

Untuk remaja yang memiliki masalah kesehatan kronis, para pengajar akan bekerja sama dengan keluarga dan membatasi tugas mereka sehingga mereka dapat menyesuaikan diri.

5. Luangkan waktu untuk bicara tentang sekolah

Biasanya cukup gampang untuk berbicara dengan siswa sekolah dasar tentang apa yang terjadi di kelas dan berita terbaru di sekolah. Tapi orangtua dapat menjadi terlalu sibuk dan melupakan pertanya ansederhana tersebut, padahal percakapan seperti ini dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah.

Buatlah waktu untuk berbicara dengan anak setiap harinya sehingga ia tahu bahwa kita menganggap apa yang terjadi di sekolahnya itu penting. Saat anak tahu bahwa orangtua tertarik dengan kehidupan akademiknya, ia akan bersekolah dengan lebih rajin.

Karena komunikasi adalah jalur dua arah, cara orangtua berbicara dan mendengar anak juga dapat mempengaruhi anak mendengar dan merespon. Sangatlah penting bagi kita untuk mendengarkan dengan saksama, buat kontak mata, dan hindari melakukan hal lain saat berbicara (misalnya mengecek handphone). Pastikan kita menanyakan pertanyaan yang jawabannya bukan hanya “iya” atau “tidak”, melainkan pertanyaan yang mengharuskan anak menjawab sambil menjelaskan.

Selain waktu makan, waktu yang tepat untuk berbicara adalah selama di dalam mobil, saat mengajak anjing jalan-jalan, saat menyiapkan makan, atau mengantri di toko. Tahun-tahun awal sekolah adalah waktu yang penting bagi orangtua untuk mengetahui dan mendukung pendidikan anak.

Cara Mudah Membuat Anak Suka Membaca

Cara Mudah Membuat Anak Suka Membaca

Membaca merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi siapa pun, termasuk anak-anak hingga orang tua. Melalui membaca, seseorang akan mempunyai pengetahuan yang terbuka dan semakin luas. Inilah alasan mengapa membaca dikatakan sebagai jendela dunia. Kita bisa mulai merangsang buah hati untuk mulai menggemari kegiatan ini.

Berawal dari hal kecil seperti membacakan cerita untuk anak secara rutin, ini akan menarik minat mereka pada buku. Bagaimana cara membiasakan diri anak agar gemar membaca? Empat cara ini jawabannya.

1. Seringlah membacakan buku

Kebiasaan kecil seperti membacakan buku cerita kepada anak adalah kegiatan yang sangat bermanfaat. Selain dapat memunculkan ketertarikan mereka untuk membaca, kebiasaan ini juga bisa mengembangkan imajinasi dan daya ingat anak. Menjelang tidur, silahkan bacakan cerita untuk anak. Tidak hanya itu, Kita juga bisa membelikan beberapa buku pada si kecil dan jadikan buku sebagai mainan pertamanya. Buatlah suasana yang nyaman ketika membaca buku bersama si kecil

2. Ajak buah hati untuk mengunjungi perpustakaan

Ketika anak berusia 2 tahun, akan ada banyak sekali kegiatan yang disenanginya selain membaca. Seminggu sekali, ajaklah anak mengunjungi perpustakaan. Bawa anak ke lorong buku cerita yang menjadi kegemarannya. Bebaskan anak memilih buku cerita kesukaannya. Lalu, bacakan dalam keadaan yang nyaman.

3. Jangan memaksa anak membaca

Jika si kecil belum bisa membaca, jangan ngotot dan memaksanya untuk belajar membaca. Biarkan mereka belajar secara alami. Saat masih balita, cukup kenalkan anak pada buku-buku. Ketertarikan mereka pada buku sudah jadi modal penting untuk mengajak mereka membaca. Anak secara tak sadar akan tertarik untuk belajar membaca.

4. Jadikan buku sebagai hadiah

Anak sangat senang dengan kado atau hadiah, apalagi jika isinya adalah mainan atau boneka kesukaannya. Jika ingin si kecil mencintai buku, cobalah untuk memberikan buku sebagai kado. Agar tidak bosan, jangan selalu memberikan buku, sesekali berikan dia mainan kesukaannya.

Empat hal di atas bisa dijadikan sebagai cara paling mudah untuk membiasakan buah hati kepada buku. Ingat, tak perlu memaksa mereka untuk segera bisa membaca buku. Cukup ajak mereka untuk senang dengan buku. Perlahan, anak akan tertantang untuk mulai belajar membaca.

Belajar Dari Ibu Gajah

Belajar Dari Ibu Gajah

Gajah adalah hewan yang hidup dalam kelompok keluarga dan terdiri dari satu gajah betina dan anak-anaknya. Atau terdiri dari beberapa gajah betina yang berkerabat beserta anak-anak mereka. Sedangkan gajah jantan akan hidup jauh dari kelompok setelah masa pubertas.

Setelah mengamati kehidupan gajah, khususnya gajah betina dengan kelompok, kerabat dan anak-anaknya,Priyanka Sharma-Shindhar dari The Atlantic terinspirasi untuk mengaitkannya dengan kehidupan manusia khususnya dalam dunia parenting.

Menurutnya, ibu gajah sama seperti kebanyakan Ibu di dunia ini yang memiliki peran penting dalam mengasuh, merawat, menjaga dan mendidik anak-anaknya. Saat bayi gajah dalam bahaya, Ibu dan kerabat yang lain akan mengelilinginya. Tak jarang,ibu gajah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan anak-anak dari buruan predator. Perhatian dan perlindungan yang diberikan ibu gajah kepada anak-anaknya sama seperti perhatian dan kasih sayang Ibu manusia di dunia ini.

Di dalam kehidupan sosial, gajah juga membangun jaringan yang cukup erat dengan keluarga dan anggota komunitas lainnya. Sebagai makhluk yang hidup berkelompok, ibu gajah akan terus berusaha melakukan apa yang mereka bisa untuk meningkatkan komunitas mereka. Ibu Gajah akan berkontribusi pada kebaikan komunitasnya dan membangun kelompok yang solid, sehingga bisa menguntungkan banyak pihak.

Satu ibu gajah bahkan menawarkan pertolongan bagi ibu Gajah lainnya saat mereka merasa kesulitan mengasuh anaknya. ibu gajah tidak menyimpan naluri keibuan hanya untuk anak-anak mereka sendiri. Ia membaginya dengan anggota komunitas lainnya.

Mengasuh anak layaknya ibu gajah memberikan anak-anak gajah kesempatan untuk selalu berada dekat dengan ibu Gajah di awal perkembangannya. Sama seperti manusia, ibu gajah juga melatih anak-anak berjalan, menolong mereka saat terjatuh atau terjebak di dalam lumpur, menjemput anak-anak saat tersesat, memandikan anak-anak dengan belalainya yang panjang, bahkan membelai mereka dengan belalainya.

Walaupun terlihat cukup dekat dan protektif pada anak-anak, ibu gajah akan membiarkan anak-anak terpeleset, atau terjatuh. Namun, di saat yang sama ibu gajah akan menolong mereka. Ibu gajah akan terus memberi dukungan pada semua aktivitas anak-anak dan akan selalu membuat anak-anak merasa nyaman tanpa memaksakan kehendak. Dengan kata lain,ibu gajah akan selalu ada selama anak-anak membutuhkan.

Pola asuh seperti “Ibu Gajah” ini memberikan anak-anak kesempatan untuk menikmati masa kecilnya dengan bahagia. Pola asuh ini juga menerapkan aturan yang cukup longgar bagi anak-anak. Sehingga anak-anak akan tetap seperti anak-anak tanpa memaksanya menjadi lebih dewasa di umurnya yang masih belia. Tak hanya itu, mengasuh anak layaknya “Ibu Gajah” akan membuat anak lebih dekat dengan orangtua dan menghindarkan anak dan orangtua dari konflik.

Namun, sebagian orang justru kurang setuju dengan pola asuh seperti ini. Menurut mereka yang kontra, pola asuh seperti “Ibu Gajah” ini sama seperti pola asuh permisif atau pola asuh dengan menganggap anak sebagai teman. Melalui pola asuh “Ibu Gajah” ini, orang tua akan sering berada di dekat anak dan cenderung membuat anak bergantung padanya. Dengan begitu, anak-anak akan sulit untuk mandiri.

Apapun pola asuh yang diterapkan pada anak, tujuannya tetap sama yaitu merawat dan membesarkan anak menjadi pribadi yang baik dengan penuh cinta. Penerapan pola asuh sebenarnya bisa saling dicocokan satu sama lain. Anda tidak harus selalu berpatokan mengasuh anak seperti “Ibu Gajah”. Dalam beberapa situasi Parents bisa mencocokan pola asuh tersebut dengan pola asuh lainnya yang sesuai dengan kondisi keluarga dan kebutuhan anak.

Atasi Kecemasan Anak Saat Masuk Sekolah

Atasi Kecemasan Anak Saat Masuk Sekolah

Pernah mengalami drama saat anak pertama kali masuk sekolah? Misalnya setelah libur panjang, saat anak mengalami transisi dari jenjang pendidikan satu ke yang lain (TK ke SD), bahkan saat anak harus pindah ke sekolahan yang baru karena suatu alasan. Beberapa drama anak saat hari pertama masuk sekolah, misalnya malas bangun pagi, ngambek, sakit perut dan masih banyak lagi. Nah, drama anak yang seperti ini biasa disebut dengan Back to School Blues.

Apa Saja Gejalanya?

Menurut Psikolog Universitas Granada Spanyol, back to school blues juga bisa diartikan sebagai suatu kecemasan atau rasa kesal yang dirasakan oleh seseorang setelah masa libur, karena harus kembali bekerja. Gejala yang ditimbulkan misalnya rasa lelah, tidak nafsu makan, tidak mampu berkonsentrasi, perasaan sedih, dan hampa yang mendalam.

Bagaimana Mengatasinya?

√ Berlatih Sebelum Sekolah Dimulai

Untuk mengatasi back to school blues, ada baiknya Parents mengajak anak untuk berlatih rutinitas yang selalu dilakukan sebelum berangkat sekolah. Misalnya beberapa hari sebelum masuk sekolah latih anak untuk bangun pagi, mandi dan sarapan tepat waktu. Dengan begitu anak diharapkan bisa menyesuaikan diri saat hari masuk sekolah nanti.

Selain rutinitas sebelum berangkat sekolah, orangtua juga bisa menunjukkan situasi di sekolahnya nanti. Misal, kunjungilah sekolah anak. Hal ini membantu anak untuk mengetahui situasi apa saja yang akan dia hadapi saat sekolah nanti. Sehingga anak bisa mempersiapkan dirinya sendiri.

Jika sekolah cukup dekat atau ada fasilitas bus sekolah, maka orangtua perlu mengajarkan anak untuk berlatih berangkat dan pulang sekolah sendiri atau dimana harus naik bus sekolah. Saat berlatih temani anak sampai beberapa kali, hingga anak sudah terbiasa.

√ Persiapkan Peralatan Sekolah

Nah, beberapa anak mungkin saja terlambat saat pertama kali masuk sekolah. Bukan karena bangun terlambat namun karena peralatan sekolah yang belum siap. Sehingga anak harus kehilangan banyak waktu hanya untuk mempersiapkannya.

Oleh karena itu sebaiknya, Parents selalu melatih anak untuk menyiapkan peralatan sekolah jauh hari sebelum hari pertama masuk sekolah. Misalnya menyiapkan tas sekolah lengkap dengan buku dan alat tulis, menyiapkan sepatu dan bekal sekolah.

√ Kenalan dengan Tetangga Baru

Jika anak berada pada lingkungan rumah dan sekolah baru, ada baiknya latih anak untuk kenalan dengan tetangga baru di sekeliling rumah. Beberapa tetangga di sekitar rumah mungkin bersekolah sama dengan anak Parents.

Usahakan untuk berteman bersosialisasi dengan mereka. Hal ini membantu meringankan kecemasan pada anak, karena bahkan anak sudah memiliki teman sebelum hari pertama masuk sekolah.

√ Bicarakan Kecemasan Pada Anak

Banyak anak yang merasa cemas saat hari pertama anak masuk sekolah. Hal ini memang wajar Parents, karena anak berada pada situasi dan lingkungan baru. Sebaiknya bicarakan tentang kecemasan pada anak.

Tanyakan pada mereka apa saja yang membuatnya cemas. Dengan begitu orangtua bisa mengatasi kecemasan pada anak dengan cara yang tepat.

Langkah ini sangat baik dilakukan sebelum hari pertama masuk sekolah. Hal ini karena kecemasan dan tekanan yang dirasakan anak bisa berkurang melalui pembicaraan yang Parents lakukan dari hati-ke hati.

√ Tunjukan Empati

Tunjukkan pada anak bahwa kita berempati. Tunjukkan juga pada mereka bahwa kita memahami kecemasan mereka. Namun jangan lupa untuk memberi anak semangat. Katakan pada anak, perubahan memang bisa sangat sulit, tapi kita tetap berada di samping anak. Sehingga jika anak mengalami kesulitan apapun di sekolah, anak bisa menceritakannya pada kita.

√ Ajak Anak Untuk Bersyukur

Beberapa anak mungkin tidak memiliki alasan jelas tentang kecemasan yang mereka alami saat hari pertama masuk sekolah. Nah, saat inilah waktu yang tepat untuk mengajarkan anak tentang rasa syukur kepada Tuhan. Jelaskan pada anak bahwa kesempatan untuk bisa bersekolah adalah salah satu kesempatan yang sangat baik. Karena di sekolah anak bisa belajar banyak hal, mengenal banyak teman dan bisa memiliki banyak pengalaman berharga.

Katakan pada anak bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan ini. Banyak anak-anak di luar sana yang sangat mendambakan sekolah namun karena berbagai alasan keuangan mereka tidak bisa bersekolah. Cara seperti ini adalah cara baik yang bisa diajarkan kepada anak. Melalui cara seperti ini, orangtua menciptakan ruang positif bagi anak. Parents juga secara tidak langsung mengajarkan anak untuk merubah kecemasan menjadi sesuatu yang lebih positif.

√ Mintalah Bantuan

Usahakan untuk selalu terlibat dalam segala macam urusan sekolah dan pendidikan anak. Saat anak mengalami gejala yang cukup serius seperti kecemasan yang berlebihan, stress, kurangnya konsentrasi saat belajar, Parents tentu bisa menghubungi pihak sekolah dan menanyakan sebab serta solusinya. Parents juga bisa berkonsultasi dengan psikolog terkait masalah ini.

Mimpi Buruk, Anak Sekolah Terlalu Dini

Mimpi Buruk, Anak Sekolah Terlalu Dini

Beberapa anak usia dini mungkin tidak menunjukkan reaksi tertentu saat sekolah. Beberapa yang lain bisa saja menunjukkan reaksi tertentu. Misalnya sering ngompol walaupun sudah tidak pernah mengompol selama beberapa bulan, sulit tidur di malam hari, dan lebih melekat pada orangtua di siang hari. 

Banyak studi yang menemukan fakta bahwa, anak-anak yang berusia terlalu dini bisa saja stres. Beberapa stres tersebut disebabkan karena anak berada di lingkungan asing. Misalnya, penitipan anak (children daycare) atau setingkat TK dan KB (kelompok belajar).

Studi dari Norwegian University of Science, menemukan fakta bahwa anak-anak yang berada di daycare memiliki hormon kortisol lebih tinggi sekitar 25% di pagi hari. Sedangkan saat mereka kembali ke rumah di sore hari, hormon tersebut menurun.

Hormon kortisol juga disebut “hormon stres”. Semakin banyak hormon ini diproduksi oleh tubuh. Maka semakin tinggi stres seseorang. Menurut penelitian tersebut, anak-anak yang berada di lingkungan asing lebih dari 8 jam, mengalami lebih banyak stres.

Banyak diantara orangtua yang bertanya, kenapa anak bisa stres? Padahal di sekolah anak bertemu dengan teman sebayanya. Anak bahkan bisa bermain-main dengan teman-temannya.

Prof May Britt Drugli dari Norwegian University of Science menjelaskan alasan dibaliknya. Menurut Prof. Drugli, anak-anak yang masih sangat kecil belum memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan bersosialisasi dengan banyak orang, termasuk dengan teman-teman sebayanya. Ia menegaskan, hal inilah yang menyebabkan mereka stres, karena mereka merindukan orang tua.

Hal yang sama juga dikatakan oleh dosen PG Paud UKSW, Melita Rahardjo, M. Teach (EC) pada School of Parenting. Menurut Melita, anak yang berusia 3 tahun akan sulit membangun kelekatan dengan teman-teman sebayanya. Hal ini karena perkembangan sosial, emosi dan bahasa anak tersebut dan teman-teman sebayanya belum ‘mumpuni’. Sehingga anak merasa kurang nyaman dan aman. 

Melita menambahkan, bahwa tahapan bermain anak berusia dini yaitu “parallel play” (bermain sendiri) dan belum masuk ke tahap bermain “sosial play” (bermain bersama teman). Sehingga anak bisa saja mengalami kesulitan saat bermain dengan teman sebayanya.

Ciri Anak yang Mengalami Stres di Usia Dini

Anak yang mengalami stres memiliki perilaku yang berubah diluar kebiasaan. Misalnya anak mengompol, perubahan pola tidur, mimpi buruk, mengisap jempol, dan memutar-mutar rambut. Selain itu, anak yang mengalami stres juga bisa menunjukkan gejala fisik, seperti sakit perut dan sakit kepala.

Perubahan pun bisa terjadi saat anak berada di sekolah. Misalnya anak jadi menyendiri dan tidak mau bermain dengan teman-teman sebaya. Beberapa anak lain juga menjadi sulit berkonsentrasi dan tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah dengan baik.

Cara Mengatasi

Pilih Waktu Yang Tepat Anak Bersekolah

Pemilihan waktu yang tepat untuk memasukkan anak ke sekolah formal sangat penting. Sebaiknya Parents melihat kesiapan anak masuk sekolah. Kesiapan anak untuk masuk ke sekolah formal bukan hanya dilihat dari usia anak tersebut. Namun yang lebih penting adalah perkembangan sosial emosional anak. Termasuk kemampuannya dalam berbahasa.

Observasi Respon Anak Pada Lingkungan Baru

Sebaiknya, orangtua mulai mengobservasi respon anak pada lingkungan baru. Cara nya dengan menanyakan pada anak tentang lingkungan barunya. Misalnya, “Tadi adek main apa ya di TK? Mama mau tau dong?” Saat anak merespon pertanyaan tersebut dengan menceritakan secara positif. Maka anak boleh dikatakan sudah siap berada dilingkungan yang baru.

Kurangi Waktu Sekolah atau Penitipan Anak

Jika anak masih menunjukkan gejala stres selama 3 minggu. Sebaiknya Parents mengurangi waktu sekolahnya atau mengurangi waktu anak di penitipan anak. Menurut psikolog anak, Emma Citron, dari citronpsychology.co.uk beberapa anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk berada di lingkungan baru.

Cobalah untuk memasukkan anak di TK/KB/Children Daycare pada hari-hari tertentu saja. Selebihnya, biarkan anak berada di rumah dekat dengan orangtua atau anggota keluarga lain yang memang sudah terbiasa dengan anak.

Percayalah Pada Intuisi Orangtua

Sebaiknya mulai percaya pada intuisi Anda. Jika Parents mulai melihat anak mengalami perubahan perilaku ke arah yang cenderung negatif dan Parents merasa ia tertekan atau tidak nyaman setelah jangka waktu tertentu masuk TK/KB/Children Daycare, sebaiknya anda pikirkan kembali keputusan untuk menempatkan anak di lingkungan baru. 

Beri Lebih Banyak Pelukan dan Ciuman Pada Anak

Pelukan dan ciuman pada anak bisa membantu anak mengurangi stres dan membantu anak menghadapi hari-harinya. Sebaiknya sering-sering lah memeluk anak dan menciumnya. Hal ini juga bermanfaat untuk membuat anak rileks dan tenang.

Setiap anak memang memiliki kesiapan yang berbeda dalam menghadapi lingkungan yang baru. Termasuk kesiapannya untuk masuk TK, KB atau penitipan anak. Sebaiknya gunakan waktu Parents untuk mengobservasi kesiapan anak. Usahakan tidak memasukkan anak di TK, KB atau penitipan anak hanya karena ikut-ikutan orangtua lain atau sekedar tekanan lingkungan. Ingat, kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kesehatan fisiknya.

Mengasuh Anak Ala Masyarakat Jepang

Mengasuh Anak Ala Masyarakat Jepang

Setiap daerah mungkin memiliki pola pengasuhan anak yang bervariasi. Salah satunya adalah Jepang, Negeri sakura ini memang terkenal dengan orang-orangnya yang pekerja keras dan disiplin.  Penasaran dengan pola pengasuhan anak masyarakat Jepang yang bisa melahirkan orang-orang yang tangguh dan disiplin? Ingin tahu bagaimana pola asuh mereka ketika masih kecil? Kali ini kita akan berbagi pola pengasuhan anak masyarakat Jepang, silakan diambil positifnya. Semoga dapat dijadikan bahan referensi.

Usia 2 tahun

Pada usia 2 tahun anak-anak diharapkan sudah bisa makan sendiri. Untuk membantu hal ini, ibu-ibu di Jepang sangat kreatif. Mereka berusaha menyiapkan makanan yang mudah dimakan sendiri oleh anak (tidak disuapi), misal nasi dibentuk bola-bola kecil sehingga anak mudah mengambilnya menggunakan sendok, sumpit atau tangan. Potongan Sayur dan lauk dibuat kecil-kecil sesuai ukuran mulut anak sehingga anak tidak kesulitan memotongnya.

Selanjutnya adalah menggunakan alat-alat makan yang lucu untuk menarik minat anak. Dengan alat makan yang lucu dan mudah digunakan oleh anak diharapkan akan meningkatkan minat anak untuk makan sendiri.

 Usia 3-4 tahun

Pada usia 3-4 tahun anak-anak diharapkan sudah bisa mandi dan merapikan barang-barang pribadinya. Di Jepang, usia 3 tahun biasanya mulai masuk TK (Yochien) atau ada orang tua yang menitipkan anaknya di daycare (hoikuen). Di hoikuen semua hal dilakukan bersama-sama dari makan, tidur siang, dan mandi (saat musim panas). Saat mandi pengelompokan dipisah berdasarkan jenis kelamin, jadi tidak dicampur.

Setelah makan, anak-anak diajarkan merapikan sendiri alat makannya, menaruhnya di bak cuci piring. Ketika tidur siang, masing-masing anak menggelar sendiri alas tidurnya. Ketika bangun dari tidur siang,anak-anak akan langsung merapikan sendiri alas tidurnya.

Ketika musim panas, suhu di Jepang bisa mencapai 40 derajat Celsius. Maka sebelum tidur siang ada aktifitas mandi. Guru pembimbing hanya mencontohkan satu atau dua kali, selanjutnya anak-anak diharapkan sudah bisa mandi sendiri. Setelah itu anak-anak akan memakai bajunya sendiri.

Usia 6 tahun

Di usia 6 tahun ini, anak-anak sudah akan mencuci piringnya sendiri ketika selesai makan dan sudah bisa pulang dan pergi ke sekolah sendiri. Yang menentukan anak-anak akan sekolah di Sekolah Dasar tertentu adalah kantor kelurahan. Sebab kantor kelurahan akan mencarikan sekolah yang paling dekat dengan rumah si anak. Standar Sekolah Dasar di jepang semuanya memiliki kualitas yang sama, sehingga orang tua tidak perlu pusing-pusing memilih sekolah favorit atau sekolah terbaik.

Biasanya sekolah memiliki peraturan dalam hal berangkat dan pulang sekolah seperti, tidak boleh di antar menggunakan mobil ke sekolah. Hal ini bertujuan agar anak menjadi mandiri dan membaur dengan teman-temannya. Sebab anak-anak ini akan berangkat dan pulang sekolah bersama teman-teman kelompoknya yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah.

Aktifitas berjalan ke sekolah ini juga menjadi salah satu pendidikan yang menetukan karakter orang Jepang agar tidak manja dan suka berjalan kaki karena sudah dibiasakan sedari kecil. Untuk menunjang keamanan anak-anak berangkat dan pulang sekolah sendiri anak-anak dibekali peluit (yang akan ditiup jika ada bahaya), tas dengan warna yang mencolok sehingga terlihat oleh pengguna kendaraan, dan telepon genggam yang hanya bisa digunakan untuk menelepon orang tua atau guru.

Di musim hujan pun, anak-anak tetap harus berjalan kaki ke sekolah menggunakan payung dan sepatu boots. Demikian juga ketika musim dingin datang. Padahal suhu sangat rendah ketika turun salju.

Demikian sekilas informasi mengenai cara pengasuhan anak masyarakat di Jepang. Semoga bisa diambil manfaat positifnya.