Membangun Quality Time

Membangun Quality Time

Memiliki keluarga yang sehat dan bahagia saleh ibarat memiliki miniatur surga, menjadi tempat beristirahat dari segala kelelahan rutinitas, menjadi sumber energi untuk mengisi keimanan, dan menjadi muara untuk berbagi cinta dan kasih sayang

Dalam parenting, terdapat hak-hak yang seharusnya kita penuhi dalam keluarga, yakni memenuhi kebutuhan yang tak hanya terlihat mata seperti harta benda namun juga kebutuhan yang tak terlihat, seperti membaiki keluarga. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mempunyai quality time bersama keluarga.

Ditengah kesibukan waktu yang ada, orang tua dituntut untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan quality time dengan keluarga. Hal ini penting agar hubungan emosional antarkeluarga dapat tercipta dan menjadi semakin dekat. Berikut ini terdapat beberapa tips dalam parenting islami untuk memanfaatkan quality time dengan keluarga.

1. Beribadah Bersama

Melakukan ibadah bersama merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh keluarga. Seperti misalnya sebelum  melakukan aktivitas harian, keluarga dapat melaksanakan salat subuh berjamaah. Selain itu,  ketika hari weekend tiba, keluarga dapat salat berjamaah dari subuh sampai isya, dilanjutkan dengan membaca Alquran, dll. Hal ini penting, sebab quality time  seperti ini tak hanya dapat mendekatkan hati sesama keluarga, namun juga dapat menambah keimanan dan kecintaan.

2. Liburan

Sesekali ajaklah keluarga untuk berlibur. Tak harus jauh atau mahal, sebab yang terpenting dari berlibur itu sendiri ialah quality time bersama keluarga. Dengan berlibur, masing-masing keluarga dapat me-refresh kembali jiwa dan raga mereka dari lelahnya rutinitas. Bagi sang anak, hal ini dapat menjadi momen berharga, sebab mereka tak hanya dapat bermain namun juga dapat lebih dekat dengan orang tua. Di momen seperti ini, keluarga bisa saling berbagi cerita tentang banyak hal, bisa saling memberikan support, saling belajar, dan  saling mengaitkan hati yang satu dengan lainnya.

3. Olahraga Bersama

Olahraga bersama bisa menjadi momen untuk dapat saling berkomunikasi satu dengan lainnya dengan santai, namun tetap berkualitas tanpa harus kehilangan esensi dari kegiatan olahraga itu sendiri. Menjalin keakraban sembari menyehatkan badan. Menjaga kebugaran setiap anggota keluarga juga perlu diperhatikan. Olahraga yang dapat dilakukan seperti misalnya, panahan, berkuda, berenang, jogging, bersepeda,, ataupun sekedar berjalan kaki di pagi atau sore hari.

4. Makan Bersama

Orang tua dianjurkan membiasakan keluarganya untuk makan bersama. Entah itu sekedar sarapan ataupun makan malam. Dalam sehari diusahakan keluarga melakukan aktivitas ini. Makan bersama keluarga dapat memberikan rasa kedekatan dan rasa nyaman.

5. Hari Khusus Bersama Keluarga

Dalam seminggu, usahakanlah untuk menetapkan satu hari untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Dalam sehari itu, keluarga dapat berkumpul dan bertatap muka secara langsung. Keluarga dapat melakukan banyak hal secara bersama-sama, misalnya membaca buku, menonton acara tv yang berkualitas, diskusi, dan memasak secara bersama-sama.

6. Batasi Penggunaan Gadget

Usahakan ketika bersama keluarga, gadget tak lagi digunakan secara fulltime seperti hari-hari biasanya. Bila dirasa memang perlu, keluarga dapat membuat peraturan untuk mematikan gadget dalam waktu-waktu tertentu. Karena seringkali interaksi kita dengan keluarga terganggu sebab terlalu sering berurusan dengan gadget.

Momen bersama keluarga merupakan suatu hal berharga, dapat membuat hubungan keluarga menjadi lebih hangat dan kecintaan terhadap keluarga akan semakin bertambah.

Mengajarkan Anak Berjilbab

Mengajarkan Anak Berjilbab

Banyak orang tua yang baru mengajarkan anaknya untuk berjilbab ketika mereka sudah tumbuh menjadi dewasa. Apakah hal ini salah? Tentu tidak, tetapi belum tepat. Alangkah baiknya apabila orang tua mengetahui cara parenting islami untuk mengajarkan anak berjilbab sejak dini sehingga mereka dapat menerapkannya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta sang anak terhadap jibabnya, sang anak juga dapat mengetahui sedari dini bahwa jilbab ialah salah satu identitas muslimah yang harus selalu mereka jaga.

Orang tua juga harus memiliki kemampuan untuk melatih anak-anaknya berjilbab dalam kesehariannya. Dengan demikian, mereka akan terbiasa memakai jilbab sejak kecil dan kelak ketika mereka sudah dewasa, mereka tidak akan merasa asing lagi dengan jilbab. Berikut ini cara parenting islami untuk mengajarkan anak berjilbab sejak dini.

1. Kenalkan Anak pada Pakaian Muslimah

Orang tua bisa mengenalkan jilbab sejak anak masih kecil dengan cara membiasakan mereka untuk memakai pakaian muslimah secara bertahap, seperti memakaikan kerudung dan baju panjang ketika mereka keluar rumah atau saat berpergian. Penting pula bagi orang tua, untuk memilihkan bahan yang cocok untuk anak. Pilihkan bahan yang mudah menyerap keringat sehingga membuat anak tidak gerah dan nyaman ketika memakainya.

Pilihkan model pakaian muslimah sesuai dengan kesukaan anak agar anak senang memakai pakaian muslimah dan berjilbab sejak dini dalam kesehariannya. Orang tua dapat memilihkan model, warna, dan motif yang anak sukai, tetapi tetap sederhana dan tidak berlebihan.

2. Berikan Motivasi dan Pujian pada Anak

Berilah motivasi dan pujian pada anak. Memberikan motivasi dan pujian kepada anak juga perlu dilakukan agar anak merasa bahwa yang mereka lakukan merupakan suatu hal baik, seperti “Kamu anggun sekali, Nak, memakai jilbab ini, bunda bangga sama kamu. Dipakai terus ya jilbabnya kalau keluar rumah!” atau “Allah pasti sayang sekali sama kamu, Nak, karena kamu mau menuruti yang sudah Allah perintahkan untuk anak perampuan, yaitu berjilbab.” Dengan demikian, anak akan termotivasi dan senang untuk selalu berjilbab.

3. Beri Pemahaman pada Anak tentang Jilbab

Ajarkan anak bahwa berjilbab ialah perintah Allah. Ajarkan kepada anak bahwa berjilbab sepenuhnya harus diniatkan karena Allah, bukan sekadar untuk pujian dari orang lain saja. Sampaikan pada mereka secara bertahap dan lembut bahwa Allah akan terus melihat yang mereka lakukan dan Allah sangat mencintai wanita yang berjilbab. Tanamkan hal ini sedari dini dengan menggunakan pendekatan parenting islami yang tepat. Dengan demikian, mereka akan terbiasa berjibab semata karena Allah, bukan sekadar untuk pujian orang lain.

Ceritakan berbagai kisah motivasi islami mengenai keutamaan berjilbab. Orang tua dapat menceritakan kisah-kisah wanita berjilbab dari zaman nabi sampai zaman sekarang yang tentunya akan membuat sang anak termotivasi dan menjadikan para wanita salihah tersebut sebagai teladan dalam hidupnya. Hal lain yang juga penting ialah sang anak harus mendapatkan contoh atau teladan nyata dalam hal berjilbab dari ibunya sendiri.

4. Sesekali Berikan Reward pada Anak

Sesekali berilah hadiah atau reward kepada anak karena telah rajin dan semangat dalam bejilbab. Namun, orang tua harus selalu mengingatkan anaknya bahwa hadiah terbesar yang kelak akan mereka dapat atas ikhtiar mereka dalam berjilbab ialah hadiah dari Allah, yakni surga. Dengan demikian, sang anak semakin termotivasi utnuk dapat dicintai Allah dan menggapai surga-Nya.

5. Lingkungan yang Baik pada Anak

Pilihkan lingkungan yang baik untuk anak. Ketika orang tua hendak membiasakan sang anak untuk berjilbab, pilihkanlah lingkungan yang baik untuk mereka. Lingkungan yang dapat menambah kecintaan mereka terhadap jilbab atau lingkungan yang dapat memberikan motivasi untuk anak dalam berjilbab.

Inilah beberapa cara parenting islami untuk mengajarkan anak berjilbab sejak dini. Hal ini menjadi penting sebab hal-hal yang dilakukan sedari kecil akan menjadi suatu kebiasaan di waktu mereka tumbuh menjadi dewasa.

Semoga Allah memberikan para orang tua kemudahan dalam mendidik anak sehingga anak-anaknya dapat menjadi anak yang saleh dan salihah. Aamiin.

Menumbuhkan Karakter Kepemimpinan Anak

Menumbuhkan Karakter Kepemimpinan Anak

Anak adalah generasi penerus yang akan menciptakan kemajuan bangsa, karena itu kita harus memberi bekal agar anak memiliki karakter kepemimpinan yang baik dan berjiwa besar, baik dalam ruang lingkup yang luas seperti bersosialisasi dengan lingkungan, maupun ruang lingkup yang sempit seperti memimpin dirinya sendiri.

Untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan yang baik pada anak, tentu saja banyak hal yang harus kita lakukan sebagai orang tua. Apa sajakah itu?

1. Menerapkan Akhlak yang Baik

Ajarkan anak untuk berlaku jujur. Karakter kepemimpinan yang baik yang harus dimiliki anak adalah akhlak. Orang tua harus menerapkan akhlak yang baik, seperti sikap jujur dan berani dalam diri seorang anak. Kejujuran harus selalu ditanamkan dalam setiap aspek kehidupan dan perkembangan anak. Salah satu cara mudah mengajarkan sikap jujur pada anak adalah dengan memberikan contoh dan teladan dalam kesehariannya. Jika mereka bersikap jujur, mereka akan mampu dipercaya oleh orang lain. Dengan demikian, sikap mereka akan layak untuk diikuti dan diteladani selayaknya seorang pemimpin yang baik.

2.   Membebaskan Anak Berpendapat dan Menumbuhkan Sikap Toleransi

Ajak anak untuk mengutarakan pendapatnya. Karakter kepemimpian yang baik selanjutnya adalah berani berpendapat. Untuk dapat menjadi pemimpin yang berani, anak harus diajarkan cara mengemukakan pendapat mereka dengan baik. Orang tua harus memberi kebebasan bagi anak untuk mengemukakan setiap tindakannya sehingga anak akan belajar cara berpendapat dan mempertanggungjawabkan pendapatnya. Seorang pemimpin yang bijaksana harus dapat menerima setiap pendapat dan keputusan, meskipun berlainan dengan yang diharapkannya. Oleh karena itu, anak harus selalu diajarkan memiliki sikap toleransi sejak kecil. Bantu anak menghargai perbedaan yang ada sehingga kelak mereka akan bijaksana untuk menghargai setiap perbedaan.

3.   Menumbuhkan Rasa Disiplin

Gunakan bahasa yang tegas namun lembut saat menerapkan disiplin pada anak. Orang tua dapat memfasilitasi anak dengan kegiatan yang dapat mengasah kemampuan memimpin dan menumbuhkan rasa disiplin anak. Sebagai contoh ketika di sekolah, orang tua dapat mengikutsertakan anak dalam kegiatan bermanfaat yang dapat mendidik dan melatih mental dan kedisipilinan anak, seperti mengikuti ekstrakulikuler pramuka.

4.   Memberikan Pujian saat Anak Menunjukkan Perilaku Kepemimpinan

Memberikan pujian setiap anak menunjukkan perilaku kepemimpinan yang baik sekecil apa pun dapat membuat anak merasa dihargai dan diakui bahwa yang telah mereka lakukan merupakan suatu hal yang benar. Misalnya, ketika anak berhasil dan mampu menjaga amarahnya karena berselisih paham dengan teman-temanya, orang tua harus memuji tindakan mereka tersebut.

5.   Mengenalkan Anak dengan Berbagai Biografi Para Pemimpin

Mengenalkan biografi para pemimpin yang bisa menjadi teladan baik bagi anak merupakan salah satu hal jitu dalam menumbuhkan karakter kepemimpinan, seperti mengenalkan biografi Rasulullah saw., Khulafaur rosyidiin, Muhammad al-Fatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan para pemimpin lain.

Dalam mengenalkannya, Abi dan Ummi dapat menggunakan berbagai metode yang dapat menarik minat anak sehingga tidak menjadi bosan, seperti dengan buku cerita, menonton acara di TV, Film, menggunakan permainan edukasi, atau dengan langsung menjadikan orang-orang yang ada di lingkungan anak yang bisa menjadi sumber ilmu tentang pemimpin yang hebat.

Saat mereka melihat cara pemimpin beraksi, mereka akan tahu karakter kepemimpinan yang baik. Kelak, apa yang mereka ketahui pun akan menginspirasi diri anak tersebut.

6.   Menumbuhkan Rasa Kepercayaan Diri Anak

Orang tua juga harus menumbuhkan rasa kepercayaan diri pada anak. Selain itu, harus menghindari pola pengasuhan yang negatif, seperti menjatuhkan ataupun mengerdilkan jiwa anak. Pola pengasuhan negatif lainnya, misalnya memberikan kritik yang berlebihan dan tidak sesuai/proporsional dengan kesalahan yang dilakukan oleh anak, memberikan hukuman yang terlalu banyak tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu, dan memberikan hukuman yang merendahkan kehormatan mereka.

7.   Membiarkan Anak Mengatasi Masalahnya Sendiri

Orang tua harus membiarkan anak mengatasi masalah mereka sendiri, seperti pada saat mereka merasa marah, kesal, ataupun sedih, karena itu merupakan proses pertumbuhan yang justru akan menjadikan anak tumbuh menjadi dewasa. Jika orang tua terus saja menyelamatkan anak atas setiap masalah yang mereka hadapi, anak akan menjadi manja dan tidak akan terbiasa menghadapi masalah seorang diri. Mereka akan selalu membutuhkan bantuan orang tuanya atas setiap masalah mereka. Tentu saja hal seperti ini akan jauh dari karakter kepemimpinan yang baik sebab anak yang memiliki karakter kepemimpinan yang baik akan mampu mengatasi masalahnya sendiri.

Pendidikan Islam untuk Anak Perempuan

Pendidikan Islam untuk Anak Perempuan

“Siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia, sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan berarti sedang mendidik satu generasi.” (Bung Hatta)

Mendidik satu perempuan berarti sama dengan mendidik satu generasi. Kelak, putri tercinta kita akan menjadi seorang istri dan ibu. Ia akan memikul tanggung jawab pendidikan untuk generasi berikutnya di pundaknya. Terus berlanjut demikian. Ke tangan para perempuanlah tongkat estafet pendidikan dan peradaban bangsa diberikan. Oleh karena itu, diperlukan cara mendidik yang baik dan benar sehingga lahirlah perempuan yang cerdas, lembut dan tangguh, yang kelak melahir generasi-generasi unggul.

Memberikan pendidikan islam di era kini merupakan tantangan bagi orang tua. Karena itu Rasulullah memberi semangat;

“Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, aku akan bersamanya di hari kiamat kelak,” beliau menggabungkan kedua jarinya. (H.R. Muslim)

“Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Riwayat lain, seperti dalam cerita Aisyah yang menceritakan kehidupan seorang perempuan miskin yang datang kepadanya. Beliau mengisahkan, “Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua orang anak perempuannya. Kuberikan kepadanya tiga butir kurma. Ia lalu memberikan kepada setiap anaknya sebutir kurma. Sebutir yang lain ia angkat ke mulutnya untuk dia makan. Namun, kedua anak perempuannya meminta kurma itu. Setelah itu, dibaginya kurma yang hendak dia makan itu untuk kedua anaknya. Aku pun merasa kagum terhadap perbuatannya, lalu kuceritakan hal yang dilakukannya kepada Rasulullah. Beliau pun berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dengan kurma yang diberikannya itu dan membebaskannya dari neraka,’” (H.R. Muslim).

Dengan berbagai keutamaan tersebut, tentu kita ingin optimal dalam mendidik sang putri. Oleh karena itu, berikut kami tuliskan beberapa cara mendidik anak perempuan agar tujuan pendidikan Islam dapat tercapai.

1. Kenalkan Akidah, Ajaran yang Pertama dan Utama

“Dan, (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,’” (Q.S. Luqman ayat 13).

Di usia 0—7 tahun, otak anak masih berpikir secara konkret. Oleh karena itu, kenalkan Allah dengan cara yang dapat diterimanya. Biasanya anak penasaran dengan wujud Allah. Ia ingin melihat dan bertemu dengan-Nya. Ini adalah waktu yang tepat bagi orang tua untuk memberikan penjelasan bahwa Allah ada di dekat kita. Allah tak tampak secara kasatmata, tetapi kuasa-Nya dapat kita rasakan. Hal tersebut, seperti udara yang tak tampak, tetapi dapat kita hirup atau matahari yang tak dapat dilihat secara dekat, tapi terasa sinarnya.

2. Buatlah Mereka Cinta Ilmu

Cobalah perhatikan anak kecil yang sedang mulai berbicara. Bukankah dia selalu menanyakan banyak hal dan berkali-kali? Sejatinya, manusia memang makhluk pembelajar, pupuklah kecintaan anak pada ilmu dengan memberikan stimulasi yang tepat dan metode pembelajaran yang menyenangkan.

3. Ajarkan Akhlak dan Adab sebagai Karakter

Dengan meneladani kepribadian Rasulullah, ummahatul mukminin, ataupun para shahabiyah, anak perempuan akan memiliki akhlak dan adab yang baik. Metode yang paling ampuh untuk mengajarkannya adalah melalui keteladanan dan dongeng. Anak mungkin bisa saja salah melakukan perintah, tetapi ia tak pernah salah meniru. Oleh karena itu, orang tua harus menerapkan akhlak dan adab yang baik terlebih dahulu agar anak memiliki role model yang baik. Selain itu, tanamkan nilai islami melalui dongeng. Imajinasi anak akan menerima dongeng dengan saksama dan menjadikan tokoh tersebut sebagai sosok idola.

4. Keterampilan Rumah Tangga, Sebuah Keterampilan Hidup

“Dan, hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya,” (Q.S. Al Ahzab: 33).

Alangkah baiknya jika anak perempuan dikenalkan dengan keterampilan rumah tangga sejak kecil, tentunya secara bertahap atau sesuai kapasitasnya. Hal ini akan melatih kemandirian sejak dini serta membuat anak perempuan terbiasa dengan urusan rumah tangga sehingga kelak saat ia dewasa dan berumah tangga, ia tidak akan kaget dan tidak menganggap aktivitas rumah tangga sebagai beban.

Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak

Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak

Kepercayaan diri sering dianggap bawaan lahir, padahal kepercayaan diri bisa ditanamkan sejak dini. Bagaimana cara orangtua mengasuh anak juga berperan penting.

Carl Pickhardt, seorang psikolog yang telah menulis 15 buku parenting mengatakan bahwa anak yang kurang percaya diri akan merasa enggan untuk mencoba hal-hal baru, atau hal-hal berbau tantangan. Karena mereka takut gagal dan mengecewakan orang lain. Hal ini bisa mencegah anak untuk memiliki karir yang sukses di masa depan. “Musuh dari kepercayaan diri adalah patah semangat dan ketakutan,” ujar Carl.

Karena itu, sudah semestinya orangtua mendorong dan membantu anak untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, berikut ini cara yang bisa dilakukan orangtua untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.

1. Tak peduli menang atau kalah, hargai usaha yang telah dikerahkan

Saat tumbuh dewasa, proses jauh lebih penting daripada hasil. Jadi, tak peduli dia keluar sebagai pemenang atau tak mendapat gelar juara sama sekali, Anda harus memuji usahanya.

Pickhardt mengatakan, “Anak-anak seharusnya tidak perlu merasa malu karena telah berusaha.” “Dalam jangka panjang, berusaha keras terus menerus akan membangun lebih banyak kepercayaan diri dibandingkan hanya bekerja dengan baik sesekali,” tambahnya.

2. Mendukung latihan

Agar anak lebih percaya diri, Anda sebagai orangtua harus lebih sering mendorongnya untuk latihan, apapun ketertarikannya. Tapi ingat, lakukan hal tersebut tanpa terlalu menekan agar anak tidak merasakan paksaan selama latihan.

“Latihan adalah proses menanam usaha dengan harapan dan kepercayaan diri, kemajuan dan perbaikan akan mengikuti secara alami,” kata Pickhardt.

3. Biarkan anak menyelesaikan masalah dengan usahanya sendiri

Jika orangtua selalu mengambil alih pekerjaan sulit yang dihadapi anak, anak tidak akan bisa mengembangkan kemampuan dan kepercayaan dirinya dalam menyelesaikan masalah. Bantuan dari orangtua bisa mencegah timbulnya kepercayaan diri, yang berasal dari kemampuan anak memecahkan masalah dengan usahanya sendiri.

4. Biarkan anak bersikap sesuai usianya

Jangan pernah memaksa anak bersikap seperti orang dewasa. Karena hal itu terlalu berat bagi anak. Berjuang memenuhi espektasi orangtua yang tidak sesuai dengan usia anak, bisa mengurangi tingkat kepercayaan diri yang dimiliki anak.

5. Mendorong keingintahuan

Seringkali anak bertanya tanpa henti, hingga membuat orangtuanya lelah. Tapi, aktivitas tersebut tidak boleh dihentikan.

Paul Harris dari Universitas Harvard mengatakan, “Bertanya membantu anak berlatih dalam proses tumbuh kembangnya. Karena dengan begitu, anak akan sadar bahwa ada hal-hal yang tidak mereka ketahui. Dan di luar sana ada dunia dan ilmu pengetahuan yang belum mereka temui.”

Saat memasuki sekolah, mereka lebih berani bertanya pada guru. Dampaknya, mereka akan tahu bagaimana cara belajar lebih cepat dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

6. Berikan anak tantangan baru

Tunjukkan pada anak bahwa mereka bisa mencapai hal-hal kecil untuk meraih keberhasilan yang lebih besar. Contohnya, jika anak bisa mengendarai sepeda dengan tiga roda, suatu saat ia akan bisa menaiki sepeda roda dua.

Pickhardt juga mengatakan bahwa orangtua bisa menanamkan kepercayaan diri pada anak, dengan cara meningkatkan tanggung jawab yang bisa dipikul oleh anak.

7. Hindari memberi perlakuan istimewa

Perlakuan istimewa bisa membuat kepercayaan diri anak berkurang. Hindari memberi dia pengeculian saat ia sedang bersama orang lain.

8. Jangan pernah mengkritisi penampilannya

Mengkritisi penampilan anak adalah cara tercepat untuk mematikan rasa percaya dirinya. Karena itu, berikanlah feedback yang positif, dan berikan saran yang membangun atas penampilannya. Tapi jangan pernah mengatakan bahwa apa yang dia lakukan jelek atau buruk. Bila anak takut untuk gagal karena kuatir akan mengecawakan orangtua, maka ia tidak akan pernah berani mencoba hal baru.

9. Jadikan kesalahan sebagai bahan pembelajaran

Kesalahan-kesalahan adalah batu bata yang akan membangun kepercayaan diri anak. Tapi, itu hanya bisa terjadi jika orangtua juga menganggap bahwa kesalahan yang dilakukan anak sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Biarkan anak sesekali melakukan kesalahan. Kemudian bantu dia memperbaiki kesalahan tersebut. Hal ini akan mengajari anak untuk tidak pernah takut gagal.

10. Terbuka untuk pengalaman baru

Membiarkan anak mencoba hal-hal baru, akan mengajari mereka bahwa tidak peduli apakah sesuatu itu menakutkan atau kelihatan berbeda, mereka pasti bisa menaklukkannya.

11. Pujilah anak saat dia berhasil melewati sebuah kesulitan

Anda tahu betul bahwa segala sesuatu di dalam hidup tidaklah mudah. Karena itu, saat anak mengalami kesulitan, orangtua harus menjelaskan bahwa menaklukkan berbagai tantangan akan meningkatkan kegembiraan saat berhasil melewatinya. Ingatkan anak bahwa jalan menuju kesuksesan selalu penuh hambatan.

12. Tawarkan bantuan  dan dukungan, tapi jangan terlalu banyak

Memberikan bantuan memang penting, tapi jika terlalu banyak bisa mengurangi kemampuan anak untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya sendiri. Sebaiknya, bantuan orangtua lebih bersifat mengarahkan anak untuk membantu dirinya sendiri keluar dari masalah.

16. Rayakan semangatnya untuk belajar

Saat orangtua terlihat bersemangat melihat anak belajar hal-hal baru, anak juga akan ikut bersemangat. Reaksi orangtua sangatlah penting bagi anak untuk membuat keputusan dalam meneruskan belajar atau tidak.

17. Jaga wibawa di depan anak, tapi jangan terlalu ketat

Orangtua yang terlalu menuntut bisa mengurangi kepercayaan diri anak. Anak yang terlalu sering diberitahu mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, akan bergantung pada orangtuanya pada segala hal. Akibatnya, anak tidak akan pernah mengambil tindakan dengan berani.

Kalimat Jitu Pereda Amarah Anak

Kalimat Jitu Pereda Amarah Anak

Masalah umum bagi orang tua salah satunya ketika menghadapi anak saat marah, sedih atau frustasi. Punya anak yang marah dan tantrum tentunya menuntut orangtua untuk menjadi lebih penyabar. Daripada ikut marah-marah dan berakhir dengan sama-sama meledak, coba dulu kalimat-kalimat penenang dalam tips parenting ini.

1. Daripada berkata, “Jangan lempar-lempar barang!”

Coba katakan, “Kayaknya Abang (atau panggilan untuk anak lainnya) ngak suka main ini ya, makanya di lempar-lempar terus.” Teknik pembicara/pendengar ini dirancang untuk membantu mengkomunikasikan perasaan dengan cara yang non-konfrontatif. Hal ini tidak hanya untuk menjaga jalur komunikasi terbuka, tapi juga untuk memberikan model pengungkapan perasaan yang baik dari perspektif orangtua.

2. Daripada berkata, “Abang sudah besar! Ngak boleh begitu,”

Coba katakan, “Anak besar dan orang dewasa kadang bisa marah/sedih. Ngak apa-apa, nanti perasaan itu akan hilang.” Semakin besar anak, semakin besar masalah yang mereka hadapi. Mengatakan pada mereka bahwa anak yang sudah besar tidak boleh marah, sedih atau frustasi adalah hal yang salah. Hal ini juga dapat mendorong anak-anak untuk menekan perasaan mereka dengan cara yang tidak sehat.

3. Daripada berkata, “Jangan pukul ya!”

Coba katakan, “Ibu tahu Abang marah, tapi ibu gak bisa biarin Abang mukul. Menyakiti orang lain itu salah.” Ini adalah pesan tegas yang menunjukkan bahwa tidak apa-apa merasakan emosi marah, tapi tidak untuk tindakannya. Tips parenting ini mengajarkan kita untuk memisahkan emosi dengan tindakan, agar anak belajar untuk mengontrol emosinya.

4. Daripada berkata, “Abang susah banget dibilangin!”

Coba katakan, “Masalah ini susah ya, Bang? Ayo kita cari solusinya bareng-bareng.” Tips parenting yang satu ini terdengar mudah, tetapi kita sering melupakannya. Ketika anak-anak tidak mau mendengarkan orangtua, penting untuk memahami alasannya. Kalimat ini memperkuat gagasan bahwa Anda berada di tim yang sama dengan anak, dan akan membantunya menyelesaikan persoalan.

5. Daripada mengatakan, “Sudah! Kita pulang saja!

Coba katakan, “Abang lelah, mari kita istirahat di rumah.” Mungkin ia tantrum karena lelah. Jangan lawan amarahnya dengan emosi. Ajaklah ia pulang, bila sedang berada di luar rumah.

6. Daripada berkata, “Berhenti mengeluh/merengek!”

Coba katakan, “Iya, ibu dengar. Jadi Abang maunya gimana?” Sekali lagi, ini menempatkan tanggungjawab kembali kepada anak. Saat anak mengeluh tentang sekolah, makan malam, atau temannya, ajak dia untuk memikirkan solusinya bersama. Tapi apa yang ia inginkan belum tentu harus kita ikuti semua ya Parents.

7. Daripada berkata, “Berapa kali sih harus dibilangin!”

Coba katakan, “Abang ngak dengar apa yang ibu bilang. Coba bisikin apa yang ibu bilang tadi.” Meminta anak untuk mengulangi apa yang Anda katakan dapat mempertegas perkataan Anda. Untuk membuatnya menyenangkan, minta anak mengulang dengan variasi volume yang berbeda.

8. Daripada berkata, “Berhenti dulu bila lelah! Jangan marah-marah!”

Coba katakan, “ini terlalu berat ya? Ayo istirahat dan coba lagi dalam 17 menit.” Ini mungkin terdengar aneh, tapi berdasarkan penelitian tentang produktivitas, orang sebaiknya kerja selama 52 menit lalu istirahat selama 17 menit. Dengan beristirahat singkat di sela pekerjaan dengan tingkat stres tinggi, Anda dapat kembali dengan lebih fokus. Konsep ini berlaku juga untuk anak saat mengerjakan PR, belajar musik, atau olahraga.

9. Daripada berteriak, “Masuk kamar sekarang!”

Lebih baik katakan, “Ibu temenin Abang di sini sampai Abang tenang ya.” Teknik isolasi kadang tidak baik, karena bisa memberikan pesan bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri anak. Sebaiknya, berikan ruang sampai anak siap untuk kembali terlibat, dan pastikan Anda akan selalu ada untuknya.

10. Daripada berkata, “Abang bikin malu!”

Coba katakan, “Ayo kita ke tempat yang tenang supaya masalahnya bisa selesai.” Ingat, ini bukan tentang Anda. Ini tentang anak Anda dan perasaannya. Dengan menyingkir bersama dari situasi yang menjadi persoalan, Anda memperkuat upaya bersama tanpa menyorot pada perilaku anak.

11. Daripada Anda menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala,

Cobalah untuk melihat mata anak, ingat kelebihan/kebaikannya, dan berikan senyuman tulus padanya. Latih diri Anda untuk melakukan ini dengan perspektif melihat kelebihan/kebaikan anak, meski di saat anak sedang mengecewakan Anda.

12. Daripada berkata, “Berhenti teriak-teriak!”

Coba katakan, “Ibu mau pura-pura tiup lilin ulangtahun. Yuk coba bareng!” Bernapas dalam-dalam membantu mengembalikan tubuh ke keadaan tenang. Dengan melakukannya bersama-sama juga menambahkan unsur bermain. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa mencoba mengajaknya bernapas seperti Darth Vader bersama Anda.

13. Daripada berteriak, “Ibu sudah tidak mau ngomong lagi!”

Coba katakan, “Ibu sayang Abang. Ibu mau Abang ngerti bahwa hal itu tidak baik.” Cara ini membuat jalur komunikasi tetap terbuka sekaligus mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat.

14. Daripada mengatakan, “Ibu ngak akan ganti ini!”

Coba katakan, “Maaf kalau Abang ngga suka yang ini. Apa yang bisa kita lakukan supaya lebih baik lain kali?” Cara ini akan menggeser fokus permasalahan menjadi topik lain.

15. Daripada berteriak, “Sudah! Berhenti!”

Coba katakan, “Ibu di sini, Sayang. Abang tenang ya.”(Lalu ajak anak duduk tenang, biarkan ia menangis, peluk sampai emosinya mereda)

Ketika anak-anak dalam keadangan sangat marah atau panik, seringkali tubuh mereka tidak dapat menahan stres di mana mereka benar-benar merasa tidak aman. Menemani dan membuat mereka merasa aman akan mendukung anak mengasah ketrampilan penting dari ketahanan emosi.

Rencanakan Tabungan Pendidikan Anak

Rencanakan Tabungan Pendidikan Anak

Begitu si kecil lahir, sebagian orang tua terfokus menabung untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak, kadang lupa menyisihkan uang untuk pendidikannya kelak. Wajar, karena si kecil masih lama waktu untuk masuk sekolah, masih beberapa tahun ke depan. Kita kadang lupa biaya pendidikan tidak murah. Maka tidak ada kata terlalu dini untuk menyiapkan dana pendidikan bagi si kecil, memulai menabung di hari pertama si kecil lahir. Idealnya, kita menyisihkan 10 persen dari pendapatan untuk tabungan pendidikan anak.

Menurut Nikmatullah Zuhri & Rahmatullah Akbar dalam bukunya yang berjudul Ibu, Menteri Keuangan Keluarga, ada beberapa jenis simpanan yang bisa dimanfaatkan untuk tabungan pendidikan anak kelak. Ini di antaranya:

Tabungan biasa di bank

Tabungan jenis ini adalah yang paling sering dipilih oleh orang tua untuk anaknya sebab prosesnya cepat dan pengelolaannya mudah. Namun sayangnya bunga yang diberikan bank tidak banyak sehingga tidak dapat membendung laju inflasi pendidikan setiap tahunnya.

Tabungan pendidikan anak

Jenis simpanan yang satu ini pada dasarnya hampir sama dengan tabungan biasa. Yang membedakan adalah biasanya tabungan pendidikan menawarkan perlindungan asuransi kepada sang pencari nafkah. Jika terjadi sesuatu pada orang tua sehingga tak dapat mencari nafkah lagi, maka biaya pendidikan anak tetap aman dan terjamin.

Asuransi pendidikan

Pada dasarnya asuransi pendidikan dan tabungan pendidikan adalah hal yang sama. Bedanya adalah asuransi diterbitkan oleh perusahaan asuransi, sedangkan tabungan pendidikan diterbitkan oleh bank. Asuransi pendidikan akan memberikan dana setiap anak memasuki jenjang baru sekolah. Kekurangannya adalah proses memiliki asuransi pendidikan lebih berbelit dibanding tabungan pendidikan. Simpanan jenis ini juga tidak bisa dicairkan setiap saat.

Deposito

Seperti yang kita ketahui, deposito adalah sama saja dengan menabung di bank namun dengan bunga yang lebih besar. Dana pendidikan yang Anda simpankan di sini tidak dapat diambil sewaktu-waktu karena terkunci dalam jangka waktu tertentu. Positifnya, uang pendidikan ini bisa terhindar dari godaan untuk penarikan dana untuk hal yang tidak perlu. Namun yang memberatkan adalah Anda baru bisa membuka jenis tabungan seperti ini jika mempunyai dana di atas satu juta rupiah. Maka deposito ini hanya cocok untuk Anda yang mempunyai banyak uang dan ingin menabung dalam jumlah besar sekaligus.

Investasi emas

Investasi yang satu ini terbilang stabil dan aman. Apalagi Pegadaian telah membuat program tabungan emas yang membuat Anda dapat menabung dari jumlah yang sangat minim (sekitar Rp5000, mengikuti standar harga emas per 0,1 gram). Sayangnya justru karena investasi ini termasuk stabil, maka keuntungan yang dapat Anda raup dari tabungan yang satu ini tidak besar.

Investasi reksadana

Uang yang Anda berikan untuk investasi yang satu ini akan dikelola oleh perusahaan manajemen investasi. Reksadana juga dapat digunakan untuk untuk mengatasi inflasi pendidikan yang tinggi, serta dapat dibeli dan dicairkan kapan saja. Yang mungkin perlu Anda pertimbangkan adalah investasi rekasadana yang Anda pilih memiliki risiko dan hasil investasi yang berbeda-beda. 

Investasi properti atau tanah

Properti atau tanah adalah investasi yang paling bisa menghasilkan keuntungan besar sehingga ini sangat cocok untuk investasi di atas 2 tahun. Namun ketika anak sudah memasuki usia sekolah, Anda harus segera menjualnya jauh-jauh hari sebab properti dan tanah adalah benda mahal yang tidak bisa langsung laku dalam satu atau dua hari. Proses menjualnya juga berbelit. Investasi jenis ini bisa Anda pilih untuk biaya pendidikan anak kuliah nanti.

Tips Mendidik Anak Modern

Tips Mendidik Anak Modern

Salah satu faktor penentu kesuksesan seorang anak di masa depan adalah cara mendidik anak sesuai zamannya. Ada banyak sekali cara mendidik anak yang bisa ditiru para orang tua jaman sekarang, apa sajakah itu?

Membiasakan Anak Mengenal Lingkungan Luar

Tips modern parenting pertama yang harus diterapkan orang tua adalah dengan membiasakan mereka mengenal lingkungan sekitarnya. Salah satu caranya adalah dengan sering-sering mengajaknya keluar rumah. Tidak perlu yang mahal atau jauh dari rumah, di kompleks sekitar rumah juga tak masalah.

Selain berdampak positif untuk tumbuh kembangnya (karena paparan sinar matahari pagi dan udara segar), hal ini juga akan memperbaiki kemampuan sosialisasi anak sehingga ia akan mudah menyesuaikan diri saat beranjak dewasa.

Jangan Bebani Anak dengan Kegiatan Tambahan

Orang tua mana pun tentu ingin memiliki anak yang sukses dan berprestasi di sekolah. Oleh karena itu, banyak sekali yang mendaftarkan anaknya untuk ikut pelajaran tambahan yang sebetulnya tidak dibutuhkan, bahkan hanya akan menambah beban sang anak.

Padahal, tahukah Anda kalau kegiatan yang super padat hanya akan memicu stres pada anak? Untuk itu, usahakan jangan terlalu memaksakan kehendak pribadi anda kepada mereka. Dunia anak adalah bermain. Belajar tentu kegiatan yang sangat penting untuk mereka, tapi mengorbankan waktu bermain anak bukanlah keputusan yang terbaik.

Jangan Takut Kotor

Metode modern parenting ketiga inilah yang dalam beberapa tahun sedang gencar dikampanyekan banyak orang tua dan lembaga pendidikan. Jika zaman dulu banyak ibu melarang anaknya bermain kotor-kotoran, sekarang justru sebaliknya.

Biasakan anak anda untuk lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berkotor-kotoran, entah main lumpur atau mandi hujan. Selain bagus untuk sistem imunitasnya, kegiatan ini juga akan membuat anak belajar bersenang-senang dari hal-hal kecil di sekitarnya.

Sekali Waktu Abaikan Tradisi

Banyak sekali metode parenting konvensional  justru kurang tepat diterapkan di zaman sekarang ini. Sekali waktu, abaikan tradisi atau “budaya” mengasuh anak yang dianjurkan orang lain dan mulailah menemukan cara mendidik anak yang  menurut Anda paling tepat untuk anak anda. Kenapa begitu? Karena orang tua lah yang paling mengerti tentang sang anak.

Tidak perlu khawatir dengan hal-hal pamali yang banyak dikatakan orang lain. Percayalah, selama Anda yakin tindakan yang dilakukan itu baik untuk anak anda, lakukan saja.

Berilah Pujian

Siapa pun pasti sangat senang jika diberikan apresiasi/ pujian, apalagi anak-anak. Pujian adalah sikap apresiasi kita terhadap tindakan atau sikap mereka yang baik. Dibanding terlalu banyak mengkritik kesalahan mereka, biasakan memberi pujian untuk anak. Hal ini dapat menyebabkan mereka untuk mengulang sikap/ tindakan baik yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Tidak perlu menunggu prestasi yang wow, sebab Anda bisa memanfaatkan momen apa pun untuk memuji mereka, misalnya ketika mereka berhasil mengikat tali sepatunya sendiri. Sebisa mungkin hindari memberikan pujian yang menyangkut fisik seperti, “Adik cantik/ganteng sekali”. Sebagai alternatif, Anda bisa memakai kalimat semacam, “Terima kasih. Adik memang pintar.”

Berani Mengambil Risiko

Kebiasaan protektif alias serba melarang yang dilakukan orang tua ternyata berdampak buruk pada masa depan anak, lho. Hal tersebut akan membuat anak takut mengambil risiko dan enggan keluar dari zona nyaman yang justru akan berdampak buruk pada kehidupannya saat ia beranjak dewasa. Biasakan anak untuk belajar menempuh risiko sejak dini agar terbiasa saat sudah dewasa kelak.

Jangan Lupa Vitamin

Selain keenam tips di atas, jangan lupa juga imbangi kebutuhan anak dengan memberinya asupan, vitamin anak, atau dan suplemen bergizi lain untuk memperbaiki nafsu makannya, membantu perkembangan otak, serta meningkatkan sistem imun tubuh. Saat anak kecil, pasti ada waktu dimana dia susah makan, gamau makan sayur, dan lain-lain. Suplementasi vitamin sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya setiap hari.

Dampak Buruk  Balita Nonton Film Horor

Dampak Buruk Balita Nonton Film Horor

Ternyata adajuga balita yang suka menonton film horor. Menurut pakar psikoanalisis, fenomena balita suka menonton film horor sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kesukaan sebagian orang pada sensasi menegangkan saat naik roller coaster atau bungee jumping. Meski masih bisa dibilang normal, kebiasaan balita menonton adegan menyeramkan tetap harus dibatasi dan diawasi.

Mengingat pola pikir dan kepribadiannya masih dalam tahap perkembangan awal, ada beberapa akibat balita menonton film horor yang tidak boleh disepelekan oleh orang tua. Apa saja, ya?

Gangguan Kecemasan

Walau tidak pernah terlihat ketakutan atau diganggu mimpi buruk, bukan berarti Si Kecil tidak dihinggapi rasa takut dan cemas lho. Hasil studi yang dilansir oleh jurnal Media Psychology mengungkap bahwa balita yang suka menonton film horor ternyata sering dihinggapi rasa takut kehilangan kendali, takut mati, dan perasaan seolah hidup di dunia lain.

Selain karena masih kesulitan membedakan antara fiksi dan kenyataan, hal ini juga disebabkan karena balita belum memiliki cukup pengalaman hidup untuk memahami dunia dalam film horor.

Gangguan Tidur

Kita biasanya jadi mudah merasa takut setelah menonton film horror. Bayangan benda atau hembusan angin dari jendela saja bisa membuat kita kesulitan memejamkan mata. Hal yang sama juga bisa dirasakan oleh balita yang suka menonton film horor, sehingga dia jadi sulit terlelap dan tidurnya tidak berkualitas dalam jangka panjang.

Padahal kurang tidur di usia balita dapat menimbulkan berbagai efek negatif, seperti mood swing, mudah stres, kesulitan belajar, resiko depresi, serta berbagai masalah kesehatan lainnya di masa depan.

Kecenderungan Sikap Agresif

Banyak hasil penelitian menunjukkan kalau terjadi peningkatan perilaku agresif sebagai akibat balita suka menonton film horor. Itulah kenapa Association for Youth, Children, and Natural Psychology menganjurkan orang tua untuk mendampingi dan memberikan pengertian akan konsekuensi dari perilaku agresif yang sering muncul dalam film horor.

Gangguan Empati

Yang tak disangka, kecenderungan sikap welas asih dan empati balita ternyata bisa terkikis bila terlalu sering menonton film horor. Menurut Dr. Brad Brushman dari University of Ohio, Moms perlu segera melakukan intervensi bila balita mulai tertawa ketika ada orang yang ketakutan atau malah cuek saat melihat orang mengalami kesulitan.

Film horor memang sebaiknya tidak ditonton oleh anak berusia di bawah 10 tahun, karena kapasitas mental dan kemampuan kognitifnya belum mencukupi. Itulah kenapa orang tua tetap perlu memegang kendali atas tayangan dan hiburan buah hatinya.

Cara Berkomunikasi dengan Anak

Cara Berkomunikasi dengan Anak

Beberapa orang tua baik secara sadar maupun tidak, memperlakukan anak harus menjalankan semua perintah yang ia terima. Padahal, anak memiliki perasaan, keinginan, dan tindakan. Karena itu, cara berkomunikasi yang baik dengan anak harus selalu dijalin. Cara berkomunikasi yang baik tidak harus verbal, tapi bisa juga nonverbal.

Biasakan hal-hal berikut:

Selalu gunakan kata-kata positif yang membangun saat berkomunikasi dengan anak. Misalnya, “Mama yakin kamu pasti bisa lebih rajin”, bukan “Kamu malas sekali, sih!” Kata-kata positif juga harus disampaikan dengan intonasi dan bahasa tubuh yang tepat agar anak bisa menangkap bahwa hal tersebut positif.

Hargai dan puji setiap usaha anak. Cara ini efektif meningkatkan rasa percaya dirinya. Tunjukkan rasa kasih sayang lewat tindakan Anda. Misalnya, mengelus, mendekap, atau menatap anak saat berbicara. Kompaklah dengan suami dalam memperlakukan anak. Jangan sampai Anda melarang anak melakukan sesuatu, tapi sang suami malah memperbolehkannya.

Jangan gengsi mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak Jadilah contoh yang baik untuk anak. Misalnya, jika kita membatasi anak menonton TV, maka kita harus melakukan hal yang sama

Hindari:

Menyusun kalimat afirmatif yang mengandung kata ‘tidak’, ‘jangan’, ‘tanpa’, dan kata negasi lainnya. Sebab, alam bawah sadar hanya dapat memahami kata-kata dasar. Jika Anda mengatakan “Jangan nakal, ya!”, alam bawah sadar hanya akan merekam kata ‘nakal’. Karena itu, ubahlah menjadi kalimat yang lebih positif seperti “Adik jadi anak baik, ya.”

Membiarkan anak tertidur di depan TV atau media audio/visual lain dalam kondisi menyala, terutama jika media tersebut memiliki efek negatif. Saat mengantuk, anak memasuki gelombang alpha dan saat terlelap gelombang otaknya berada di kondisi theta. Pada kedua kondisi ini, informasi dari luar dapat terprogram dalam alam bawah sadar anak, seperti pada hypnoparenting

Bertengkar atau saling melontarkan kalimat negatif di depan anak. Hal ini bisa tertanam di alam bawah sadar anak dan bisa berdampak buruk pada kesehatannya. Melakukan kekerasan terhadap anak. Hal ini juga akan dengan mudah terekam di alam bawah sadarnya.

 Manfaat cara berkomunikasi yang baik dengan anak:

Membantu orang tua lebih memahami kepribadian anak

Meningkatkan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ) anak

Meningkatkan kualitas komunikasi verbal dan nonverbal antara anak dan orang tua

Membimbing orang tua lebih bijaksana dan peka dalam mendidik anak

Mengarahkan orang tua agar selalu menjadi pribadi positif