Supaya Anak Tidak Lagi-Lagi Mengompol

Saat anak kita masih bayi, kebiasaan mengompol pada anak masih dianggap normal. Namun apabila anak di atas usia 6 tahun masih mengompol, tentunya kita sebagai orang tua akan merasa resah dengan situasi seperti ini.

Apalagi jika si anak sebenarnya juga anak yang baik-baik saja dan penurut. Kebiasaan mengompol tanpa disadari  menjadikan anak kurang percaya diri di depan teman-temannya.

Hal ini dialami ibu Nia yang sering mengeluh, karena anak pertamanya yang duduk di kelas 6 SD  masih mengompol. Sebagai orang tua, saya juga pernah mengalami hal semacam. Anak saya yang duduk di SD kelas V mengompol. Namun alhamdulillah sejak kenaikan kelas VI, anak saya sampai sekarang tidak pernah mengompol lagi. Saya ingin berbagi kiat mengatasi kebiasaan mengompol pada anak yang berusia 6 tahun.

Pertama, orang tua harus selalu berkomunikasi dengan anak tentang apa yang ia rasakan setiap harinya, baik di rumah maupun di sekolah. Beberapa anak mengompol ternyata mengalami gangguan psikologis seperti rasa takut, khawatir, atau tidak nyaman di lingkungan sekolah atau rumahnya. Sebagian lainnya, mengalami rasa tidak bahagia karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang-tuanya. Atau faktor kelelahan dengan padatnya aktifitas sehari-hari yang juga bisa menyebabkan anak mengompol.

Kedua, jangan memberikan hukuman pada anak saat ia belum berhasil mengatasi kebiasaan mengompolnya. Berilah selalu semangat dan dorongan kepada anak, yakinkan kepada anak bahwa kebiasaan mengompolnya akan hilang jika kita mau bersungguh-sungguh mengubahnya, karena menghukum anak saat mengompol hanya akan meninggalkan trauma pada diri anak dan berakibat anak menjadi kurang percaya diri dalam bergaul.

Ketiga, ajak anak untuk membiasakan diri membuang air kecil sebelum tidur dan mengurangi minum berlebihan saat hendak tidur, karena pada beberapa anak, volume kemih yang diproduksi pada malam hari cukup banyak, sehingga kandung kemihnya penuh.

Keempat, orang tua harus memahami waktu anak biasa mengompol. Pada jam-jam tersebut disetel dering arloji pengingat, agar anak bisa bangun untuk membuang air kecil, sebelum kebiasaan waktu mengompol datang. Dengan metode dering arloji pengingat, biasanya akan terlihat hasilnya setelah alat digunakan selama dua pekan atau beberapa bulan.

Kelima, ciptakan suasana relaks pada anak sebelum tidur. Orang tua bisa memijat ringan dan lembut pada tubuh anak, agar urat-urat syaraf dan tubuhnya bisa relaks dan sentuhan orang tua dapat memberikan suasana nyaman pada anak. Membacakan dongeng anak sebelum tidur juga bisa membawa suasana yang relaks untuk anak.

Keenam, ajak anak untuk selalu berdoa dan berikrar dengan meyakinkan pada diri anak bahwa dia bisa menghentikan kebiasaan mengompol.

Ketujuh, apabila dalam waktu yang sudah cukup lama anak berhasil menghilangkan kebiasaan mengompolnya, berilah anak hadiah atas hasil dari usaha keras yang sungguh-sungguh ia jalankan.

About Author

Related posts

Umur Berapa Anak Boleh Puasa?

Puasa merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang sudah baligh atau sudah melewati masa puber. Namun, banyak keluarga yang sudah menerapkan puasa untuk anaknya dari usia dini, dari menerapkan puasa setengah hari sampai puasa satu hari penuh. Hal ini dilakukan untuk membiasakan anak berpuasa di bulan Ramadan sehingga nanti jika...

Read More

Oh Tidak, Orangtua Terlanjur Memukul Anak

Kerap terjadi konflik antara orang tua dengan anaknya yang sudah remaja. Alasannya bisa bermacam-macam, entah itu beda pendapat, anak membantah perintah orang tua, anak pulang malam, atau sebab-sebab lainnya. Dalam situasi konflik yang agak panas, tak jarang orang tua lepas kontrol sehingga terjadi pemukulan secara fisik. Psikolog Klinis Remaja,...

Read More

Buah Hati Anda Grogi Sebelum Ujian di Sekolah?

Jika memiliki anak yang sedang bersekolah, tentu ujian jadi hal yang sangat penting bagi si anak. Nah, ujian ini sedikit banyak akan menimbulkan rasa cemas pada si kecil. Bahkan tak sedikit yang sampai stres dan ketakutan memikirkan ujian ini. Ujian menjadi hal yang sangat penting di jaman kompetisi seperti...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: