Bagaimana Jika Anak Suka Mengadu?

”Papa.. Papa! Mama! Henri nakal,” lapor Beni sambil menangis. ”Kamu diapain?” tanya mama Beni. ”Dicubit, Ma,” lapor Zidan sambal terisak-isak. Mama Beni pun emosi dan berkata, ”Kenapa tidak kau balas? Kau kan laki-laki. Tonjok saja kepalanya biar tahu rasa dia!”

Sementara Henri pun berkata pada bundanya bahwa Beni juga nakal. Dua anak itu saling melaporkan pada orangtuanya. Pada akhirnya orangtua mereka saling bertemu dana du mulut. Persoalan itu pun akhirnya makin rumit.

Itu adalah contoh kejadian nyata. Barangkali kasus semacam itu juga terjadi di sekitar Anda. Persoalan anak-anak yang menjadikan orangtua ikut terlibat. Tak sedikit yang memicu keretakan hubungan antar tetangga. Padahal sesaat setelah peristiwa pertengkaran itu, anak mereka berdamai dan beteman lagi.

Sementara orangtua masih menyimpan emosinya. Bahkan sampai melarang anaknya bergaul atau berteman tanpa berdasar. Cobalah amati, ketika ada seorang ibu yang berbisik, ”Awas, ibu ingatkan! Kamu tidak boleh bermain sama Anto! Dia itu anak nakal, anak jahat, dan pemalas.” Ketika si anak menanyakan buktinya, sang ibu hanya bilang, ”Nggak  usah banyak tanya! Pokoknya nggak boleh main sama dia.”

Memang, menasihati anak merupakan kewajiban dan bukti rasa sayang orangtua. Sebagai bentuk memberikan perlindungan terhadap anaknya dari sikap negatif maupun bahaya lainnya. Tetapi bila cara ini yang digunakan, secara tidak langsung orangtua tengah memberikan pendidikan diskriminasi.

Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua? Bagaimana pula cara menyikapinya ketika anak mengadukan teman mainnya?

  1. Hindari bersikap berlebihan terhadap apa saja yang diadukan anak. Janganlah sampai marah-marah yang mengesankan membela sehingga si anak akan semakin manja. Apalagi jika sampai bertindak melakukan pembelaan dengan cara membalas anak yang diadukan itu. Bersikaplah tenang, tetap dengarkan semua aduan itu sehingga mereka merasa diperhatikan.
  2. Ceritakan betapa pentingnya seorang teman. Sehingga anak-anak tumbuh menjadi seorang yang memiliki kebutuhan terhadap teman. Berikanlah pernyataan-pernyataan tentang makna seorang teman dan makna berteman. Misalnya, sahabat sejati adalah mereka yang memahami kita di saat duka maupun gembira, persahabatan bagai kepompong, atau pernyataan lain tentang makna persahabatan. Ketika anak tidak memahami makna pernyataan-pernyataan tersebut, anak akan tertarik untuk bertanya. Itulah waktu terbaik untuk menjelaskan dengan bahasa yang sederhana agar anak dapat memahami makna pernyataan tentang persahabatan. Berikan pula contoh-contoh dalam kehidupan kita sehari-hari.
  3. Ceritakanlah kebaikan teman mereka. Agar anak kita dapat berteman dan bersosialisasi dengan orang lain maka jangan  membiasakan menceritakan tentang keburukan dan kenakalan temannya. Menceritakan kejelekan teman lain dapat membangun ketidaksenangan dan kebencian kepada teman. Hal ini akan memiliki dampak yang tidak baik dalam pembentukan karakter anak.
  4. Ajari anak berteman dengan siapa pun. Tidak memilih-milih yang mengesankan ketidakadilan. Memang perlu hati-hati dalam berteman, tapi jangan sampai bersikap berlebihan. Biarkan mereka mengetahui hal yang baik dan tidak baik dengan sendirinya. Karena pengalaman anak akan berdampak lebih baik dibandingkan dengan pemberitahuan orang tua.
  5. Ceritakan dongeng tentang kisah persahabatan. Bisa kita ceritakan langsung atau beri buku cerita. Buku cerita yang bertema persahabatan umumnya menampilkan kesalahpahaman, kecurigaan,  yang akan berakhir dengan kesadaran untuk saling bersahabat. Nah, dengan banyak menceritakan tema persahabatan diharapkan anak memahami makna bersahabat.
  6. Ajari anak tentang perbedaan. Tuhan menciptakan manusia dengan  segala perbedaan. Berikan kepada mereka konsep kesamaan hak hidup. Yang pasti mereka perlu kita bekali diri untuk bisa mencegah terhadap hal yang negatif tanpa harus menyalahkan teman lain.

Jika kita ajari dengan konsep-konsep di atas, anak-anak akan memiliki kesetaraan dengan orang lain, tidak menjadi sombong, dan merasa lebih hebat dari orang lain. Dengan begitu mereka akan diterima dalam bersosialisasi dan berteman dengan siapa saja.

About Author

Related posts

Melatih Anak Berani Berangkat Sekolah Sendiri

Memilih sekolah anak yang dekat dari rumah memiliki banyak keuntungan. Kita tidak perlu tergesa-gesa lebih pagi untuk menghindari kemacetan di jalan demi mengantarkan anak pergi ke sekolah agar tidak terlambat. Kita juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk biaya transportasi. Nah, Ketika anak sudah mulai terbiasa, kita bisa...

Read More

Cara Terbaik Mengajarkan Anak Membaca

Membaca tidak hanya memperkaya wawasan dan pengetahuan, membaca juga mengasah imajinasi dan melatih berempati. Banyak penelitian melaporkan bahwa hobi membaca dapat membuat hidup kita jadi lebih bahagia. Nah, agar gemar membaca kebiasaan membaca bisa mulai ditanamkan sejak kecil. Bagaimana cara mengajarkan anak mulai belajar membaca? 1. Pastikan sudah mengenal...

Read More

Kapan Anak Siap Ditinggal Sendiri di Rumah?

Urusan pekerjaan kadang membuat orangtua harus meninggalkan anaknya di rumah, masalahnya jika tidak ada pengasuh atau anggota keluarga lain yang bisa menjaganya, anak pun tinggal seorang diri di rumah. Memikirkan anak sendirian dalam waktu lama tentu membuat orangtua cemas dan khawatir. Nah, apa saja yang perlu dipertimbangkan jika harus...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: