Mengasuh Anak Ala Masyarakat Jepang

Setiap daerah mungkin memiliki pola pengasuhan anak yang bervariasi. Salah satunya adalah Jepang, Negeri sakura ini memang terkenal dengan orang-orangnya yang pekerja keras dan disiplin.  Penasaran dengan pola pengasuhan anak masyarakat Jepang yang bisa melahirkan orang-orang yang tangguh dan disiplin? Ingin tahu bagaimana pola asuh mereka ketika masih kecil? Kali ini kita akan berbagi pola pengasuhan anak masyarakat Jepang, silakan diambil positifnya. Semoga dapat dijadikan bahan referensi.

Usia 2 tahun

Pada usia 2 tahun anak-anak diharapkan sudah bisa makan sendiri. Untuk membantu hal ini, ibu-ibu di Jepang sangat kreatif. Mereka berusaha menyiapkan makanan yang mudah dimakan sendiri oleh anak (tidak disuapi), misal nasi dibentuk bola-bola kecil sehingga anak mudah mengambilnya menggunakan sendok, sumpit atau tangan. Potongan Sayur dan lauk dibuat kecil-kecil sesuai ukuran mulut anak sehingga anak tidak kesulitan memotongnya.

Selanjutnya adalah menggunakan alat-alat makan yang lucu untuk menarik minat anak. Dengan alat makan yang lucu dan mudah digunakan oleh anak diharapkan akan meningkatkan minat anak untuk makan sendiri.

 Usia 3-4 tahun

Pada usia 3-4 tahun anak-anak diharapkan sudah bisa mandi dan merapikan barang-barang pribadinya. Di Jepang, usia 3 tahun biasanya mulai masuk TK (Yochien) atau ada orang tua yang menitipkan anaknya di daycare (hoikuen). Di hoikuen semua hal dilakukan bersama-sama dari makan, tidur siang, dan mandi (saat musim panas). Saat mandi pengelompokan dipisah berdasarkan jenis kelamin, jadi tidak dicampur.

Setelah makan, anak-anak diajarkan merapikan sendiri alat makannya, menaruhnya di bak cuci piring. Ketika tidur siang, masing-masing anak menggelar sendiri alas tidurnya. Ketika bangun dari tidur siang,anak-anak akan langsung merapikan sendiri alas tidurnya.

Ketika musim panas, suhu di Jepang bisa mencapai 40 derajat Celsius. Maka sebelum tidur siang ada aktifitas mandi. Guru pembimbing hanya mencontohkan satu atau dua kali, selanjutnya anak-anak diharapkan sudah bisa mandi sendiri. Setelah itu anak-anak akan memakai bajunya sendiri.

Usia 6 tahun

Di usia 6 tahun ini, anak-anak sudah akan mencuci piringnya sendiri ketika selesai makan dan sudah bisa pulang dan pergi ke sekolah sendiri. Yang menentukan anak-anak akan sekolah di Sekolah Dasar tertentu adalah kantor kelurahan. Sebab kantor kelurahan akan mencarikan sekolah yang paling dekat dengan rumah si anak. Standar Sekolah Dasar di jepang semuanya memiliki kualitas yang sama, sehingga orang tua tidak perlu pusing-pusing memilih sekolah favorit atau sekolah terbaik.

Biasanya sekolah memiliki peraturan dalam hal berangkat dan pulang sekolah seperti, tidak boleh di antar menggunakan mobil ke sekolah. Hal ini bertujuan agar anak menjadi mandiri dan membaur dengan teman-temannya. Sebab anak-anak ini akan berangkat dan pulang sekolah bersama teman-teman kelompoknya yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah.

Aktifitas berjalan ke sekolah ini juga menjadi salah satu pendidikan yang menetukan karakter orang Jepang agar tidak manja dan suka berjalan kaki karena sudah dibiasakan sedari kecil. Untuk menunjang keamanan anak-anak berangkat dan pulang sekolah sendiri anak-anak dibekali peluit (yang akan ditiup jika ada bahaya), tas dengan warna yang mencolok sehingga terlihat oleh pengguna kendaraan, dan telepon genggam yang hanya bisa digunakan untuk menelepon orang tua atau guru.

Di musim hujan pun, anak-anak tetap harus berjalan kaki ke sekolah menggunakan payung dan sepatu boots. Demikian juga ketika musim dingin datang. Padahal suhu sangat rendah ketika turun salju.

Demikian sekilas informasi mengenai cara pengasuhan anak masyarakat di Jepang. Semoga bisa diambil manfaat positifnya.

About Author

Related posts

Dampak Buruk Memanjakan Anak dengan Mainan

Sebagai orangtua, kita ingin anak selalu bahagia, bukan berarti caranya harus selalu dengan memberikan mainan berlebih. Sebab, memanjakan anak dengan mainan bisa berdampak buruk dan mengganggu beberapa aspek dalam tumbuh kembangnya. Dilansir dari euphonymag.com, ada empat dampak buruk yang bisa terjadi bila anak memiliki terlalu banyak mainan. 1. Daya...

Read More

Mendidik Tanpa Membuat Anak Stres

Mendidik anak agar selalu bahagia tidak harus memberinya kemewahan dan bantuan-bantuan. Malah kalau terlalu memanjakannya, anak akan sulit tumbuh menjadi pribadi yang mandiri di masa depan. Memberikan masa kecil yang bahagia sangat penting agar anak nanti bisa tumbuh jadi orang sukses dan tidak gampang stres. Sebagai orangtua, kita bisa...

Read More

Kesuksesan Anak Dimulai Dari Rumah

Orangtua tentu akan bangga bila anak-anak nya berhasil meraih prestasi. Kesuksesan anak bisa dimulai dari kebiasaan anak di rumah. Karena itu orang tua paling tidak bisa memilih tempat tinggal dan lingkungan yang baik, sekolah yang tepat, dan kesempatan anak untuk berkembang dalam populasi yang ramah. Sebagai orangtua, Anda harus...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: