Orangtua Wajib Pahami Kondisi Psikologis Anak (Bag I)

Perkembangan dan karakter setiap anak tentu berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan begitu saja. Seringkali anak memperlihatkan perilaku unik dan berbeda dari anak lain.  

Mungkin Mama sebagai orangtua seringkali merasakan kalau anak-anak di rumah lebih mudah menangis, tidak bisa diam, sering berbicara, terlalu aktif atau menggigit barang tertentu. Kondisi inilah yang mudah sekali seseorang melabeli anak memiliki karakter nakal.

Sebelum melabeli anak sebagai pribadi yang anak dan sulit sekali diatur, Mama sebagai orangtua perlu mengetahui beberapa kondisi psikologis sebagai pemicunya.

Untuk mengetahui lebih detail sekaligus merubah cara pandang Mama terhadap si Kecil, mari pahami penjelasan Psikolog Alexandra Gabriella A., M.Psi, C.Ht.

Penasaran apa saja pemicu si Kecil seolah terlihat sebagai pribadi yang nakal? Disimak yuk, Ma!

  1. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Ma, sudah tahu mengenai kondisi anak yang mengalami Attention Deficit Hyperactivy Disorder (ADHD) belum nih? Kondisi perilaku anak yang terlihat sangat hiperaktif, impulsif hingga mengalami kesulitan untuk fokus seringkali membuat anak-anak dilabeli sebagai seseorang nakal atau sulit diatur.

“Kondisi anak-anak yang mengalami ADHD seringkali ditandai dengan adanya ciri tidak bisa diam dan tidak dapat fokus hampir di semua aspek. Namun, untuk beberapa kondisi si Kecil dengan ADHD masih bisa fokus seperti saat sedang menonton, menyusun puzzle atau bermain,” ucap Alexandra Gabriella.

Untuk mengetahui si Kecil memiliki perilaku ADHD atau tidak, Mama perlu mengetahui ciri-cirinya seperti:

  • Tidak kenal rasa lelah karena selalu bergerak dan beraktivitas. 
  • Terlalu banyak bergerak, sehingga sulit sekali untuk berkonstrasi.
  • Terlihat tidak mendengarkan instruksi atau kurang memperhatikan.
  • Cenderung lebih sering melamun dan mengantuk daripada anak yang lain.
  • Cenderung perhatiannya mudah sekali teralihkan dan cukup sensitif terhadap gangguan di sekitarnya.

Selain itu, Mama perlu mengetahui beberapa tipe-tipe ADHD karena ada ciri khas tersendiri seperti: 

  • ADHD dengan tipe hiperaktif memiliki gejala  yang terlalu banyak bergerak, tidak mudah kenal lelah dan lebih menonjol dari yang lain.
  • ADHD dengan tipe impulsif memiliki gejala sering ketinggalan barang, selalu ingin bergerak-gerak kecil, sehingga saat duduk dirinya seolah tidak bisa diam.  
  • ADHD dengan tipe inattentive memiliki gejala yang sering sekali gagal fokus. Kondisi ini membuat anak cenderung pasif dengan respon yang lambat dan selalu terlihat sedang melamun.
  • ADHD dengan kombinasi tipe hiperaktif, impulsif dan inattentive memiliki gejala dengan berbagai gangguan. Anak menjadi sulit untuk berkonsentrasi hingga sulit mengendalikan emosi.
  • Autistic Spectrum Disorder (ASD)

“Gangguan ini ditandai dengan perilaku sosial yang pasif, unik dan stereotip. Seringkali dianggap nakal karena terlihat acuh, tidak peduli dengan sekitar, suka berteriak-teriak atau berbicara suatu kata yang tidak bermakna secara berulang-ulang. Tak jarang, dirinya memperlihatkan perilaku seperti sedang marah-marah,” ucap Alexandra Gabriella.

Sebelum melabeli si Kecil sebagai sosok yang nakal, Mama perlu mengetahui beberapa ciri dari gejala ASD seperti:

  • Memiliki kemampuan komunikasi yang terhambat, namun ada beberapa anak dengan gejala ASD memiliki bahasa yang baik. Anak dengan perilaku ASD seringkali ditandai dengan adanya pengucapan kata-kata yang mengulang atau terkesan tidak bermakna. Bahkan beberapa anak terkesan pendiam atau saat cara berbicaranya terkesan terlalu baku.
  • Memiliki kemampuan sosial yang berbeda-beda seperti terkesan sangat pasif atau bahkan sangat aktif, sehingga seringkali dianggap menganggu orang lain.
  • Adanya perilaku repetitif dan obsesif, seperti memiliki kebiasaan yang sudah terjadwal. Si Kecil pun menyukai sesuatu berulang atau terkesan berputar-putar dalam waktu yang sangat lama serta memiliki kegelisahan bahkan marah saat jadwal atau perilaku repetitif mereka terganggu.
  • Memperlihatkan gerakan-gerakan stereotip yang berbeda, tidak bermakna dan berulang-ulang. Contohnya seperti tepuk tangan, mengangkat-angkat tangan atau bahkan gerakan-gerakan aneh yang tidak terlihat pada anak-anak lain.
  • Hiposensitif dan/atau hiposensitif sensorik. Perlu diketahui bahwa mereka bisa menjadi sangat tidak peka terhadap rasa sakit atau justru sangat peka pada suara dan sebuah sentuhan. Hal ini seringkali memicu tantrum karena mereka seolah tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya.

Selain itu, Mama pun perlu mengetahui bahwa tipe-tipe ASD dibagi mulai dari level 1 sampai 3. Perlu Mama ketahui bahwa pembagian level ini difokuskan pada kemandirian anak dan seberapa besar dirinya intensif membutuhkan pengawasan.

Anak-anak dengan perilaku ASD juga memiliki ciri body rocking seperti seringkali menggoyang-goyangkan tubuh untuk menyenangkan diri sendiri.

Bahkan perilaku ini juga dapat menyakitnya seperti tindakan membentur-benturkan kepala atau bagian tubuh, hanya dengan tujuan untuk menyenangkan hati.

About Author

Related posts

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Balita Paling Ogah Melakukan 7 Hal Ini

Saat sudah bisa bicara dan berpikir dengan logis, anak akan lebih menantang. Mereka sudah bisa menolak untuk melakukan sesuatu. Ada masanya dimana para balita selalu mengatakan tidak untuk semua hal. Tenang, itu hal wajar, Ma. Sudah jadi tugas orangtua untuk mengarahkannya agar tidak keluar jalur. Dari seluruh hal yang...

Read More

Melatih Anak Menulis Namanya Sendiri

Mengajari anak menulis merupakan tugas orangtua di rumah. Usia 3 hingga 5 tahun merupakan waktu yang tepat untuk melatih anak menulis, kata pertama yang perlu ia tulis adalah namanya. Sementara menulis memang sebuah proses yang sulit dan melibatkan keterampilan motorik halusnya. Maka jangan heran jika belajar menulis adalah proses...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: