Menerima kekalahan memang terasa tidak mudah.  Terlebih lagi jika harus mengajarkan ilmu ini pada anak. Tapi bisa dimulai jika kita mengetahui bagaimana cara meningkatkan kecerdasan emosional anak.

Resmi jadi orangtua selama 9 tahun ini, sudah tidak terhitung lagi berapa puluhan ribu pelajaran yang bisa saya ambil. Sampai detik ini, prosesnya pun masih berlangsung.

Salah satu pelajaran yang saya masih saya pelajari sampai detik ini adalah bagaimana mengajarkan anak untuk memerima kekalahan. Termasuk bagaimana dirinya bisa mengelola emosinya agar rasa sedih dan kekecewaannya tidak terus berlarut hingga memunculkan rasa frustasi.

Kenapa, sih, melatih anak untuk bisa menerima kekalahan ini sangat penting?

Ya, setidaknya menurut saya, kekalahan dan kemenangan merupakan dua hal yang terus berjalan beriringan dan akan sering dihadapi dalam hidup ini.

Jadi, anak perlu memahami, kalau ada kalanya ia bisa jadi juara, tapi ada saatnya juga dirinya bisa menerima dan lapang dada ketika kalah. Toh, menerima kekalahan bukan sesuatu yang hina.

Setidaknya, momen masa-masa Pemilihan Umum 2019 untuk menentukan Presiden RI dan wakilnya semakin mengingatkan saya bahwa melatih anak untuk bisa keluar dari rasa kecewa karena kalah sangat penting dilakukan.

Miris rasanya saat melihat pemberitaan yang terkait dengan aksi demo yang berujung ricuh yang baru saja terjadi.

Belum lagi kalau membaca pemberitaan atau timeline kerabat atau teman yang pro pada salah satu pihak, kemudian menuliskan kalimat yang menyudutkan bahkan cenderung brutal karena  menggunakan kata-kata kasar untuk menjatuhkan salah satu pihak.

Padahal, gagal dan kalah itu kan hal yang biasa. Merasa sedih, atau kecewa juga sangat wajar, kok. Namun kekecewaan itu tentu saja perlu dilampiaskan dalam cara yang sehat. Tanpa perlu menyalahkan pihak mana pun.

Saya jadi ingat pernah berbincang dengan Anna Surti Ariani selaku psikolog anak dan remaja, ia mengatakan bahwa agar anak bisa mengelola rasa kecewa akibat kekalahnnya, perlu dimulai dengan melatih kececerdasan emosional. Dan ini harus dikembangkan seiring dengan pertumbuhannya.

Apabila pada usia 2 atau 3 tahun anak sering tantrum jika keinginannya tidak terwujud, apakah kondisi ini bisa dibiarkan terus menerus sampai usianya bertambah besar? Tentu saja tidak.

Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan emosional anak?

Sebenarnya ada beberapa cara meningkatkan kecerdasan emosional anak yang bisa dilakukan oleh orangtua.

  • Mengajarkan anak untuk bisa mengenali emosinya sendiri, misalnya saat  anak merasa senang, sedih, kecewa atau  ketika merasa sedang marah.
  • Jangan lupa untuk mengajarkan anak mengelola emosinya, sehingga anak bisa menyesuaikan antara emosi yang disampaikan dengan situasi yang sedang berlangsung
  • Mengajarkan anak untuk bisa memotivasi dirinya sendiri
  • Melatih anak untuk bisa lebih peka dengan perasaan orang lain
  • Jadi pendengar yang baik bagi anak
  • Berikan apresiasi pada anak jika memang anak pantas mendapatkannya
  • Perlihatkan pada anak, kalau kita sebagai orangtua juga memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar.

Psikolog yang kerap saya sapa dengan panggilan Mbak Nina Teguh ini juga mengatakan bahwa pada dasarnya cara meningkatkan kecerdasan emosional anak bisa dimulai sejak dini.

Bahkan, tidak ada kata terlambat untuk melatih kecerdasan emosional anak. Apalagi kecerdasan emosional ini sebenarnya bisa ‘menular’.

“Dekati saya lingkungan atau orang-orang yang memang memiliki kecerdasan emosional yang baik, karena seiring waktu berjalan, kecerdasan emosional kita bisa ikut berubah setara dengan orang terdekat.  Dari sini juga, mengapa orangtua perlu menjadi contoh bagi anak-anaknya,” tegasnya.

Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi contoh yang baik untuk anak-anak? Karena sesungguhnya, bagaimana kita bisa mengajarkan anak untuk bisa makan menggunakan sendok, kalau kita sendiri tidak mau menggunakannya?

Sebagai orangtua, saya tentu saja perlu membantu anak bisa melepaskan rasa kecewanya dengan cara yang tepat. Biar bagaimana pun, anak akan terus bertumbuh dan anak menjadi menjadi individu yang lebih tangguh saat dewasa nanti. Selain itu saya pun perlu melatih anak untuk menghadapi pahitnya hidup.

About Author

Related posts

Kenali Sindrom Klinefelter pada Balita

Mungkin masih terdengar asing di telinga para masyarakat, sindrom Klinefelter pada balita sebenarnya termasuk kondisi genetik yang cukup umum terjadi pada anak laki-laki. Di mana sindrom Klinefelter terdapat lebih sedikit testosteron, sehingga memengaruhi tingkat kesuburan pada sang anak. Sementara ciri khas sindrom ini ialah memiliki tubuh tinggi dan kemampuan...

Read More

Tips Selamatkan Anak dari Polusi Udara di Ibu Kota

Kualitas udara saat ini semakin tercemar. Berdasarkan data AirVisual, per hari Kamis, 23 Agustus 2019, Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak hanya data yang membuktikan, warga Jakarta juga merasakan perubahan yang nyata. Langit yang biasanya berwarna biru kini terasa mendung sepanjang waktu....

Read More

Orangtua Wajib Pahami Psikologis Anak (Bag II)

Sensory Processing Disorder “Saat anak dilabeli sebagai pribadi yang nakal, tak jarang memiliki perilaku sensory processing disorder. Gejalanya mirip dengan ADHD dan ASD, sehingga anak kurang fokus terhadap hal apapun,” kata Alexandra Gabriella. Perlu Mama ketahui bahwa anak dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak...

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: